jpgMENJADI
pengelola Tambang Inkonvensional (TI) tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Untuk mendapatkan pasir
timah di perut bumi, selain nyawa menjadi taruhannya, pengelola
juga harus memiliki modal yang cukup.
Sudahlah resikonya tak ringan, tambah Rizky, juga dibutuhkan modal yang tidak kecil. Modal awal saja minimal
Rp7 juta. Dana itu digunakan untuk membeli mesin penyedot air, tanah
Dan paralon. Kebutuhan modal sebesar itu tak semua kelompok mampu. Terpaksa bekerja sama dengan pemilik modal dengan sistem bagi hasil.
Sedangkan biaya 17 liter solar, satu kali makan dan rokok semuanya ditanggung oleh pemilik mesin, pekerja terima beres, termasuk urusan harga dan yang menjual timah. Pekerja tidak tahu menahu berapa harganya, yang mereka dengar harganya Rp 42 ribu per kg. “Kamipun tidak tahu siapa pemilik mesin yang sebenarnya, karena kami hanya berhubungan dengan kaki tangannya. Kalau setelah beroperasi tidak mendapatkan timah, kami tidak perlu mengembalikan biaya solar dan konsumsi, cuma hari itu kami tidak mendapatkan uang.
Untuk modal awal mereka hanya menyewa mesin penyedot air, dengan sewa Rp.5 ribu per kilogram timah yang mereka dapatkan. Seandainya hari itu mereka tidak mendapatkan timah berarti tidak ada setoran. Akan tetapi setiap hari mereka tetap harus mengeluarkan biaya rutin minimal Rp.300 ribu, untuk beli solar Rp.200 ribu, sisanya untuk makan dan rokok. “Biaya itu tetap kami keluarkan, dapat atau tidak dapat timah. Kalau lagi tidak dapat timah terpaksa kami ngutang dulu, pernah sampai dua minggu kami dak dapet ape-ape.
Dengan adanya pungli dan teror dari oknum aparat membuat penambang semakin tidak nyaman bekerja dan sangat merugikan mereka, selain pendapatan mereka berkurang kenyamanan mereka juga terganggu. Mereka juga mengaku tidak berani menolak permintaan oknum aparat. Pernah ada salah satu kelompok mencoba menolak memberi upeti, langsung dihardik oleh aparat disertai dengan ancaman. Mereka mengancam akan menutup tambang. Hal senada juga diungkapkan Darus (50). Menurut Darus, tindakan aparat yang memeras mereka sangat tidak manusiawi.
Ringkasan lain tentang Jeritan Pengelola Tambang Inkonvensional: Sudahlah Biaya Besar, Dipalak Pula