• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Prihatin pada Rakyat Miskin

.

Prihatin pada Rakyat Miskin

oleh : muhamadnur    

Pengarang : abufaiz97
Krisis itu masih melanda Madinah. Korban sudah banyak berjatuhan. Jumlah orang-orang miskin terus bertambah.
Khalifah
Umar Bin Khatab yang merasa paling bertanggung jawab terhadap
musibah itu, memerintahkan menyembelih hewan ternak untuk
dibagi-bagikan pada penduduk.Umar Bin Khatab yang merasa paling bertanggung jawab terhadap
musibah itu, memerintahkan menyembelih hewan ternak untuk
dibagi-bagikan pada penduduk.Tidak!” kata Umar seraya menjauhkan hidangan lezat itu dari hadapannya.
“Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging
lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.”
Kemudian Umar menuruh salah seorang sahabatnya,” Angkatlah makanan ini,
dan ambilkan saya roti dan minyak biasa!” Beberapa saat kemudian, Umar
menyantap yang dimintanya.
Kisah yang dipaparkan Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya ar-Rijal
Haular Rasul itu menggambarkan betapa besar perhatian Umar terhadap
rakyatnya. Peristiwa seperti itu bukan hanya terjadi sekali saja. Kisah tentang pertemuan Umar dengan seorang ibu bersama anaknya yang sedang menangis kelaparan, begitu akrab di telinga kita. Ditengah nyenyaknya orang tidur. Ia berkeliling dan masuk sudut-sudut kota Madinah. Ketika bertemu seorang ibu dan anaknya yang sedang kelaparan, Umar sendiri yang pergi mengambil makanan. Ia sendiri juga yang memanggulnya, mengaduknya, memasaknya dan menghidangkannya untuk anak-anak itu.
Keltika kelaparan mencapai puncaknya Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum badui itu melakukannya terlebih dahulu.. Kata-katanya diabadikan sampai saat itu, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”
Padahal saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas Negara. Namun begitu mengetahui makanan itu biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya. Kepada utusan yang mengantarkannya Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa Anda makan.”
Sikap seperti itu tak hanya dimiliki Umar bin Khattab. Ketika mendengar dari Aisyah bahwa Madinah tengah dilanda kelaparan. Abdurrahman bin Auf yang baru pulang dari berniaga segera membagikan hartanya pada masyarakat yang sedang menderita. Semua hartanya dibagikan.
Ironisnya, sikap ini justru amat jauh dari para pejabat sekarang. Penderitaan demi penderitaan yang terus melanda bangsa ini, tak meyadarkan mereka.
Naiknya harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM naik dan meningkatnya
jumlah orang-orang miskin, tak menggugah hati mereka. Bahkan, perilaku
boros mereka kian marak.
Anggota Dewan yang ditunjuk rakyat sebagai wakil, justru banyak yang berleha-leha. Santai dan mencari aman. Pada saat yang sama, para pejabat yang juga dipilih langsung, tak pernah memikirkan rakyat. Ia takut kalau kursi yang saat ini didudukinya lepas.
Sungguh jauh beda dengan Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat
Rasulullah saw. Ketika suatu saat dia cukup pedas mengkritik para
pejabat di Madinah, Ustman bn Affan memindahkannya ke Syam agar tak
muncul konflik. Namun, ditempat inipun ia melakukan kritik tajam pada
Muawiyah bin Abu Sufyan agar menyantuni fakir miskin.
Muawiyah pernah mengujinya dengan mengirimkan uang. Namun ketika esok
harinya uang itu ingin diambilnya kembali, ternyata Abu Dzar telah
membagikannya pada fakir miskin.
Sesungguhnya, negeri kita ini tidak miskin. Negari kita kaya. Bahkan
teramat kaya. Tapi karena tidak dikelola dengan baik, kita menjadi
miskin. Negeri kita kaya, tapi karena kekayaan itu hanya berada pada orang-orang tertentu saja, rakyat menjadi miskin.
Diterbitkan di: Maret 04, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.