Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>ANALISIS PRAGMATIS NOVEL BERJUANG KARYA LIEM KHING HOO

ANALISIS PRAGMATIS NOVEL BERJUANG KARYA LIEM KHING HOO

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Heru Supriyadi
ª
 
Penokohan diartikan sebagai pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2000 : 165). Adapun tujuan penokohan adalah untuk mencapai suatu pemahaman ketokohan seorang individu dalam suatu komunitas tertentu, melalui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan. Tujuan lain penokohan adalah memperdalam pengertian kita terhadap komunitas tertentu tempat tokoh atau individu itu hidup. Yang lebih penting lagi, seorang individu akan banyak mengungkapkan motivasi, aspirasi, dan ambisinya tentang kehidupan dalam masyarakatnya (H. Arief Furchan dan H. Agus Maimun, 2005 : 7). Dalam novel Berjuang karya Liem Khing Hoo, pemaparan unsur tokoh dan penokohan dapat disimak sebagai berikut. Tokoh dan Penokohan Novel Berjuang Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, tokoh Ing-Yong dalam novel Berjuang sebagai tokoh utama. Kita musti selalu jadi” Begitulah Ing-yong bicara dengan bernafsu dan lebih jau ia laulu tuturkan dengan jalan palan-plan yang ia suda atur dan rencanakan sedari tempo yang lama. ( Berjuang , 2000 : 115) Bab II “Sebenernya memang begitu,” Ing-yong kata pulah. “Angen-angenlah yang bisa bikin manusia bisa malang melintang di seluruh muka bumi, angen-angenlah yang bikin kita tida merasa bosen….” ( Berjuang , 2000 : 131) Bab III “Ya,” katanya Ing-yong; “aku menikah padanya kerna kita saling salah mengerti, aku kira kau suda lupaken dan tida tungguin aku.” ( Berjuang , 2000 : 173) Bab IV Meski Cuma buat sekolahan rendah, Ing-yong tidak mau ambil cara-cara mengajar yang suda ada, hanya dengen berunding dengen brapa ahli anderwijs marika telah ciptaken satu cara pelajaran dan pendidikan yang selaras dengen kebecikan, pergaulan, dan kebutuhan hidup dengan tempat dan masyarakat yang marika diamin, agar nanti dewasanya itu anak-anak tidak asing dengen pergaulan hidup dan kediamannya sendiri.” ( Berjuang , 2000 : 194) Tokoh tambahan dalam novel Berjuang adalah tokoh perjuangan wakil dari Semarang, Rembang, Batavia, dan Bandung.
Masing-masing aken boleh punyain milik sendiri-sendiri, tapi sekarang adalah marika terus bakat dan membabat dengen sama-sama dan nantilah kala itu suda jadi datar, bagilah itu tanah pada masing-masing dengen sama rata, dengen Ing-yong tetep aken jadi marika punya laider yang sympathiek. ( Berjuang , 2000 : 135) Kutipan tersebut merupakan wacana yang bermanfaat bagi pembaca bahwa kebersamaan merupakan konsep dasar kesatuan dan persatuan untuk menyelamatkan bangsa.

Diterbitkan di: 29 Februari, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.