Manusia tak mungkin bisa memahami kebenaran sejati karena Pemilik Kebenaran adalah Allah dan -tentu saja- yang tahu kebenaran
itu hanyalah Allah. Maka, relativis ("penganut" relativisme) akan selalu menonjolkan sikap bahwa segala sesuatu itu masih relatif. Karena itu, bagi relativis, hal-hal yang sudah jelas sekalipun mereka nilai tetap boleh "diijtihadi" lagi. Tak heran, jika
dengan perspektif itu, mereka lalu mengesankan tentang Islam yang berwarna-warni seperti ada Islam ala "
generasi Sahabat", ala "generasi Tabi’in", serta ala "generasi berikutnya".
Seperti diwakili oleh Boy, relativis merasa tak salah jika berguru tafsir ke nonmuslim dengan berdalil pada sekadar pepatah Arab bahwa "Musuh yang pandai lebih baik daripada teman yang bodoh". Boy alpa, pepatah jelas bukan Alquran atau Hadits dan Arab itu tak identik dengan Islam. Sementara, rujukan utama seorang muslim, yaitu Alquran Surat 4: 144, berseru: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin, teman akrab, pelindung, atau penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?" Islam adalah Islam, yang sama antara satu generasi dan generasi yang lain.
"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (QS 2: 147)." Tapi, jika syariat Tuhan sudah tak dipedulikan dan lebih berpegang kepada bisikan musuh (kata musuh saya biarkan tanpa tanda kutip, sesuai dengan istilah yang dipakai Boy), maka jadilah kita umat yang selalu menggugat ajaran agamanya sendiri.
Sebab, itu sama saja dengan menilai Allah telah menurunkan Kitab yang tidak akan pernah bisa dipahami dengan baik dan benar oleh manusia. Padahal, Alquran itu diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Yang pasti, dengan "performa" seperti itu, relativisme telah menjadi musuh semua agama di dunia karena paham itu menghancurkan keyakinan masing-masing pemeluk agama terhadap agamanya sendiri.
Mereka yang tak berakidah kuat akan menjadi tak yakin akan agamanya, permisif, individualistis, dan -terutama- tak peduli untuk memberantas kemungkaran. Maka, setidaknya, muncul dua fenomena yang bisa dihasilkan oleh relativisme. Pertama, akan ada orang/kelompok yang merasa mendapat justifikasi untuk secara mudah menafsiri ajaran agamanya sekalipun dia tak mempunyai kecakapan yang memadai untuk itu.
Toh, itu urusan yang sangat pribadi. Toh, yang mereka lakukan adalah memanfaatkan hak yang dipunyainya dalam memahami dan menafsiri agamanya. Maka, berhati-hatilah! Sebab, kedua situasi di atas sangat mungkin akan tumbuh subur jika kaum relativis dibiarkan terus "beramal" di sekitar kita. Itulah pendapat saya. Bagaimana Anda? Wallahu a’lam.