Sesungguhnya,
suara serupa sudah lama terdengar
di negeri ini setidaknya sejak 20 tahun terakhir, namun cuma melata di lorong-lorong seminar
dan pelatihan SDM yang didengungkan antara lain oleh guru-guru keberhasilan anak negeri seperti Soen Siregar, Gede Prama, Rhenald Khasali, Aa Gym, Andrias Harefa, Hermawan Kartajaya, atau Ary Ginanjar.
Di pentas bisnis global Stephen Covey adalah nama yang amat berwibawa – mungkin setara dengan Peter Drucker di bidang manajemen – dan suaranya lebih sering terdengar bagai amar kenabian. Suara waskitanya mampu menjebol tembok kesadaran yang kapalan, mendobrak jeruji batin yang tergembok, membebaskan tenggorokan nurani yang terbekap, lalu menjawab suara otentik panggilan jiwa para pendengarnya.
Menjadi tegas pula, pondasi segala prestasi-keunggulan-keakbaran adalah spiritualitas: nurani yang jernih, hati yang bening, dan akalbudi yang cerah. “Dan semuanya itu harus dibasiskan pada prinsip-prinsip sejati
”, ujar Covey. Dan sayup-sayup, kita pun mendengar gema tesis Max Weber seratus tahun lalu: apabila orang bekerja berdasarkan panggilan jiwanya maka ia akan unggul melampaui yang lain.
Basis Keunggulan Diroketkan pada 1983 oleh TJ Peters dan RH Waterman melalui In Search of Excellence, tema keunggulan kemudian mengilhami dan mewarnai hampir semua literatur sukses yang ribuan jumlahnya sejak itu. Peters dan Waterman berkisah tentang pribadi-pribadi unggul yang mengawaki perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti IBM, Boeing, dan General Electric.
Sebelum The 8th Habit terbit, Jim Collins dalam Good to Great <2001> menampilkan hasil studinya tentang elemen Menjadi great company: kepemimpinan yang profesional namun rendah hati, pemilihan SDM yang tepat, tegar menghadapi realita, selalu melakukan yang terbaik, membangun kultur disiplin, dan pilihan teknologi yang pas sebagai akselerator. Masih bisa ditambahkan bahwa excellence itu digerakkan oleh visi akbar yang menggetarkan bahkan sanggup meminta pengorbanan dari segenap warganya, dipandu oleh strategi cerdas agar sumberdaya yang terbatas cukup, dimotori oleh inovasi-inovasi kreatif, dikawal oleh sikap antisipatif, dan didukung oleh karakter ketekunan.
Keyakinan, iman, harapan, tekad, antusiasme itulah berbagai wajah spiritualitas. Inilah the spirit of excellence. Memang spirit itu perlu diberi darah, saraf, otot, dan daging agar menjadi tubuh, artinya menjadi budaya. Dan Presiden Yudhoyono telah menjanjikannya pula: good governance. Dialah kepala tubuh yang pernah berkata: bersama kita bisa! Kini, semboyan itu perlu ditambah bobot menjadi semacam Sumpah Palapa II: Bersama kita harus bisa unggul! Kalau sudah begitu rakyat pun niscaya ikut.
Ringkasan lain tentang Indonesia Unggul, Mungkinkah?