Hal ini dalam bentuk filsafat
ilmu pengetahuan
dan implikasi-implikasinya yang dirintis sejak jaman Yunani kuno dan diterapkan di dunia Barat sejak Renaissance dan Aufklarung sampai sekarang yang hasilnya berupa IPTEK. Sedangkan ilmu Non Western subjek escape dari kenyataan yang tidak memuaskan.
Meskipun hasilnya bukan sesuatu konsep filsafati yang abstrak, namun para moyang pemikir dan ‘begawan'' ini mampu menciptakan bangunan yang indah dan besar seoperti candi, pura, kapal, dan dukungan teknologi konstruksi kapal. Ilmu falak/perbintangan, ilmu musim, kompas dan kelautan. Juga ilmu-ilmu tentang batin dan jiwa manusia.
Demikian juga
dengan Franz Magnis Suseno yang mencoba mengidentifikasi dunia batin
psikologi orang Jawa sebagaimana dalam Javanese Ethics and World-View The javanese Idea of The Good Life (1997) dan Niels Mulder yang mengeksplorasi Ruang Batin Masyarakat Indonesia
melalui Inside Indonesian Society: An Interpretation of Cultural Change in Java (2001).
Hermeneutika (Yunani: Hermes: Hermeneuien:''menafsirkan'') akan merekonstruksi dan mereproduksi maksud pendapat/perasaan sebagaimana tertera dalam
suatu teks
atau simbol dengan cara mentransposisi suatu peristiwa sejarah dan apa yang terjadi pada masa lalu ke kondisi aktual masa kini. Semuanya tidak untuk diulangi melainkan diberi makna baru melalui penafsiran kembali melalui kerangka pengalaman penafsir yang aktual/dalam kondisi masa kini. Hasilnya adalah sesuatu yang maknawi dalam dimensi yang lebih luas. Misalnya dengan mengkaji dongeng-dongeng yang berkembang di tiap daerah di Indonesia yang merupakan produk masa lalu diboyong ke masa kini dan diberi makna untuk dapat diterapkan ke masalah yang lebih luas, misalnya psikologi.
Diantara kolektif dalam berbagai macam versi yang berbeda dan bersifat tradisional baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat / mnemonik device (Danandjaja, 2002:2). Folklore biasanya mempunyai bentuk yang berpola sebagaimana dalam cerita rakyat atau permainan rakyat pada umumnya. Folklore pada umumnya mempunyai kegunaan atau fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif misalnya cerita rakyat sebagai alat pendidik, hiburan, protes sosial, dan proyeksi suatu keinginan yang terpendam.
Penelitian folklore dapat juga dimanfaatkan untuk bidang Psikologi, karena folklore mengungkapkan secara sadar atau tidak sadar bagaimana suatu kolektif masyarakat berpikir, bertindak, berperilaku, dan memanifestasikan berbagai sikap mental, pola pikir, tata nilai, dan mengabadikan hal-hal yang dirasa penting oleh folk kolektif pendukungnya. Misalnya bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Minangkabau melalui pepatah, pantun, dan peribahasa. Demikian juga bagaimana norma-norma hidup dan perilaku serta manifestasi pola pikir dan batiniah masyarakat Jawa melalui permainan rakyat (dolanan, tembang), bahasa rakyat (parikan, tembung seroja, sengkalan, dsb.), puisi rakyat, ragam seni pertunjukan, lelucon, bahkan manifestasi dalam fisik kebudayaan seperti batik, wayang, tarian, dan sebagainya.
itu dalam antropologi psikologi ada upaya menjembatani kebudayaan dan kepribadian yang pada intinya merupakan interdisiplin antara antropologi dan psikologi (Barnouw, 1963;Danandjaja 1994). Dengan mengambil konsep Francis L. K. Hsu (1961;Danandjaja 1994) maka psikologi masyarakat Indonesia dapat dipahami melalui pengkajian folklore nusantara sebagai dasar pemahaman psikologi berbasis budaya Indonesia dapat diupayakan dikaji melalui kajian kebudayaan (Culture on Studies) khususnya folklore dengan menitikberatkan: • Cross cultural studies atau pengkajian lintas budaya mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya melalui analisis kritis berbagai folklore yang berkembang dan menyebar di nusantara.
Ringkasan lain tentang Memahami Psikologi Masyarakat Indonesia melalui Pengkajian Folklor Nusantara