Dari sanalah,
sastra memberi pemahaman yang khas atas situasi sosial,
kepercayaan, ideologi,
dan harapan-harapan individu yang sesungguhnya
merepresentasikan kebudayaan bangsanya.
Dalam konteks
itulah, mempelajari sastra suatu
bangsa pada hakikatnya tidak berbeda
dengan usaha memahami kebudayaan bangsa yang bersangkutan.Tarik-menarik antara tradisi dan pengaruh Barat dimanifestasikan dalam bentuk
tokoh-tokoh rekaan yang mewakili golongan tua (tradisional) dan golongan muda
(modern). Tarik-menarik itu juga tampak dari tema-tema
yang diangkat dalam karya sastra pada masa itu. Problem
adat yang berkaitan dengan masalah perkawinan dan kedudukan perempuan hampir
mendominasi novel Indonesia pada zaman itu. Sementara itu, dilihat dari tema-tema yang diangkatnya, tampak ada usaha
merumuskan sebuah konsep kebangsaan, meskipun yang dikatakan Muhammad Yamin
masih dalam lingkup Pulau Sumatera. Dalam bidang drama, Rustam Effendi
dalam Bebasari (1926) secara simbolik menawarkan perlawanan kepada bangsa asing
(Belanda). Penculikan Sita (Ibu Pertiwi) oleh Rahwana (kolonial) pada akhirnya
harus dimenangkan oleh perjuangan gigih seorang Rama (pemuda Indonesia). Jadi,
secara simbolik, drama ini sudah mempersoalkan konsep kebangsaan dan pentingnya
perjuangan melawan penjajah. Sementara itu, di pihak yang lain,
secara ideologis, karya sastra, terutama novel-novel yang diterbitkan Balai
Pustaka memperlihatkan betapa novel-novel yang diterbitkan lembaga itu sejalan
dengan ideologi pemerintah kolonial Belanda. “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami
teruskan dengan cara kami sendiri,” (ii) bentuk pengucapan dalam puisi tidak
perlu lagi dengan bahasa yang mendayu-dayu dan berbunga-bunga, tetapi dengan
bahasa sehari-hari yang lugas dan langsung. Chairil Anwar
yang menjadi tokoh kunci Angkatan 45 seperti meninggalkan
jejak yang begitu kuat
dalam peta puisi Indonesia. Demikian juga Mochtar Lubis, Balfas, Toha Mohtar, Subagio
Sastrowardojo, Nugroho Notosusasto, dan beberapa novelis Indonesia lainnya yang
dibesarkan dalam gejolak revolusi, mengangkat pengalaman perang sebagai tragedi
kemanusiaan yang amat getir, dan di pihak lain digunakan juga sebagai alat untuk
menumbuhkan semangat kebangsaan. Terbelahlah sastrawan Indonesia ke dalam beberapa kubu yang mengerucut menjadi
dua kubu besar, yaitu golongan sastrawan yang mengusung semangat humanisme
universal dan golongan sastrawan yang mengusung sastra dan kebudayaan sebagai
alat perjuangan politik dengan penekanan pada sastra yang berpihak pada
rakyat. Kelompok pertama mendeklarasikan sikapnya melalui
apa yang disebut “Manifes Kebudayaan” dan kelompok kedua tergabung dalam Lembaga
Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berporos pada Partai Komunis Indonesia
(PKI). Selain itu, unsur-unsur mistik Islam—Jawa, sufisme, dan khazanah
puisi rakyat, disadari sebagai kekayaan tradisi yang
dapat dikemas atau
diselusupkan ke dalam bentuk puisi yang lebih modern. Sutardji Calzoum
Bachri, misalnya, berhasil memanfaatkan mantera untuk kepentingan estetika
puisinya yang mengandalkan kemerduan bunyi. Melalui kredonya yang
menolak makna dalam kata, Sutardji menjadi salah satu tokoh kunci penyair
Indonesia dasawarsa itu. Arifin C. Noer –dalam drama—berhasil pula
memanfaatkan dongeng-dongeng dan teater rakyat, seperti ketoprak dan tanjidor,
menjadi unsur penting dalam dramanya. Sementara itu, Kuntowijoyo
yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi kejawen, tetapi menyerap juga pengaruh
tasawuf dan filsafat Barat (eksistensialisme), berhasil melahirkan sebuah novel,
Khotbah di Atas Bukit, yang memperlihatkan percampuran pengaruh-pengaruh
itu. Keduanya –sastra Indonesia dan sastra Korea—tetap akan menjadi sebuah dunia yang
asing, jika kedua bangsa ini tidak berusaha mendekati dan
memahaminya. Oleh karena itu, kerja sama kebudayaan,
khususnya kesusastraan, dengan berbagai bangsa dapat menciptakan sebuah jembatan
yang memungkinkan kedua bangsa itu dapat saling memahami kebudayaan
masing-masing. Dalam konteks itu, kehadiran delegasi pengarang. Korea di Indonesia dapat dimaknai sebagai salah satu usaha membangun
jembatan yang memungkinkan bangsa Korea dan bangsa Indonesia dapat meningkatkan
persahabatan-persaudaaran kedua bangsa.
Ringkasan lain tentang JEJAK LANGKAH SASTRA INDONESIA