Fenomena
munculnya ajaran-ajaran yang dapat dikatakan sebagai
sempalan dari agama-agama
besar terutama Islam,
menjadi bagian menarik dari wacana yang akhir-akhir ini
beredar. Dimulai dari Ahmadiyah, kemudian Lia Aminuddin, dan wacana besar
berkaitan dengan ini, yang belum lama mengisi benak kita tentu adalah munculnya
“nabi baru” yang sekarang sudah bertobat—Ahmad
Mushaddeg. Gejala-gejala macam apakah ini? Hingga orang-orang seperti Lia Aminuddin
dan Ahmad Mushaddeg dengan terang-terangan mengaku menjadi orang suci yang
diutus Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Munculnya Lia Amunuddin dengan
Jibrilnya dan Ahmad Mushaddeg dengan kenabiannya tentu tidak dapat dipandang
sebelah mata. Meski sekarang Ahmad Mushaddeg sudah bertobat dan Lia masih
mendekam di bui tahanan tentu pertanyaan awal tadi belumlah mampu terjawab
dengan baik oleh berita-berita yang hadir di tengah-tengah kita. Kenabian Ahmad
Mushaddeg dan kejibrilan Lia meninggalkan bekas noda yang sulit dihilangkan di
benak dan hati kita.
Para
nabi terdahulu pada umumnya hadir di tengah-tengah masyarakat ketika kondisi
masyarakat itu dalam kekacauan dan dipenuhi kegilaan—Madnnes. Dahulu, Muhammad juga hadir sebagai pembawa risalah di
antara kaummnya ketika masyarakat Arab dalam kondisi yang pada umumnya dapat
dikatakan tidak manusiawi. Orang-orang bodoh dan gila (harta, minuman, dan
wanita) memenuhi tiap sudut kota, tak terkecuali paman-paman Muhammad sendiri.
Dan pada masa itulah Muhammad hadir dengan membawa perintah Tuhan untuk
meluruskan orang-orang sesat itu. Muhammad tidak hanya dikatakan sebagai
penipu, pendusta, orang sesat, tukang sihir dan semua yang dikatakannya adalah
bualan semata, bahkan karena kenabiannya itu ia harus mengalami penderitaan
dengan diboikot kaumnya sendiri. Itu belum seberapa, tiap hari Sang Nabi baru
inipun harus menerima cacian dan tentu perlakuan yang tidak mausiawi lainnya dari
orang-orang di sekitarnya, terutama beberapa pamannya. Ya...itulah sekilas cerita
tentang seorang Nabi yang di kemudian waktu setelah ketiadaanya, umatnya
mengisi lebih dari sepertiga belahan dunia. Dialah Muhammad Nabi dari Padang
Arab.
Lalu
bagaimana dengan Lia Aminuddin dan Ahmad Mushaddeg atau
aliran-aliran lainya
yang menerima fatwa sesat dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) ini? Apakah
golongan “sesat” ini memiliki kecenderungan yang sama dengan Muhammad Sang Nabi
dari Arab itu, yang dimusuhi oleh kaumnya sendiri karena membawa sesuatu yang
baru atau ada kecendrungan lain yang muncul dengan kehadiran mereka? Meski
pembahasan dalam tuliasan ini tidak sejauh itu dalam menjawab hal ini, namun
upaya yang mengarah ke sana akan tetap diupayakan.
.
Bagaimana
Gejala Spritualitas ini Muncul?
Saya melihat bahwa gejala-gejala semakin banyak
muncul-muncul aliran-aliran ini tidak lepas dari kungkungan Orde Baru dalam hal
praktek keagamaan setiap pemeluk agama. Sekularisasi Orde Baru dalam
pemerintahannya membawa dampak yang kurang bagus dalam psikis umat beragama.
Kehidupan beragama begitu dibuat begitu jauh dengan realitas kehidupan
bernegara yang ada pada saat itu. Bahkan terkadang tekanan-tekanan terhadap
satu golongan agama begitu nyata sehingga suara yeng hendak mereka keluarkan
mendadak menghilang. Demikianlah orde baru begitu berperan dalam membawa
kehidupan agama dalam praktek-praktek atau ritual-ritual ibadah belaka. Meski
tidak selalu begitu, tetapi secara umum seperti itulah kondisinya.
Dan ketika kran demokrasi dibuka lebar-lebar paska
reformasi, maka yang muncul adalah akar-akar dari bawah tanah yang rindu pada
cahaya. Aliran-aliran keagamaan muncul bak cendawan di musim hujan. Dari yang
masih dalam batas wajar dengan contoh menyuarakan puritanifikasi Islam misal, hingga aliran dengan ajaran-ajaran yang
agak berbeda seperti ajaran Lia Aminuddin dan al-Qiyadah al-Islamiyah asuhan Mushaddeg. Kelompok-kelompok ini
muncul karena mendambakan kebebasan ideal menurut masing-masin