Berada
di Yogyakarta, Dr Mark Hobart disertai istrinya, Ni Made Pujawati.
“Kami bermaksud mengembangkan
kajian media
dan budaya di Yogyakarta untuk jenjang S-2 atau S-3,” katanya ketika mampir
di SKM Minggu Pagi.
Karena
ia tertarik pada budaya dan budaya ternyata tak bisa dipisahkan
dari media, sejak itu ia kepingin banyak tahu proses atau pemrograman
pada media.Kebetulan ia mendapat perempuan
Bali, seorang penari condong, kemudian diboyong
ke Inggris.
Mereka menikah tahun 2001. “Untuk bisa mendapat perempuan Bali, syaratnya harus jadi peneliti,” katanya berkelakar.
SELAMA di Yogyakarta, Mark Hobart jarang bangun pagi. Belajar Antropologi di Universitas Cambridge dari 1964-1967. Kemudian menjadi dosen di Universitas Nasional Singapura untuk mata kuliah Antropologi. Di Singapura sampai 1968, karena ia harus melanjutkan ke tingkat magister. “Saya menempuh pasca sarjana di School of Oriental and African Studies (SOAS), 1968 sampai 1972,” katanya.
Selama menyelesaikan studinya, 1970 sampai 1972 ia berada di Bali,
melakukan studi pedesaan.Tahun 1972 kembali ke Inggris untuk mengajar
Antropologi di almamaternya.Obsesinya mendirikan S-2 untuk Kajian Budaya dan Media
terkabul dan dilanjutkan membuka pragram S-3 untuk kajian yang sama di
SOAS tahun 2000. Setelah berlangsung hampir tiga tahun, ada rencana membuka program S-2 dan S-3 di Indonesia tentang Kajian Media dan Budaya.PA yang terkesan di Yogyakarta? “Saya bisa bertemu dengan orang-orang yang ramah,” katanya. Tetapi, antara Yogyakarta dan Bali, bagi Hobart berbeda. Terhadap kesenian tradisional, di Bali sangat hidup. Apalagi banyak ditonton turis. Sementara di Yogyakarta, masih belum seperti Bali. Hobart juga banyak mempelajari tari dan berkenalan dengan penarinya di Bali. Itukah sebabnya ia lantas bertemu Ni Made Pujawati?
Selama di Yogyakarta, ia banyak berhubungan dengan Dr Faruk, Dr Irwan
Abdullah, untuk kepentingan mewujudkan kajian media dan budaya. Berurusan dengan instansi, universitas, pergi ke
Stasiun Televisi Yogyakarta, juga mengunjungi SKH Kedaulatan Rakyat,
merupakan kegiatannya selama di Yogyakarta. Ia kepingin memahami masalah media, bukan dari membaca teori. Tapi, melihat praktiknya langsung.
Karena itu, ia pun menyempatkan datang ke Minggu Pagi dan ke Koran
Merapi, untuk melihat dari dekat bagaimana surat kabar diproses. Barangkali, berita yang mengandung unsur positif itu sudah biasa dan kurang menarik.
“Ketika memilih peristiwa untuk ditulis menjadi berita, selalu ada
pengaruh budaya,” kata Hobart. Oleh sebab itu, kajian media tak bisa
dipisahkan dari budaya.
Ketika memberikan ceramahnya di SKH Kedaulatan Rakyat, sesungguhnya ia kepingin mencocokkan antara teori dan praktik.
Ringkasan lain tentang Dr Mark Hobart, Peneliti Media dan Budaya