.

Bergman

Pengarang : Goenawan Mohamad
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 27  kata: 600   Diterbitkan di: Januari 23, 2008
Tuhan pernah jadi beban bagi Ingmar Bergman. Tapi
kemudian beban itu lepas, bahkan jauh sebelum sutradara film ini
meninggal dalam usia 89—dengan nama harum ke seluruh dunia—di Pulau
Farö di Laut Baltik, 30 Juli yang lalu. Ayah itu pendeta Lutheran Swedia yang keras, yang tak
jarang mengurung Ingmar kecil di ruang gelap—seperti yang
bertahun-tahun kemudian digambarkannya dalam tokoh Pendeta Edvard
Vergerus, ayah tiri yang tanpa belas kasih itu, dalam film Fanny och
Alexander (1983).

Film ini adalah kisah Alexander, bocah berumur 10 tahun. ia anak yang peka rasa, agak pelamun, dan terbuka pada khayal yang hidup.
Dibesarkan dalam keluarga Ekhdal yang longgar, sensual, gembira, dan
artistik, ia kemudian masuk ke dunia Pendeta Vergerus, setelah
rohaniwan Lutheran ini menikahi ibunya: sebuah dunia dengan iman yang
teguh, puritan, represif, dan bengis.Satu dimensi lain pun muncul: dalam hidup ada sesuatu
yang ajaib dan mempesona, sesuatu yang bukan duniawi, tapi jauh dari
akidah agama.
Fanny och Alexander, yang mengandung anasir otobiografis yang tebal,
praktis sebuah gugatan kepada ruang terkunci yang bernama ”akidah
agama”. Masa kecil Bergman—seperti dalam kisah si Alexander—adalah tahun-tahun yang dirundung trauma dalam ruang terkunci itu. a ”menentang agama Kristen dengan sangat,” katanya
dalam Bergman on Bergman, Interviews with Ingmar Bergman, ”karena agama
ini dilekati motif penghinaan yang sangat ganas.” Bagi ajaran agama
Kristen yang ia warisi, manusia adalah pendosa sejak lahir. Ia
selalu berada dalam posisi untuk diawasi.
Memang agak aneh, Bergman tak melihat segi lain dari iman Kristen:
adanya keyakinan akan Kasih dan Penebusan. Mungkin karena dalam hidup
Bergman Tuhan hadir lebih sebagai tiran—dan teramat kuat pula
pembangkangannya lantaran itu.
Dalam The Magic Lantern, otobiografinya, ia mengatakan: ”Saya telah
bergulat seumur hidup saya dengan sebuah hubungan yang menyakitkan dan
tanpa suka cita dengan Tuhan”.

Ajal: ”Apa yang kau tunggu?”

Block: ”Pengetahuan.”

Ajal: ”Kamu mau jaminan.”

Dengan kata lain, Block perlu kepastian—yang ia beri nama ”pengetahuan”—karena ia berpijak di sebuah dasar yang sudah guyah. ”Aku ingin Tuhan ulurkan tangan-Nya, tunjukkan paras-Nya, bicara padaku.”

Block memang di ambang murtad. Tapi siapa yang gandrung kepada ”pengetahuan” yang menjamin adanya Tuhan sebenarnya menanggungkan Tuhan sebagai obsesi.
Tak mengherankan bila di depan seorang perempuan yang dihukum bakar
karena dituduh jadi dukun penyebar sampar, Block hanya tertarik pada
persoalan adakah pada saat kematiannya wanita itu melihat Tuhan. Sang kesatria tak tergerak membawakan air untuk si terhukum. Justru Jöns yang tak beriman yang punya belas.

Di sisi lain, di bawah matahari yang cerah, kita lihat
hidup sederhana dan bahagia keluarga Jof, si pemain akrobat, yang tak
memerlukan itu.

”Saya selalu bersimpati kepada orang seperti Jöns dan Jof…,” kata Bergman. Sebaliknya, ia memandang obsesi Block sebagai fanatisme: orang yang pikirannya mengabaikan manusia di dekatnya.
Mungkin itu sebabnya, ketika membuat Vargtimmen (The Time of the Wolf,
1968) Bergman merasa menemukan makna kesucian yang lain: dalam manusia
sendiri.
”Pengertian cinta,” katanya, ”adalah satu-satunya bentuk kesucian yang
bisa kita pikirkan.”
Di sekitar masa itulah ia merasakan ”struktur keagamaan” dalam dirinya,
yang ”berat ke atas”, telah digantikan dengan apresiasi kepada yang ada
di ”bawah”: hidup di bumi yang fana dan penuh salah, tapi mengandung
sesuatu yang suci dan mempesona.Dalam Nattvardsgästerna, Pastor Tomas Ericsson yang
susut imannya akhirnya menjalankan ritual di gereja kosong itu untuk
Marta, kekasihnya, yang konkret hadir di bangku sunyi itu.
Tanpa persentuhan hati semacam itu, kita akan hidup dalam keterpisahan,
seperti kakak beradik Ester dan Anna yang menginap di sebuah kota asing
dalam Tystnaden. Artinya, sekali kita memutuskan Tuhan tak menjawab
lagi, neraka adalah orang lain yang tak peduli.

Ringkasan lain tentang Bergman
Bergman  oleh  Goenawan Mohamad    2008 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------