ADA
sebuah revolusi di bulan Agustus 1945—meskipun tak
ADA pemberontakan.
Di Jakarta
hari itu tak ada gelombang
massa yang menghancurkan sebuah
penjara, tak ada tentara rakyat yang menjebol sebuah kekuasaan yang
mencoba terus tegak. Di seberang sana, tak ada barikade, juga tak ada takhta yang bisa memberikan titah agar revolusi dipadamkan.
pada pagi hari 62 tahun yang lalu itu yang tampak hanya sejumlah orang
yang mendengarkan Bung Karno membacakan sebuah teks, yang kemudian
disebut ”Naskah Proklamasi”.Revolusi memang sebuah transformasi: sejak saat itu
sesuatu yang dialami segera jadi sesuatu yang dihayati—ketika orang
mengartikulasikan apa yang terjadi dengan kata, lambang, mitos.
Mereka memberi makna kepada semua itu, dan mendapatkan makna dari sana.
”Indonesia” waktu itu wujud politik dan geografi yang sebenarnya belum
ada; tapi ia telah begitu berarti hingga kelak orang akan
mempertaruhkan nyawa buat mempertahankannya.
Ada yang tak terduga-duga, ketika tiba-tiba sebuah
kekosongan terjadi: di wilayah yang semula dikuasai Jepang ini tak ada
lagi kuasa apa pun yang berdaulat.
Sejarah akhirnya memang bukan sebuah lorong lempang. Selalu ada kelokan mendadak.
Revolusi sering ditulis sebagai ujung yang logis dari sebuah sebab
sosial politik, tapi bahkan Revolusi Rusia—yang mengartikulasikan diri
sebagai revolusi Marxis, bagian dari ramalan ”sosialisme
ilmiah”—sebenarnya juga sebuah kejutan: perubahan besar di bulan
Oktober 1917 itu dilakukan sejumput minoritas, sebuah partai atas nama
kelas buruh di sebuah negeri yang masih agraris, dipimpin Lenin yang
baru saja kembali dari hidup di pengasingan. Di Indonesia, sesuatu yang serba-mungkin telah
berubah: revolusi itu jadi sebuah kata sakti yang kemudian membayangi
terus politik Indonesia.
l l l
KETIKA Bung Karno membubarkan sistem demokrasi parlementer pada tahun
1958, ia membenarkan tindakannya sebagai ”penemuan kembali Revolusi
kita”. Itulah judul pidato pentingnya yang kemudian dikenal juga
sebagai ”Manifesto Politik”.
Tampak bahwa ”Revolusi”—karena getarannya yang dahsyat—tak dilihat
sebagai sesuatu yang lahir dari keadaan serba-mungkin, sesuatu yang
bisa jadi tapi bisa juga tidak.Ketika pemerintah kolonial tak ada lagi, ”tempat yang
kosong” yang ditinggalkan seakan-akan sudah dipesan selama-lamanya
untuk sebuah himpunan politik tanpa konflik, tanpa kongkurensi.
Dan revolusi, sebagai sesuatu yang transformatif, dibayangkan akan
sanggup menghilangkan endapan masa lalu dan membentuk manusia baru:
manusia yang bisa dipastikan seia-sekata.
Tapi mereka yang hendak dibuat bersatu padu—PNI, NU,
PKI, dan dapat dibilang juga ABRI—sebenarnya juga mereka yang bersaing,
saling mengintai, dan saling menerkam. Pada dasarnya mereka
tahu, siapa pun di antara mereka sah untuk mengisi ”tempat yang kosong”
itu. Pada dasarnya mereka juga tahu, Bung Karno, sang ”Pemimpin Besar
Revolusi”, tak akan dapat terus-menerus berada di sana.
Tak urung, revolusi Agustus yang ”ditemukan kembali” itu pun terbentang
antara la politique—yang membuka terus-menerus sifat radikal, agar
perubahan selalu terjadi dan kian demokratis—dan le politique, yang
mengandaikan keutuhan bentuk sebuah bangunan kebersamaan—yang tak
jarang akhirnya mandek, buntu, bahkan represif.Di tengah kesulitan ekonomi dan keterbatasan alokasi
sumber kekayaan ke daerah, dibayang-bayangi Perang Dingin yang merasuk
ke dalam politik dalam negeri, diintai ambisi militer yang menampik
kepemimpinan sipil, demokrasi parlementer dengan segera kehilangan
kemampuannya untuk jadi artikulasi rakyat.
Bung Karno—selamanya curiga kepada apa yang berbau ”Barat”—dengan
segera menganggap sistem ini sebuah cangkokan.
Saya kira di sini kita menyaksikan bagaimana para pendukung demokrasi
parlementer lebih memperhatikan adanya bentuk institusional—parlemen,
mahkamah yang mandiri, dan pers yang bebas—sebagai formula. Hak
seakan-akan diberikan, bukan hasil sebuah perjuangan yang melibatkan
orang banyak. Sangat menarik, misalnya, bahwa di awal Oktober 1945 ada
ketentuan dari Menteri Penerangan bahwa pers ”harus” merdeka. Dalam formula semacam itu, tak ada pengalaman transformatif seperti yang terjadi dalam sebuah revolusi.
Ringkasan lain tentang Ada Revolusi di Bulan Agustus 1945