Kemerdekaan Kosovo dan Dilema Dunia Islam
Summary rating: 5 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
25
kata:
300
Diterbitkan di: Maret 04, 2008
Kosovo, sebuah wilayah berpenduduk mayoritas Muslim di
jantung Eropa, telah mendeklarasikan kemerdekaan pada hari Ahad (17/2)
lalu.Baru tiga negara anggota Organisasi Konferensi Islam
(OKI) yang menyatakan pengakuannya atas kemerdekaan Kosovo, yaitu
Afganistan, Turki, dan Senegal. Meski demikian, tidak ada satu negara Muslim pun yang
menyatakan menentang deklarasi kemerdekaan Kosovo atau tegas-tegas
tidak mengakui kemerdekaanya. Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1244 (1999) pada 10
Juni 1999 hanya menempatkan Provinsi Kosovo di bawah pengawasan PBB
dengan tugas membentuk pemerintahan sementara untuk Kosovo agar rakyat
Kosovo mendapat otonomi khusus dan self-government di Kosovo dalam
Republik Federal Yugoslavia, sementara penyelesaian final atas status
Kosovo belum ditentukan.
Serbia hanya bisa menerima otonomi luas bagi Provinsi Kosovo, sedangkan Kosovo hanya menginginkan kemerdekaan.Kosovo pun mendeklarasikan kemerdekaanya yang
dibacakan oleh PM Kosovo Hashim Thaci tepat hari Ahad 17 Februari 2008
pukul 3 sore waktu setempat.. Atau negara-negara yang memiliki kantong-kantong
etnis dan ideologis, seperti Pakistan dengan wilayah Pastun di Provinsi
NWFP dan negara-negara Teluk Persia yang mempunyai kantong-kantong
pengikut syiah.
Namun, alasan tersebut telah ditepis oleh AS dan para
pendukungnya bahwa Kosovo adalah kasus sepesial dan khusus, tidak bisa
dijadikan preseden oleh negara dan wilayah mana pun.Seperti yang disampaikan Sekjen OKI Prof Ekmeleddin
Ihsanoglu dalam pertemuan pejabat senior untuk persiapan KTT OKI di
Dakar, Senegal, sehari setelah kemerdekaan Kosovo. Tidak adanya negara anggota OKI yang menentang atau menolak kemerdekaan Kosovo juga bukti penguat lain atas posisi OKI tersebut.Kini Kosovo telah menjadi bagian dari dunia Islam dan Indonesia juga bagian dari dunia itu.