Indonesia terpuruk
di semua bidang,
kita semua sudah tahu. Prestasi anak bangsa di segala arena sedang anjlok ke titik nadir, itu pun jelas belaka. Kemalangan, kecelakaan, dan musibah yang datang susul menyusul menimpa negeri ini – tanpa ampun dan tanpa belas kasihan – telah kita saksikan bersama.
Dan hasilnya pun sudah kita ketahui: (1) Karena selama ini kita gemar berdosa – diungkapkan Ebiet G Ade dengan liris: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita – maka kita harus minta ampun dan bertobat.
Karena kita ini bangsa pemalas, suka main terabas, dan gemar yang serba instan, maka kita harus kembali mengotbahkan keutamaan kerja keras, disiplin, dan ketaatan pada aturan main. Lalu
masih adakah yang
bisa kita katakan sebab semua sudah dikatakan? Entahlah! Namun untuk memenuhi permintaan redaksi majalah ini saya menulis juga. Tulisan ini lebih merupakan renungan saya. Kalau ternyata ada juga pembaca yang mendapat inspirasi, syukurlah.
Kini kutahu, justru kerentanan tanahairku inilah yang memungkinkan terbentuknya pulau-pulau, selat-selat, tanjung-tanjung dan semenanjung, barisan gunung yang membentuk pegunungan, bukit-bukit dan lembah ngarai, sungai-sungai dan danau-danau. Dan itulah yang membuat negeriku menjadi indah, cantik, subur, dan makmur dengan fauna dan flora sehingga mungkin ditinggali, bahkan nikmat didiami. Juga kutahu, semua hal di ataslah yang telah mengundang nenek moyangku dari benua yang amat jauh, ribuan tahun yang silam, untuk bermukim dan beranak pinak di sini hingga akhirnya aku pun terlahir. Kini kutahu, justru kerentanan tanahairku inilah – sekali lagi oleh karena proses-proses geologis dan vulkanologis – yang memungkinkan terbentuknya lautan minyak, gas alam, batubara, emas, intan, tembaga, nikel, timah, dan besi – terpendam cuma beberapa puluh ratus meter di bawah muka tanahku dan lautku.
Maka
takkan ada gunung dan lembah, takkan ada bukit dan ngarai, takkan ada sungai, angin, sawah dan perkampungan. Tanahku akan cuma sehamparan padang es yang amat lebar, dingin dan beku; atau sebentang gurun panas yang amat luas, ganas dan telengas, sama sekali tak berkehidupan, kecuali barangkali ular, lipan, dan kalajengking. Jadi syukurlah tanahairku ini masih bergonjang-ganjing dengan tenaga magma dari perutnya dan dengan energi yang terlepas dari regangan paha dan tegangan pinggul tektoniknya yang mengakibatkan goyang samba sekian skala Richter. Tanah airku ternyata masih berproses, ia masih hidup dan menggeliat, bergetar-getar bagaikan remaja yang menari kejang (break dance), aktivitas yang sesungguhnya telah rutin dilakukannya sejak milyaran tahun yang silam.
ku terkejut hanya karena anak-anak negeriku beserta dengan sedikit karya tangannya (rumah, jembatan, gedung, jalan raya, dan berbagai instalasi) ikut rusak dan tertelan oleh lidah airnya atau guncangannya. Aku kaget dan sedih karena kedahsyatan Ibu Pertiwiku menunjukkan betapa kerdil dan fananya diriku dan sesama anak bangsaku di hadapan alam semesta.
Andai kukenal tabiat dua musim negeriku ini, takkan kusumbat selokan-selokan di seantero kotaku yang mengalirkan air di sepanjang musim hujan, takkan kubuang sampah dan tanah sembarangan yang mendangkalkan kali dan sungai-sungaiku, dan takkan kupantik bibit api yang sanggup menghanguskan hutan dan lahan bergambut di sepanjang musim kemarau. Takkan kulakukan hal itu. Dan andai aku memang akrab memahami perilaku negeriku maka akan kutata lereng gunungku, akan kutata sempadan sungai-sungaiku, takkan kujamah lubuk dan hutan larangan di pinggang bukit-bukitku, dan takkan kuputas kali dan sungai yang berkenan mengalir di dekat kota-kotaku.
Ringkasan lain tentang Menatap Indonesia di Panggung Bencana: Masih Adakah yang Bisa Kita Perbuat?