Pada akhir pekan, 2 Juni 2007, sebuah buku
kritik sastra berjudul Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia (Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2007) karya Maman S Mahayana, diluncurkan di tengah-tengah Pesta Buku Jakarta 2007, di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Buku setebal 436 halaman ini segera mengisi kelangkaan buku kritik
sastra di Indonesia.
Pada sesi diskusi Pesta Penyair Indonesia di Medan, akhir Mei 2007, kritikus sastra ini mengeluh kesulitan untuk menerbitkan buku-buku kritik sastra yang telah ditulisnya. Padahal, buku-buku itu telah dikerjakannya dengan penuh kesungguhan dan kerja keras berbulan-bulan. Sementara, ironisnya, di kalangan sastrawan masih terdengar keluhan masih minimnya buku-buku kritik sastra. Buku Korrie tentang Angkatan 2000 dalam sastra Indonesia juga macet di penerbit sejak tahun 2002, sehingga yang terbit baru satu jilid dari rencana tiga jilid.
Tak lama sebelum Ekstrinsikalitas, beberapa buku kritik sastranya pun telah terbit, seperti 9 Jawaban Sastra Indonesia, Sebuah Orientasi Kritik (Bening Publishing, 2005), dan Bermain dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik (Gramedia, 2006). Terbitnya buku Ekstrinsikalitas penting dan menarik. Penting, karena selain mengisi kelangkaan buku kritik sastra, melalui buku ini Maman juga mengajukan tesis baru untuk mengubah tradisi kritik sastra Indonesia.
''Jalan lurus'' yang ditawarkan Maman dalam buku ini adalah
analisis sastra yang mempertimbangkan aspek-aspek ekstrinsikalitas, yakni aspek-aspek di luar teks sastra, seperti sejarah, politik, budaya, filsafat dan ideologi. Sehingga, hasil analisis suatu karya sastra menjadi lebih kaya, karena tidak sekadar tekstual namun kontekstual. Jadi, dalam mengkaji karya sastra kita juga perlu melihat asbabun nuzul-nya, atau faktor-faktor ''di luar karya sastra'' yang ikut mempengaruhi dan melatarbelakangi kelahirannya.
Namun, yang menjadi persoalan, menurut Maman, adalah masih dominannya analisis struktural dalam tradisi kritik dan pengajaran sastra di Indonesia -- sebuah model analisis tekstual yang miskin, kering, dan sering menyesatkan. Karena itulah, melalui buku ini Maman mengajak ''kaum strukturalis'' di Indonesia -- mereka yang masih mempraktekkan analisis struktural dalam mengapresiasi dan mengkaji karya sastra -- untuk segera ''bertobat'' dan kembali ke ''jalan yang lurus''.