Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > PERSIAPAN SYUTING TERAKHIR FILM CHENG HO

.

PERSIAPAN SYUTING TERAKHIR FILM CHENG HO

Pengarang : Yusril Ihza Mahendra
Summary by : muhamadnur
Kunjungan : 57  kata: 900   Diterbitkan di: Maret 05, 2008
Persiapan syuting sessi terakhir pembuatan film Laksamana Cheng Ho yang akan dilakukan di negara kita, kini hampir rampung.
Insya Allah, syuting akan dimulai pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008
nanti. Persiapan ini memang dilakukan dengan sungguh-sungguh, mengingat
banyak adegan penting yang diambil di negara kita.
Adegan itu bukan saja mengisahkan Perang Majapahit dengan Blambangan,
Konflik Malaka dan Jawa dalam memperebutkan Palembang, dan konflik
Samudra-Pasai di Aceh, tetapi seluruh adegan di atas geladak kapal dan
perang di laut dilakukan di Indonesia.
IMG_2089Dalam sejarah disebutkan bahwa seluruh armada Cheng Ho terdiri
atas 300 kapal dengan 28.000 prajurit Angkatan Laut Kekaisaran Ming dan
sekitar 5000 awak kapal yang mengarungi samudra mulai dari bagian timur
negeri Tiongkok sampai ke Mogadishu (Somalia) dan Madagaskar di pantai
Timur Afrika.
Armada itu bukan saja telah menjalankan misi muhibah ke negara-negara
Asia Tenggara (Nan Yang) seperti Majapahit, Champa, Chirebon, Sunda
Kelapa, Palembang, Samudra Pasai, Brunei, Pontianak, Ayuththaya dan
Suvarnabhumi (Thailand), Angkor (Kamboja), Melaka, dan Formusa, tetapi
juga Sri Lanka, India, Iran, Irak, Yaman, dan Hejaz (Saudi Arabia),
Moldives, serta negara-negara di Afrika. Ada
delapan kali ekspedisi yang dilakukan Cheng Ho untuk mewujudkan impian
Kaisar Ming Chui Ti membangun perdamaian dunia, setelah Tiongkok
makmur, kuat dan bersatu menjadi negara adikuasa seperti Amerika
Serikat sekarang, di zaman itu.Dia wafat di Lautan Hindia di selatan Sri Lanka dan jenazahnya dibawa untuk dimakamkan di Nan Jing, China.Dalam film ini, ada dikisahkan Laksamana Cheng Ho
pernah mendisplai seluruh armadanya dan mengarahkan meriam ke Pelabuhan
Tuban, bandar pelabuhan utama Kerajaan Majapahit di masa itu, setelah
terjadi kesalahpahaman antara Majapahit dengan armada Tiongkok itu
dalam Perang Blambangan. Cheng Ho kemudian menyampaikan komitmen untuk melatih
tentara Majapahit serta memberikan bantuan teknis di bidang pertanian,
kesehatan, perdagangan dan industri pembuatan keramik dan kain sutera
untuk memulihkan ekonomi Majapahit yang hancur akibat perang
berkepanjangan. Digambarkan pula, Laksamana Cheng Ho dan sejumlah
perwira militer Kekaisaran Ming yang beragama Islam menunaikan solat
Jum’at bersama kaum Muslimin yang minoritas jumlahnya di Kerajaan
Majapahit yang mayoritas beragama Hindu.

Teknologi pembuatan film di zaman sekarang – komputer
grafis, animasi dan sound effects –memungkinkan produser membuat film
jauh lebih mudah dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu.Aktor dari China dan Hong Kong tidak ada lagi yang
datang, karena pengambilan seluruh adegan yang melibatkan mereka telah
selesai dalam syuting di China.
Aktor Indonesia yang akan terlibat selama syuting di sini, selain saya
sendiri — yang sebenarnya bukan bintang film sungguhan dan beberapa
aktor lain yang terlibat sejak awal — diantaranya adalah IMG_2034Slamet
Rahardjo yang akan memerankan Bhre Kertabumi (Raja Blambangan) dan
Saifullah Yusuf yang memerankan Prabu Wikramawardhana (Raja Majapahit).Kali ini para prajurit TNI Angkatan Darat itu tidak
akan menggunakan tank dan panser, senapang dan meriam artileri, tetapi
menggunakan kuda bersenjatakan pedang, tameng, panah dan tombak sambil
memakai seragam militer Kerajaan Majapahit dan Blambangan di zaman
dahulu.Produser film ini tidak ingin salah dalam mendisain
istana Majapahit dan Blambangan, termasuk kostum dan dandanan orang di
zaman itu. Ketika syuting di China, seorang
professor ahli sejarah Ming dari Universitas Beijing setiap hari ada di
lapangan untuk mengawasi tatacara dan adat istiadat Dinasti Ming, agar
jangan sampai salah. Art Director dari Thailand
juga meneliti dengan cermat pakaian, dandanan, peralatanIMG_2062
makan-minum dan segala macam dekorasi istana dan rumah di zaman Dinasti
Ming, agar jangan tercampur dengan dinasti yang lain. Kalau salah, film ini akan menjadi bahan tertawaan bagi mereka yang mengerti sejarah.
Sebab itu, di lantai dua studio Jupiter di Kemayoran, saya menyaksikan
ratusan pedang, tombak dan tameng zaman Majahapit, serta konstum
masyarakat di zaman itu. Peralatan yang
digunakan Armada Cheng Ho, termasuk kamera dan kostum yang telah
digunakan dalam syuting di Thailand dan China, juga telah dibawa dengan
kontainer ke Jakarta. Kami mengucapkan terima
kasih kepada aparat bea cukai kita, yang dapat memahami bahwa
barang-barang ini digunakan untuk pembuatan film, sehingga dapat
mengurangi biaya pembuatan film ini, yang kini sudah mencapai lima juta
dollar Amerika Serikat. Musim hujan dan banjir di ibukota juga menjadi faktor
yang menyebabkan penundaan ini, belum lagi gangguan listrik yang
terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini.

Ringkasan lain tentang PERSIAPAN SYUTING TERAKHIR FILM CHENG HO
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------