Bila ada seorang sastrawan Indonesia secara eksplisit menampakkan
sikap
kekecewaan lewat cara berburuk sangka atau marah-marah gara-gara karya
sastranya
tak masuk sebuah
antologi sastra sebenarnya itu kecenderungan lama
yang sudah berulang kali terjadi
dan menjangkiti nyaris setiap antologi sastra
kita. Kekecewaan semacam itu cenderung juga akan memancing
tanggapan ”baik-baik
maupun emosional.” Penyusun antologi sastra dan sastrawan
biasanya sama-sama saling bersikukuh dengan sikap dan pendapat
masing-masing.Intinya, kekecewaan itu lebih banyak yang tak mengerti latar ihwal dan telah
khilaf memahami paradigma antologi sastra yang sebenarnya: pemetaan
”capaian-capaian puncak mainstream sastra” pada masa tertentu berdasarkan
capaian estetik maupun tematik, sesuai ketetapan kriteria yang telah dipilih
penyusunnya.Antologi sastra memetakan prestasi puncak dan bukan koleksi selengkapnya nama
sastrawan dan karyanya. Penyair tahun 40-an bukan hanya Chairil Anwar.
Novelis tahun 30-an bukan hanya Armijn Pane. Penyair tahun 70-an bukan hanya
Sutardji Calzoum Bachri. Tapi, Chairil adalah pencapai puncak mainstream estetik
maupun tematik puisi yang ”mewakili” para penyair lain semasanya. Demikian
halnya Armijn Pane dan Sutardji yang menjadi ”wakil” masanya masing-masing.
Kerja penyusun antologi sastra tak bisa dianalogikan sebagai kerja tukang sensus
yang wajib mencatat nama-nama sastrawan dan karyanya selengkap-lengkapnya.
Antologi sastra yang baik bukan kumpulan dokumentasi nama sastrawan dan karyanya
selengkap-lengkapnya. Sebuah antologi sastra yang baik selain
harus memiliki paradigma juga harus menetapkan seperangkat kriterianya sendiri
yang setepat dan serepresentatif mungkin dan diterapkan oleh penyusun antologi
sastra secara ketat dan akurat. Sastrawan kita mungkin mengidap pemahaman bahwa nama sastrawan dan karyanya yang
masuk antologi sastra adalah wujud pengakuan yang signifikan dunia sastra
terhadap kesastrawanan dan karyanya, sehingga ketika karya seorang sastrawan tak
masuk sebuah antologi sastra akan menilai eksistensi kesastrawanannya tak diakui
dunia sastra. Sastrawan merasa disikapi tak adil oleh
dunia sastra bila karyanya tak masuk antologi sastra dan eksistensi
kesastrawanannya terusik.Seolah-olah polemik seputar antologi sastra selama ini hanya menciptakan arena
”konflik wacana” yang sebenarnya banyak memubazirkan energi pikiran dan waktu
banyak penulis maupun pembacanya dan jelas miskin manfaat. Kita tak asing
dengan antologi artikel sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, psikologi maupun
demokrasi. Antologi-antologi artikel non-sastra ini nyaris tak memunculkan
kekecewaan yang eksplisit dari para penulis yang artikelnya tak masuk di
dalamnya. Antologi sejenis ini banyak sekali diterbitkan dan mendapat sambutan
positif publik ditandai oleh antusiasme apresiasi dan diserap pasar pembaca. Kekecewaan sastrawan hanya karena karyanya tak masuk antologi sastra adalah
indikator lemahnya kepercayaan diri sastrawan terhadap diri dan karyanya sendiri
disebabkan terlanjur menganggap bahwa waktu yang semasanya adalah satu-satunya
penentu ukuran nilai karyanya, penentu sejarah karyanya.
Apresiasi yang buruk apalagi sinisme yang muncul dari dalam komunitas sastrawan
terhadap antologi sastra akan melongsorkan citranya sehingga publik tak memiliki
gambaran yang ”menjanjikan” dan positif dan efeknya akan mengasingkan antologi
sastra dan seisinya dari daftar agenda perhatian publik luas. Penerapan pemahaman ini akan menghasilkan antologi sastra yang representatif
serta dapat dipertanggungjawabkan dan bisa ”menepis” kemungkinan muncul
kekecewaan dari luar maupun dari dalam komunitas sastrawan sendiri.
Ringkasan lain tentang Paradigma Antologi Sastra