Kini,
tiap kali curah air dari langit menderas,
kita dengan telaten tapi cemas
mengikuti berita radio tentang berapa meter tinggi air bah yang merasuki dusun
dan kota, meringsek rumah dan sekolah, klinik dan restoran, melumpuhkan
komunikasi telepon dan mengganggu perdagangan.Saya
tak mengatakan hal yang baru jika
di sini saya tulis bahwa banjir, tanah
longsor, tanggul yang bobol, rel kereta yang rusak, roa-roa yang remuk—dan
akhirnya
bumi yang semakin panas karena lapisan ozon yang melenyap—adalah akibat
”kemajuan” yang rakus dan hasrat ”memperbanyak” yang tak jera.Padahal tiap potong kursi yang dibuat dari kayu hutan tropis, tiap are tanah
yang diambil buat pusat perbelanjaan, tiap lembar kantong plastik yang dibuang
sebagai sampah, tiap tetes sabun deterjen yang tercecer, tiap liter bensin yang
diuapkan sebagai karbon dioksida, tiap butir zat kimia sintetis yang mengalir ke
kali—semua itu pada akhirnya menghimpun sebuah daya yang membalik dan
destruktif: semula dengan gemuruh manusia mengalahkan alam, tapi kini ia seperti
tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.Dalam kamus yang disusun Empu Bahasa termasyhur itu, W.J.S.
Purwadarminta, Baoesastra Djawa, yang terbit pada tahun 1939, dunung tak cuma
berarti tempat (enggon) atau wilayah (wewengkon), tapi juga posisi yang pas
(prenah).Dunia—yang sebenarnya berisi keragaman yang tak tepermanai, juga khaos yang
rumit dan endapan sejarah yang dalam—telah direduksi jadi petak yang
jinak. Dunia jadi sebuah
gambar. Tapi ”gambar dunia” itu (Weltbild, konon
kata Heideg-ger) bukanlah gambar tentang dunia, melainkan ”dunia” yang ditatap,
disetel, dan dikonsep sebagai ”gambar”. Karena kita terbiasa mengukur ruang yang bak gambar itu dengan angka—dengan
hektare, volume, dan rupiah—kita pun terbiasa menyangka bahwa yang pas adalah
yang harus dapat dibandingkan dengan posisi orang lain, atau posisi kita sendiri
sebelumnya, sementara perbandingan itu berlangsung tak habis-habisnya. Posisi yang pas itu, dunung, adalah posisi dalam apa yang disebut Heidegger
”empat lipatan”: di atas bumi, di bawah langit, di antara makhluk yang fana, di
hadapan yang ilahi. Di sanalah manusia tak terasing, sebab ia tak
melepaskan diri dan tegak sendiri sebagai sang penakluk. Ia tahu ia tak akan
pernah selesai merengkuh. Rakus—tak hanya dalam hal tanah, tapi dalam segala
hal—hanya akan membawanya kepada ilusi tentang kenyang, yang bersifat sementara,
setelah ia memperkosa bumi. ”Bumi seperti seorang anak yang kenal sajak,” kata
Rainer Maria Rilke dalam Soneta Buat Orfeus. Bumi, tanpa kita
sadari, mengenal ritme, kejutan, keakraban, keterpautan yang intens dengan
kita—bumi yang menyebabkan hujan seakan-akan berbicara nyaman, bukan terancam,
bukan mengancam.
Ringkasan lain tentang Hujan