Perjalanan ke Jakarta seminggu yang lalu dari rumah, di Jateng membekaskan
satu pengalaman yang cukup mengharukan dan
juga memprihatinkan. Masih terbayang
wajah teman-temanku di sana, di tepi jalan
dengan kantong yang terbuat dari
kelambu mengarahkan ke kendaraan-kendaraan yang lewat, meminta sumbangan
sekedarnya. Koin demi koin terkumpul dengan beberapa lembaran uang seribuan,
mereka senang melakukan itu. “Agar
masjid di desa kita yang dipugar cepat
selesai” Kata mereka. Ya..memang masjid kami masih dalam tahap penyelesaian.
Atapnya saja belum tersentuh genteng dan kayu penopangnya. Terharu rasanya
teman-teman dengan sukarela menyumbangkan tenaganya. Namun sayang saya tak
dapat berbuat banyak untuk masjid tercinta kami itu. Aku hanya dapat membantu
doa saja, semoga tahun depan masjid itu sudah berdiri megah.
Ya...megah..semegah semangat warga desa kami yang bahu membahu membangunnya.
Dari Lebak bulus perjalananku hari itu
berlanjut ke arah Mampang, naik Kopaja 20. Pengamen silih berganti memasuki dan
mengisi keramaian bus dengan suara-suara musik yang mereka lantunkan. Di
Buncit, di depan Kramayuda, bis melaju lambat, seperti jalanan Jakarta pada
umumnya, di sinipun aku terjebak macet. Suasana tidak menyenangkan memenuhi
diriku, panas dan terasa lama. Para pengamen nampak mengantri di tepi jalan,
namun kali ini, seorang pengumpul dana pembangunan masjid yang singgah di bis
yang aku tumpangi. Masjid Ar-Rahman, desa Sukmajaya, ya..itu nama masjid yang akan
dibangun dengan dana sumbangan itu. Aku lihat tulisan ini dilembaran kertas
yang dibagikan oleh seorang bapak dengan pakaian gamis, santun dia berucap.
Shalawat dan salam pada Nabi dan doa ia lantunkan, mengharapTuhan membuka hati
para penumpang bis untuk menyisihkan sebagian kecil harta mereka.
Sampai di kos, kabar tidak mengenakkan terlihat di koran yang aku baca.
Beberapa masjid dirusak sekelompok orang. Gara-garanya, masjid itu milik salah
satu firqah Islam yang dinyatakan sesat. Masjid-masjid itu lumayan rusak parah.
Sayapun jadi heran..ada orang Islam merusak tempat ibadah mereka...? (Ini
asumsi saya). Bisa saja mereka yang melakukan itu dengan sukarela ingin
merubuhkan “rumah” Allah, atau juga karena terprovokasi. Tapi yang jelas tempat
ibadah itu telah rusak...dan mungkin nantinya tak ada yang mau menggunakannnya
lagi karena takut ada penyerangan yang bisa saja datang tiba-tiba. Sangat
disayangkan memang. Masjid yang sudah berdiri kokoh itu harus dilibas begitu
saja.
Rasa iri terkadang muncul di perasaan saya ketika melihat kelompok minor
yang masjidnya di rusak itu dapat membangun masjid tanpa harus meminta
sumbangan di pinggir jalan atau di bis-bis. Sedangkan kami...? Harus menunggu
bertahun-tahun, karena dana yang terbatas, untuk melihat masjid yang kami
bangun berdiri megah. Dan semoga setelah masjid kami itu berdiri megah, tidak
ada orang yang membabi buta menyerangnya. Kami susah payah membangunnya bung,
dan akan kami bela tempat itu mati-matian!
Kapan “rumah-rumah” Allah di negeri ini berdiri dengan tenang? Semoga
segera.