You got to make it out of Badness…. And you know why? Because there isn’t anything else to make it out of” —Willie Stark,
dalam All the King’s Men. Sebuah pilkada, di sebuah musim yang gerah pada 32° C. Ekonomi muram dan timpang, korupsi setengah bersembunyi, dan kemarahan si miskin setengah ditelan. Ini Louisiana tahun 1930-an: hari-hari depresi, zaman hal-hal yang radikal berkecamuk, ketika Willie Stark datang, berteriak, dan menang—seorang
dengan niat baik yang bergelora dan akal yang brutal yang menjamah apa saja. Orang ini akhirnya mati ditembak seorang yang lurus hati, tapi kematian itu tak menyebabkan apa yang kotor dalam proses
politik tertebus.
Ia orang berani yang menunjukkan bahwa pemerintah daerah membuat bangunan itu dengan menunjuk seorang kontraktor yang curang. Semula protesnya tak didengar. Tapi beberapa tahun kemudian, tatkala sebuah tangga kebakaran roboh dan beberapa anak luka parah, orang ingat benarnya kata-kata Willie. Ia langsung jadi tokoh yang diharapkan, dan sejumlah operator politik daerah menyiapkannya untuk jadi calon gubernur.
Yang tak disangka-sangka para operator itu ialah bahwa Willie ternyata bisa tak tergantung kepada mereka. Dengan keyakinan bahwa ia adalah si jujur yang berani bicara dan bertindak, dengan kemampuannya memposisikan diri senasib sepenanggungan dengan para hicks yang miskin dan dibohongi, ia bisa bicara langsung dengan orang ramai itu, memukau langsung dan didukung langsung oleh mereka. Dari politik populis ini Willie kian yakin akan keluhuran niat baiknya bagi orang banyak—sebuah keyakinan yang begitu terang benderang hingga menyebabkan pandangnya silau. ”Cahaya terang yang menerpa matanya membutakannya,” kata Jack Burden, sang pembawa cerita dalam novel ini. Kekuasaan dan keyakinan yang membuatnya jadi perkasa akhirnya membuat Willie kebal, juga terhadap rasa sakit orang lain.
Anak muda yang pernah ingin menulis sejarah hidup seorang tokoh ini pada perkembangannya percaya bukan kepada manusia, melainkan kepada apa yang disebutnya the Great Twitch. ”Kedut agung” ini, dalam pandangannya, adalah yang menentukan hidup. ”Semua kata yang kita ucapkan tak berarti apa-apa dan hanya ada degup darah dan kedutan saraf, seperti kaki seekor katak yang mati di tempat eksperimen ketika setrum listrik itu menjalarinya.” All the King’s Men—jika novel yang ditulis seorang penyair ini agak disederhanakan—adalah catatan yang memaparkan nyaris hilangnya harapan.
Badness, dan tak ada yang lain dari itu, mendasari semuanya. Dunia—juga kemuliaannya—dibangun oleh manusia-manusia yang culas dan korup. Dengan pandangan itulah politik mereka jalankan di Louisiana. Bisa dikatakan All the King’s Men adalah sebuah gugatan kepada politik, juga politik demokratis, yang ternyata tak membuat kehidupan bersama bebas dari nihilisme.
Bukan rumusan baik dan buruk, bukan ajaran bukan agama, melainkan sesuatu yang lebih awal ketimbang itu semua: ketika manusia ternyata bisa menangis dan bertindak mengulurkan tangan ketika yang tak berdaya, yang kelaparan, yang dipermalukan dan dihinakan terkapar di halaman. Politik memang sering menganggap bela rasa itu hanya instrumen. Tapi ada selalu kebutuhan praktis sebuah kota, sebuah polis, untuk terus-menerus melawan, mencegah, agar orang seperti Willie Stark, yang hanya tertarik kepada dirinya sendiri dan hanya percaya akan Keburukan, tak terus-menerus menguasai hidup dan percakapan. Di situ politik berarti sebuah kerja, ketika engkau mengajakku memulihkan kembali harapan: meskipun Kebaikan tak selamanya jelas, Keburukan bukanlah dasar segalanya.