Inilah dasar peradaban pencerahan yang menempatkan
manusia sebagai pelaku otonom untuk memaknai, memberi arti lewat kesadaran rasionalitas. Dalam perkembangannya, posisi sentral manusia dinobatkan sebagai “agency” (baca: aktor/pelaku pemakna hidupnya). Bersama dengan rasionalisme yang terus memuncak pada idealisme, si manusia aktor ini dengan distansi rasionalnya membuat relasi-relasi dengan realitas sebagai rajutan subjek menggarap objek. Yang lain atau ‘alterity’ (alter = yang lain atau ‘the other’) diperlakukan sebagai objek. Realitas adalah objek yang dianalisis oleh pikiran manusia. Realitas adalah ‘yang lain’ yang mau dikuasai, dikategorikan, dipetakan hingga berada di bawah kontrol budi rasional manusia. Berpikir, menyadari realitas sama dengan menaruh yang lain dalam
dan sebagai objek kesadaran (cogito) manusia.
Karena manusia tidak otonom dan bukan subjek rasional merdeka kehendak kalau ia terlahir miskin karena dikonstruksi oleh relasi ekonomis modal dan tanpa alat kerja. Ia juga tidak “happy”
diri ketika hasil kerjanya tidak ia nikmati tetapi
menjadi milik orang lain kala ia terlahir sebagai buruh murahan (buruh yang diupah murah?) atau petani tanpa tanah. Konstruksi material ekonomis dan sosial-lah yang menentukan siapa diri manusia dalam perumusannya.
Sederhananya: manusia lahir ia sudah dikondisikan dan dibentuk oleh tradisi atau
bahasa ibu untuk mempelajarinya agar eksis, agar tampil dan bisa berwacana. Bagaimana bila bentukan bahasa ini merupakan “bahasa bekas penjajah”? Bagaimana pula bila pikiran penjajah yang menaruh terjajah secara bahasa selalu sebagai budak, objek sehingga dibatinkan pula selera penjajah mengenai kecantikan yang putih; wajah citra indo; lalu penanaman baik dan buruk lewat bahasa? Lalu lewat simbol dan tanda-tanda apa dampak-dampak penjajah kultural pada proses perumusan diri terjajah secara individual, secara kolektif sebagai bangsa? Pokok-pokok pertanyaan tajam di atas menjadi lanjutan studi mendalam postkolonialisme mengenai diri dan identitasnya sebagai bangsa yang pernah mengalami kolonialisme. Namun sebenarnya ada 3 sebab utama yang menjadi sumber mengapa otonomi diri individu rasional proyek Pencerahan diruntuhkan oleh peran bahasa dan sistem tanda dan makna yang mengkonstruksi diri manusia. Yang pertama adalah jasa Louis Althusser mengenai teori konstruksi dibentuknya diri oleh bangunan ideologi sebagai sistem makna yang menerangkan kenyataan dan membuat realitas bisa dipahami. Althusser menunjukkan bahwa pemberi dan penentu makna yang mengajari masyarakat untuk berelasi sosial adalah kelas penguasa yang memiliki kekuasaan hegemoni tafsir makna dan tafsir hubungan antar anggota.
Untuk memahami kode bahasa dalam menangkap makna
teks itulah ilmu menafsirkan teks yaitu hermeneutika diluaskan dari teks eksegese (menafsir teks-teks kitab suci) menjadi hermeneutika tekstual antar teks berkat jasa Dilthey dan tokoh Gadamer---yang berutang budi pada Martin Heidegger lantaran bahasa eksistensi meng-ada manusia sebagai Dasein dalam ruang dan waktu harus diperbarui agar manusia menjadi sang pendengar Sabda dan sang pencipta bahasa. Hermeneutika teks dalam konteks diri manusia dengan relasi sosialnya, dan dalam relasi berbahasa dan berelasi sistem tanda itulah dirumuskan “siapa aku/diri ini dan siapa diri yang lain atau ‘the other’ (alterity) itu”?
Dan pada saat yang sama diri manusia dan sesamanya dalam konstruksi misalnya hidup bersama dalam bernegara akan ditentukan pembentukannya oleh konstruksi-konstruksi ekonomi, kapital. Ketidakmampuan menciptakan egalitarianisme dalam keadilan ekonomis maupun keadilan politis yaitu demokratisasi akan membuat siapa kuat ekonomis dan politis akan menindas yang kalah ekonomis dan politis. Konsekuensi yang ketiga, setiap ikhtiar merumuskan siapa manusia dan sesamanya mesti menjadi proyek kultural seluruh teks dan antar teks yang berarti misalnya, seni, harus ditafsir dinamikanya bukan dari konsepsi rasionalnya tetapi dari praxis perayaan dan penghayatannya untuk dan dalam memuliakan si manusia, lingkungan dan sesamanya manusia.
Ringkasan lain tentang RUMITNYA PENCARIAN DIRI KULTURAL