Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Monginsidi, Chairil, Kartini

.

Monginsidi, Chairil, Kartini

Pengarang : Goenawan Mohamad
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 56  kata: 600   Diterbitkan di: Februari 20, 2008
Namun kata-kata “sekali berarti (se)sudah itu mati” —
kalimat dramatik yang menunjukkan dekatnya jarak antara perbuatan yang
berarti dan hidup yang berakhir – agaknya tak berlaku buat riwayat
hidup Diponegoro. Pemimpin perlawanan itu ditangkap dan dibuang
ke Sulawesi dan baru wafat 25 tahun setelah itu. Ia sempat merampungkan
otobiografinya dalam bentuk tembang. Usianya 70..
Mungkin ”sekali berarti, (se)-sidah itu mati” lebih tepat buat Chairil
Anwar sendiri.
Ia meninggal pada usia 27 tahun. Ia tak memimpin gerilya dan ditembak
mati regu eksekusi penguasa kolonial seperti Monginsidi.
Tapi seperti anak muda yang aktif dalam perjuangan bersenjata Di
Polobangkeng itu Chairil menimbulkan pertanyaan yang penting buat zaman
ini: kenapa anak semuda itu bisa membuat sesuatu yang begitu berarti
dan dikenang terus?Tidakkah dunia seharusnya selalu bagai ditemukan buat
pertama kalinya, penuh kejutan yang menarik, seperti digambarkan
Chairil dalam sajak pendek Malam di Pegunungan: sementara aku berpikir
mencari jawab tentang sebab dan akibat, seorang “bocah cilik” menemui
hidup dengan “main kejaran dengan bayangan.”
Kiranya memang hanya si “bocah” – dan mereka yang masih punya
ke-bocah-an dalam dirinya — yang tak takut untuk melakukan hal-hal yang
ganjil; “main kejaran dengan bayangan”. Kita sering mendengar orang menyebut Sturm und Drang
— yang berasal dari gerakan sastra Jerman abad ke-18, yang mengutamakan
cetusan subyektif dan spontan dalam kreatifitas untuk melawan kekuasaan
nalar dan pengagungan sikap beradab di masa itu – sebagai sebuah
periode remaja. Dengan kata lain, sesuatu yang sementara dan tak serius.
Tapi kepada yang meremehkan yang muda itulah Werther, tokoh karya
Goethe yang terkenal, Die Leiden des jungen Werthers (Kesedihan hati
Werther Muda), membela diri: ia mengakui gairah dirinya selalu
mendekati tarap tanpa nalar dan berlebihan, tapi ia tak malu. Kreatifitas memang memerlukan gairah dan satu dosis
keedanan – itu sebabnya prosesnya bisa tampak tak tetap, melimpah ruah,
penuh Sturm und Drang, deru dan desak, yang menyebabkan puisi Chairil —
yang ditulis di tahun 1940 ketika kekuasaan kolonial runtuh dan tentara
pendudukan Jepang berakhir dan Indonesia baru berteriak sebagai bayi
baru lahir – adalah bagian yang terkena “angin yang keras”.
Ia melampaui tata yang mati, meninggalkan apa yang disebut Rendra
sebagai “kebudayaan kasur tua”, mencetuskan imaji-imaji yang tak
terkendali oleh adab, dan merupakan elan yang menjulang dan menghempas.Beberapa tahun setelah ia menuliskan surat-suratnya
yang kemudian termashur itu – cerminan rasa gelisah dan protes
perempuan yang hidup dalam masyarakat aristokrat Jawa di akhir abad
ke-19, observasi dan komentarnya tentang lingkungan kolonial yang
timpang dan menekan, cita-cita pribadinya yang tak sampai — Kartini
meninggal di tahun 1904.

Umurnya baru 25.

Ia meninggal sebagai seorang ibu.
Di akhir hidupnya yang pendek ia isteri kedua seorang bupati yang,
betapapun terpelajar dan penuh kasih sayang kepadanya, tetap bagian
yang jinak dari tata yang tertib.

Tak mengherankan bila Hari Kartini adalah hari ketika para perempuan
berpakaian adat, bukan berpakaian pilot atau atlit angkat besi.
Dalam hal itu, nasibnya lebih buruk ketimbang Monginsidi. Pemimpin
perjuangan bersenjata itu berakhir dalam mati, Kartini dalam “tua”.
Betapa menyedihkan: ia tak tampak sebagai seorang atlit yang mati muda.
Simone de Beauvoir pernah mengatakan, lawan dari hidup bukanlah
kematian, melainkan ketuaan. Jika kita ingin mengenang Kartini dengan
baik, kita harus mengenang tragedinya.

Ringkasan lain tentang Monginsidi, Chairil, Kartini
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------