.

Banjir

Pengarang : Goenawan Mohamad
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 18  kata: 600   Diterbitkan di: Februari 20, 2008
Foto itu seperti sebuah lukisan surrealis yang setengah seram setengah lucu: di sana tampak sebuah kota, tapi tanpa trotoar dan bulevar. Yang mempertautkannya adalah air coklat yang menggenang tinggi di sela-sela gedung-gedung megah, seakan-akan ruang telah disihir jadi cair, sementara ribuan penghuni berderet menadahkan tangan kepada kekuatan yang entah di mana… Tapi ini Jakarta. 
Ini kota modern dengan bangunan yang disebut “World Trade Center”, sebuah gedung pasar modal yang sibuk, ratusan bank yang aktif, ruang-ruang belanja luas dengan etalase Hugo Boss, Prada, Gucci, Bvulgari, Bank & Olufsen, dan Cartier, tempat parkir dengan mobil BMW, Jaguar dan Ferrari, sejumlah hotel bintang lima dan restoran yang menyajikan santapan dari pelbagai penjuru dunia, juga apartemen menjulang dengan jaringan internet, beberapa sekolah tinggi yang masyhur, serangkaian studio televisi yang mentereng dan gedung pemerintahan pusat yang gagah, termasuk Istana Presiden dan kantor kabinet… Ini juga Jakarta yang lumpuh karena banjir.
Ia jadi semacam makhluk takhayul yang mengatakan, “aku tak terlihat, tapi bisa kadang-kadang muncul di depanmu”. Negara tak terlihat, sebab konon dalam keadaan itu dialah yang mengatur peri kehidupan bersama dengan birokrasi yang impersonal: petugas di dalam gedung pemerintah dan di balik meja itu bukan wajah seseorang. Ia perpanjangan dari sesuatu yang universal, seperti dibayangkan Hegel. Dengan itulah wibawa dan kekuasaan tumbuh. Tapi dalam pengalaman sehari-hari kita, itu hanya sekilas penampakan. Di momen berikutnya, ketika anda masuk ke gedung itu dan duduk menghadap sebuah meja, “Negara” pun jadi kasat mata. Ia tampak dalam sosok seorang pejabat, yang ternyata telah mengubah sesuatu yang impersonal jadi sesuatu yang personal.
Yang saya tahu “mukjizat” itu di Jakarta selama ini hanya ditandai oleh etalase Hugo Boss, Prada, Gucci, Bvulgari, Bank & Olufsen, dan Cartier, tempat parkir dengan mobil BMW, Jaguar, Ferrari, dan seterusnya — lambang-lambang kekuatan yang ternyata juga tak berdaya, bahkan seakan-akan tak peduli, bila kota dihantam banjir. Agaknya “tangan yang tak terlihat” yang berkerja dalam mekanisme “pasar” itu juga semacam makhluk takhayul, meskipun dengan sosok yang berbeda: sebuah kekuatan yang entah di mana asal dan pusatnya, yang konon bisa mendisiplinkan “pasar”, yang bisa menegakkan tatanan sosial tanpa arahan dari atas, dan juga mengandung daya menyeleksi mana yang layak dan tak layak dalam persaingan.
“Tangan yang tak terlihat” itu ternyata acapkali tampil melalui medium: mereka yang punya hasrat untuk membangun mall tapi tak punya hasrat untuk menyiapkan lingkungan yang tahan banjir. “Pasar”, seperti halnya “Negara”, adalah wacana, dan tiap wacana hadir lewat pergulatan politik untuk membuatnya sah dan efektif. Dengan kata lain, “tangan yang tak terlihat” hanya bisa ada karena bergandeng tangan (atau sebaliknya saling jotos) dengan tangan yang terlihat – tangan yang menyogok, tangan yang pelit, juga tangan dengan tinju yang marah karena berhari-hari rumah tenggelam, harta punah, sanak saudara mati.

Ringkasan lain tentang Banjir
Banjir  oleh  Goenawan Mohamad    2008 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------