Kritik
sastra adalah bidang kesusastraan yang terus menerus
berkembang di dunia.
Sebagai akibat dari kemajuan teknologi, perkembangan
Kritik sastra dunia tentu mempengaruhi perkembangan studi kritik sastra
Indonesia. Pengaruh ini dapat timbul dari kerja-kerja kritik yang
dilakukan oleh kritikus-kritikus sastra Indonesia—baik dari golongan akademisi,
sastrawan, maupun peminat sastra—terhadap karya sastra Indonesia yang
selanjutnya mendapatkan tanggapan dari masyarakat sastra dunia,
kerja kritik
pada karya-karya berbahasa asing,
atau sebaliknya: kerja kritik pada karya-karya
Indonesia oleh kritikus-kritikus asing, maupun transfer pengetahuan dalam bentuk
studi banding
dan penterjemahan teks atau buku-buku teori kritik sastra.Artikel ini dimulai dengan pembahasan mengenai studi kritik sastra yang sejak
dulu dipahami sebagai sebuah bentuk kerja interpretasi (menjelaskan maksud)
untuk karya imajinatif (atau karya sastra) ternyata sudah mulai bergeser
fungsinya dengan tuntutan menjadikan kritik sastra sebagai sebuah bentuk karya
sastra sekelas dengan seni yang lain. sastra juga dimaksudkan untuk menjelaskan pada masyarakat bahwa karya sastra
adalah hasil interpretasi pengarang terhadap suatu fenomena sehingga terkadang
berbeda dan “mengacuhkan” kenyataan yang diakui masyarakat, untuk hal ini karya
sastra perlu dilindungi karena karya tersebut perlu dipandang terlepas dari
pengarangnya sebagai konstruksi yang otonom/berdiri sendiri. Krieger juga mengatakan kemungkinan adanya penjelasan kembali atas pengkaburan
batas antara kesusastraan dan kritik sastra akan semakin sulit dilakukan jika
pekerjaan-pekerjaan kritik yang ada sekarang hanya “melihat” sesuatu yang tampak
dipermukaan (cover what only appears) dunia sastra, atau hanya bereaksi pada
karya-karya yang telah mendapat tanggapan atau komentar sebelumnya. Dengan berpegang pada keunggulan, niscaya pada akhirnya kita
juga harus meletakkan karya sastra pada kelas yang sama dengan kritik karena
kritik yang tidak baik dan tidak memiliki keunggulan, pasti berasal dari tidak
adanya keunggulan kesusastraan dari karya itu sendiri (no literal primacy in
discourse at all). Yang pertama, ketika karya sastra ternyata hanya sekadar meniru tanpa memberikan
refleksi lain, kritik sastra dapat dipandang sebagai karya utama karena kritik
mampu menulis ulang (layaknya karya sastra) sebuah objek dalam terminologi atau
pengertiannya sendiri (criticism is now have always been rewriting the object in
the critic’s own terms).Walaupun dalam hal tata bahasa dan pilihan kata dapat dikatakan terlalu rumit,
secara keseluruhan, tulisan Murray Krieger “Criticism as a Secondary Art” ini
dapat dikatakan cukup baik dan membantu kita, pembacanya, mengerti bagaimana
bentuk kritik sastra yang baik, kedudukan kritik sastra yang terus berkembang,
dan sedikit kilasan perkembangan kritik sastra Amerika.
Ringkasan lain tentang Perkembangan Kedudukan Kritik Sastra dalam “Criticism as a Secondary Art” karya Murray Krieger