Di tahun 2005 ini, selain memperingati satu abad The Special Theory of Relativity Albert Einsten,
dunia juga seyogianya perlu
merayakan satu abad karya agung lainnya yang terus menjadi inspirasi dan wacana dunia hingga hari ini: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism Max Weber.
Kesimpulan inti yang ingin saya garis bawahi ialah pentingnya mendengar seruan bagi inovasi pemikiran, reformasi gagasan, dan penafsiran ulang ajaran dalam sebuah pergulatan sejarah melawan tirani dan hegemoni penguasa agama yang mengungkung demi kemajuan sosial yang membebaskan sebagaimana dicita-citakan oleh spirit keagamaan itu sendiri.
Kata Sukidi, kaum Protestan dan Muhammadiyah sama-sama bersemboyan Kembali pada Kitab Suci, sama-sama menjunjung nalar
serta menolak semua elemen magis (takhayul, bidah, dan khurafat) dalam pencarian keselamatan, sama-sama merasionalkan
doktrin agama melalui purifikasi iman dan ijtihad untuk meraih kemajuan, sama-sama bekerja sistematik melalui penggunaan birokrasi modern, dan sama-sama mengadopsi innerworldy asceticism untuk mengubah dunia.
Dikotomi Tuhan dan Dunia Dalam setiap agama selalu terdapat sekte atau aliran yang mempertentangkan Tuhan dan dunia, mendualismekan kesalehan dan kemakmuran, atau mendikotomikan ibadah yang sakral dan kerja yang profan. Dan ayat-ayat kitab suci untuk membangun teologi demikian memang tersedia banyak. Dari agama Kristen bisa dikutip ayat, "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.
Di pihak lain terdapat elite agama, misalnya di Eropa pada zaman Martin Luther, atau di Iran seperti yang digambarkan Sukidi, bersekutu erat dengan kaum penguasa, bahkan menjadi penguasa itu sendiri, bergelimang dengan keduniawian sambil atas nama konservatisme mengekang gerak dan aspirasi umat yang ingin bebas mengecap kemajuan, membuat keluruhan umat tertinggal dari modernitas yang umumnya dimotori oleh sains, teknologi, bisnis, investasi, dan manajemen terkini.
Sudah umum diketahui, bahkan sering dibicarakan dan diperbicangkan, bahwa aspirasi dunia masa kini, yaitu tuntutan abad ke-21, setidaknya mensyaratkan sepuluh pasang nilai utama berikut ini: <1> Kualitas dan Produktivitas, <2> Efisiensi dan Keefektifan, <3> Kecepatan dan Ketepatan, <4> Disiplin dan Kerja sama, <5> Integritas dan Ketepercayaan, <6> Kreativitas dan Inovasi, <7> Pelayanan Publik dan Kepuasan Pelanggan, <8> Tanggung jawab Sosial dan Lingkungan, <9> Respek pada Hukum dan Rule of Law, serta <10> Demokrasi dan HAM.
Maka, salah satu tantangan buat umat Islam di Indonesia, khususnya Muhammadiyah yang sejatinya reformis, puritan dan modernis itu ”meminjam bahasa Sukidi” sebagai arah baru studi dan pendalaman ke depan, ialah memilih beberapa doktrin yang relevan dengan sepuluh pasang nilai utama di atas dari khazanah doktrin keislaman yang begitu luas. Misalnya saja, bagaimana mengelaborasi sampai tandas dan lalu mendayagunakan secara tuntas <1> Doktrin Rahmatan Lil Alamin, <2> Doktrin Amar Ma''ruf Nahi Munkar, <3> Doktrin Akhlakul Kharimah, dan <4> Doktrin Kerja Sebagai Amanah dan Ibadah ”dengan tetap setia pada akidah dasar keislamannya” untuk menjawab kebutuhan di atas, serta pada saat yang sama, di sisi lain, mampu menghentikan kemunafikan, lemahnya tanggung jawab, rapuhnya watak, masih bercokolnya jiwa feodalisme, kegemaran pada takhyul, serta budaya korupsi dan kolusi seperti ditengarai Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (1977). Doktrin yang dipilih itu harus bagai pisau bermata dua: mampu membabat yang busuk dan buruk serta mengukir yang baik dan indah, sekaligus dan serentak.