Tulis ringkasan Anda di sini.
Douwes Dekker memang ada 2
Selama
ini kita mengenal tokoh Douwes Dekker sebagai orang Belanda yang membela rakyat Hindia Belanda yang tertindas.
Nama Douwes Dekker mulai muncul pada masa tanam paksa
atau cultuur stelsel.
Hasil panen jerih payah bangsa pribumi begitu saja diangkut ke Belanda
dan dan memperkaya Belanda mengusik rasa kemanusiaan Douwes Dekker. Dia kemudian menulis buku
dengan judul Max Havelaar dengan menggunakan nama samaran Multatuli.
Setelah memasuki abad ke 19 kita juga mengenal Douwes Dekker yang mendirikan partai yang bernama Indisce Partij dengan dua kawannya yang lain yakni Cipto Mangunkusumo dengan Suwardi Suryaningrat.
Douwes Dekker yang ini kemudian memilih tinggal di Bandung dan mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi. Dan namanya kemudian diabadikan menjadi nama jalan Setiabudi yang berada di utara Bandung dan menghubungkan kota Bandung dan Subang.
Secara akal sehat tidak mungkin Douwes Dekker yang Multatulis adalan juga Setiabudhi. Bukan apa-apa, pelajaran IPS untuk SD kelas 5 mencampuradukkan kedua nama ini menjadi satu. Ini bisa jadi aliran sesat. Ya kalau gurunya aware terhadap materi pelajaran dan mau tahu dan mau cari tahu. Kebanyakan guru kan memakai buku dengan menelan mentah-mentah menganggap isi buku benar semua 100%.
Balik lagi ke Meneeer DD.
Eduard Douwes Dekker (2 Maret 1820 - 19 Februari 1887) atau Multatuli atau Meneer DD senior, adalah kakek dari Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi.
Meneer DD senior adalah adik dari kakeknya Meneer DD yunior
Jadi jelas mereka adalah dua orang dari jaman yang berbeda tetapi memiliki jasa yang sama besar bagi bangsa Indonesia.
Semoga bermanfaat
Ringkasan lain tentang Douwes Dekker Memang Ada Dua