Citra
perempuan Cina Peranakan merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji,karena kaum perempuan Cina Peranakan merupakan pihak yang mengalamidiskriminasi ganda. Mereka menderita ketidakadilan
jender bukan hanya karena warisan kultural yang dibawa
dan negeri asalnya, melainkan juga oleh bias jender yang berasal dan budaya-budaya dominan, semacam Jawa dan Sunda, yang menjadi lingkungan bani mereka.
Sebagai fakta sosial, karya sastra tidak hanya mencerminkan berbagai realitas sosial, baik pandangan dunia, kepercayaan, sistem nilai, norma-norma, maupun adat-istiadat, yang melingkupi pen-ciptaan karya sastra tersebut, melainkan juga mencerminkan tanggapan pengarang terhadap berbagai realitas sosial tersebut, Sejarah sastra Indonesia menunjukkan bahwa
kesusastraan Indonesia kontem-porer bukan sesuatu yang muncul dengan begitu saja dan “langsung jadi”, melainkan merupakan perkembangan lebih jauh dari kesusastraan yang semula tumbuh dengan menggunakan bahasa Jawa, Sunda, dan Melayu, baik Melayu-Tinggi maupun Melayu-Rendah (Sumardjo,1992).
Jakob Sumardjo (1992) membuat periodisasi berdasarkan tahun yang hampir sama dengan Salmon, tetapi dia menyebutmasing-masing periode dengan nama yang berbeda, yaitu Masa Lie Kim Hok (1884-1910), Masa Perkembangan (1911-1923, Masa Cerita Bulanan (1924-1945), dan Masa Akhir (1945-1960).Namun demikian, karya-karya tersebut dianggap tidak memenuhi standar mutu oleh sastrawan Balai Pustaka, yang merupakan aliran dominan (mainstream) padawaktu itu, sehingga tidak dimasukkan ke
dalam daftar karya sastra yang dianggap berbobot.
Untuk memudahkan perujukan, baik dalam pengumpulan maupun dalam penyajian datayang diambil dan sumber primer koleksi Kesusastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia, dalam penelitian ini judul koleksi akan disingkat dengan KMT & KI. Karena Lo Fen Koei dan Oey Se terkumpul dalam koleksi dan jilid yang sama, maka perujukan terhadap kedua novel tersebut juga sama.
Oey Se, dan Nonton Capgome terlihat pada struktur sosial masyarakat dalam novel tersebut, yaitu keberadaan orang-orang Belanda, orang-orang Cina, dan orang-orang pribumi.Komunitas orang-orang Belanda digambarkan sebagai penguasa atau superordinatterhadap
Komunitas yang lain; komunitas orang-orang Cina digambarkan sebagaisubordinat terhadap orang-orang Belanda tetapi superordinat terhadap komunitaspribumi. Dengan demikian, dalam struktur sosial yang digambarkan di dalam ketiganovel tersebut, komunitas pribumi, terutama komunitas muslim. menempati strata yang paling bawah.
Dalam Oey Se, hierarki antara komunitas Belanda, komunitas Cina dan komunitas pribumi, terutama komunitas muslim, juga tercermin dalam penciptaan tokoh dan penokohan, seperti Vigni dan Pix (komunitas Belanda), keluarga Oey Sedan keluarga Tjoa Hoen (komunitas Cina), dan regent Pekalongan, Merto, serta para pegawai Oey Se (komunitas
pribumi muslim). Subordinasi komunitas pribumi terhadap komunitas Cina tergambar dalam cara Thio Tjin Boen menggambarkan tokoh Merto yang miskin, bodoh, dan jahat.Adapun dalam Nonton Capgome, subordinasi pribumi dan supremasi Belanda serta Cina tidak tampak karena Kwee Tek Hoay membatasi tokoh-tokoh yang diciptakannya pada tokoh-tokoh Cina dan tidak memberikan gambaran yang cukup mengenai relasi antarkomunitas di dalam masyarakat.
Ringkasan lain tentang Citra Perempuan Cina Peranakan dalam Kesusastraan Melayu Tionghoa