Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > TAKWIL SEBAGAI ASAS TEORI SASTRA DAN BENTUK HERMENEUTIKA ISLAM

.

TAKWIL SEBAGAI ASAS TEORI SASTRA DAN BENTUK HERMENEUTIKA ISLAM

Pengarang : Abdul Hadi M W
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 161  kata: 900   Diterbitkan di: Februari 29, 2008
Gagasan dan usaha untuk menggali, meneliti, dan mengembangkan teori sastra yang pernah dan sedang tumbuh dalam tradisi intelektual Islam, patut disambut dengan gembira sebab sangat tepat pada waktunya.
Teori-teori dan kaidah-kaidah yang digunakan itu ternyata banyak yang tidak bersesuaian dengan asas falsafah dan wawasan estetika yang melatari penciptaan karya-karya yang dikaji sehingga berbagai kejanggalan dalam penilaian dan pemahamannya sering pula terjadi. Terlebih-lebih di Indonesia, disebabkan tiadanya teori yang sesuai untuk mengkaji karya-karya bercorak Islam, menyebabkan banyak karya bercorak Islam diketepikan dalam dunia penelitian dan kajian. Padahal sejak tiga dasawarsa yang lalu telah banyak muncul karya penulis muslim yang bukan saja signifikan serta mendapat penerimaan luas di kalangan pembaca tua dan muda, melainkan juga tidak sedikit yang benar-benar didasarkan wawasan estetik dan pandangan dunia (worrldview) yang berkembang dalam tradisi intelektual Islam.
Pengubahsuaian ke dalam ungkapan estetik sastra itu dapat disebut sebagai simbolisasi atau pemisalan; dari kata mitsal yang artinya, salinan, simbol, gambaran dari sesuatu yang dimisalkan, yaitu gagasan, pengalaman batin dan pandangan dunia (worldview) penulis. Apabila kita membaca, misalnya karya Fariduddin al-`Attar, seperti Mantiq al-Tayr; karya Rumi Matsnawi; karya Sa`di seperti Bustan dan Gulistan; begitu juga puisi-puisi Hamzah Fansuri dan Muhammad Iqbal; tidak akan diperoleh pemahaman yang mendalam dan tepat, serta tidak diperoleh kenikmatan estetik yang memadai pada waktu kita membacanya, apabila kita tidak merujukkannya pada ayat-ayat Alquran atau kisah-kisah dalam Alquran atau pesan moral dan kerohanian yang terdapat dalam beberapa ayat penting Alquran. Unsur-unsur sastra dan wawasan estetika yang terdapat dalam karya penulis di atas juga tidak sedikit yang diilhami ayat-ayat Alquran.
Kalau kita membaca secara mendalam buku Iqbal yang terkenal Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam, dan juga buku karangan Ali Syariati yang berjudul Haji; akan tampak bagaimana kaidah takwil atau hermeneutika diterapkan dalam penulisan wacana intelektual yang tidak hanya bercorak spiritual, tetapi juga bercorak falsafah dan memiliki konteks kesejarahan yang jelas. Mengapa hal-hal yang bersifat kesejarahan dan sosiologis dari teks dapat dikaji menggunakan kaidah takwil? Jawabnya karena konteks sejarah dan sosiologis yang ikut melatari penulisan teks atau karya sastra, sebagaimana pesan moral dan kerohanian teks, sering hanya disajikan secara tersirat atau implisit dan tidak secara tersurat atau eksplisit, atau diisyaratkan; sehingga tersembunyi di bawah permukaan ungkapan.
 Kita hanya dapat menafsirkan dengan menggunakan kaidah takwil, artinya kaidah yang memungkinkan kita mencari makna batin atau esoteris yang disembunyikan dalam paradoks tersebut. Karena dalam pandangan seorang muslim sesuatu yang batin itu mendahului sesuatu yang zahir, maka duduk yang dimaksud dalam baris itu ialah batinnya yang duduk, yang tidak lain adalah keimanannya yang teguh kepada Tuhan, sedangkan berjalan merujuk pada aktvitas sosialnya.
Sudah tentu yang dimaksudkan bukan rupa-Nya yang zahir yang dapat dilihat dengan mata, tetapi rupa batinnya yang hanya dapat dirasakan oleh mata hati, yaitu rasa keimanan yang dalam (Abdul Hadi 1995: 24-6). Abdul Razaq al-Kasyani, seorang sufi abad ke-13 M, menghubungkan tradisi takwil dengan sabda Nabi yang populer dan bermaksud, "Tidak ada ayat Alquran yang tidak mempunyai makna zahir dan sekaligus makna batin, batasan (hadd) dan sekaligus tempat ke mana kita melakukan pendakian" (Murata 1992:301), sedangkan mengenai keberhasilan penerapannya al-Kasyani mengatakan bahwa dalam takwil seseorang tidak cukup hanya menggunakan logika dan pikiran. Seorang penakwil harus juga menggunakan intuisi dan imaginasi kreatifnya, melibatkan diri ke dalam keseluruhan pergerakan teks, menyatu dengan teks dan membayangkan dirinyalah yang menerima ilham untuk menyampaikan kandungan teks yang sedang dia baca.
Sebagaimana imaginasi kreatif, dunia yang ditempati makna terdalam teks adalah alam yang lebih tinggi dari alam perasaan dan fikiran biasa. Dalam proses pemahaman karya, tahap awal yang biasanya dilakukan adalah menandai apa yang mesti ditandai atau menentukan dilal (tanda) yang signifikan, termasuk bagian-bagian teks yang simbolik atau metaforikal. Dalam pandangan ahli takwil, peranan simbol dalam karya sastra adalah tangga naik menuju kesadaran yang lebih tinggi. Pandangan ini sesuai dengan tujuan karya sastra, yaitu membawa pembaca ke arah kesadaran yang lebih tinggi dari kesadaran biasa. Sahl al-Tustari, seorang ahli takwil pertama yang hidup pada abad ke-10 M, mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan simbolik dalam wacana keagamaan, khususnya kitab suci Alquran, memiliki dua segi penting, yaitu segi hadd atau batas dan segi matla'', tempat mendaki menuju makna yang tinggi dan tak terhad cakrawalanya 3.Roh imaginasi ialah fakulti jiwa yang tugasnya merekam keterangan yang dikirim oleh indera, kemudian menyimpannya dan menyampaikannya pada roh yang di atasnya, yaitu roh akal atau inteligensia. Apabila imaginasi yang pekat dapat dijernihkan, dihaluskan dan dirapikan, maka ia akan dapat digunakan untuk mencapai batas makna-makna yang dapat dicerap oleh inteligensia atau akal budi. Peran imaginasi ialah menghimpun simbol-simol inaginatif bagi keperluan pengetahuan akal. Imaginasi sangat diperlukan dalam penerapan kaidah takwil, namun yang tidak kalah penting ialah roh pemikiran (fikr). Peran roh pemikiran ialah mengambil ilmu-ilmu rasional yang murni dan kemudian melakukan penyesuaian-penyesuaian dan penggabungan-penggabungan untuk membuat kesimpulan-kesimpulan berupa pengetahuan spiritual yang berharga (Misykat hal. 80-2).



Ringkasan lain tentang TAKWIL SEBAGAI ASAS TEORI SASTRA DAN BENTUK HERMENEUTIKA ISLAM
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------