Mereka tiba
di tanah Sinear di sebelah timur.
Mereka berniat menetap. Mereka
berencana membangun ”kota
dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit”.
Mereka ingin ”cari nama”, agar
tak ”terserak ke seluruh bumi”. Tapi kisah
Alkitab tentang Menara Babel ini berakhir muram. Tuhan murka.Anda bisa katakan, tindakan Tuhan itu sebuah laku divide et impera yang purba,
modus si kuasa menghadang lawan yang hendak menandinginya. Tuhan,
dalam Kitab Perjanjian Lama (dan juga dalam sajak Amir Hamzah), memang disebut
”cemburu”. Tapi Anda juga bisa katakan, yang terjadi hanyalah
pengukuhan nasib manusia: terserak-serak, tanpa bahasa yang universal, tanpa
makna yang dapat diterima jelas kapan saja
dan di mana saja. Orang tahu, Tuhan yang disembahnya melampaui takaran ”manusia yang
terbatas”. Sementara itu manusia sendiri ”terus-menerus
tergoda untuk lupa akan keterbatasan kebudayaan dan peradabannya”, dan mengira
mampu menangkap kebenaran yang terpuncak. Di atas bumi, bahasa adalah percobaan terus-menerus dalam ruang
& waktu untuk menerjemahkan dan diterjemahkan—sebuah proses yang selamanya
dirundung frustrasi. Ada satu ilustrasi yang tajam tentang frustrasi
itu. Dalam film Babel karya sutradara Alejandro González
Iñárritu, Chieko—si gadis bisu-tuli di Tokyo yang riuh—tersisih, ditolak, dan
putus asa ketika ia hendak menjangkau orang lain dengan kata-kata yang bukan
miliknya.Film ini memaparkan bagaimana manusia, dipertemukan di perbatasan, justru
dihubungkan oleh salah paham yang kejam dan paranoia yang pekat. ”Dunia
Ketiga” tampak sebagai teror kekal bagi ”Dunia Pertama”. Di tepi gurun, turis
Amerika itu waswas bahkan terhadap es batu bikinan Maroko (”Kau tak tahu dari
air apa itu dibuat,” katanya). Di bagian lain, seraya memasuki
Kota Meksiko, si bocah Amerika dengan cemas berkata, ”Kata Mama, Meksiko itu
berbahaya.” Babel, sebuah portmanteau, memang serangkai cerita tentang kontak
antarmanusia yang tak terelakkan tapi tak membuahkan pertemuan. Seorang anak gembala di bukit-bukit Maroko ingin menguji ampuhnya
senapan yang baru dibeli bapaknya, dan seorang perempuan Amerika, seorang turis,
luka parah karena tindakan yang tak sengaja itu.Sementara itu, Amelia, batur Meksiko yang bekerja di sebuah keluarga Amerika,
membawa kedua anak majikannya ke kampung untuk ikut pesta pernikahan yang
asyik. Tapi keasyikan dan hangatnya persaudaraan berakhir
di tapal batas yang angkuh, di hadapan kekuasaan Negara yang brutal: gerbang
imigrasi.Ada sebuah dialog pendek yang ditulis Kafka tentang Babel: ”Apa yang kau
bangun?” ”Aku ingin buat lorong di bawah tanah. Harus ada kemajuan
biarpun sedikit. Posku di atas sana terlampau tinggi.” ”Kami menggali liang
Babel”. ”Liang”, bukan ”menara”: kiasan untuk sesuatu yang rapat
ke bumi, seperti kubur, lorong yang akrab dengan mereka yang dicampakkan dan
yang tak berdaya. Di sinilah—bukan di langit—komunikasi
berlangsung sebagai empati, bahkan di antara sesama yang berbeda sejarah.
Dalam filmnya, Iñárritu menampakkan momen itu di se-buah rumah buruk di satu
kota kecil Maroko. Perempuan Arab tua penghuni rumah itu membelai
rambut si wanita Amerika yang luka dan terbujur ketakutan; ia merawatnya,
ia menenangkannya, ia bisikkan Surah Alfatihah di dekat kupingnya.
Ringkasan lain tentang Babel