Tiap gagasan luhur butuh
sebuah cemooh.
Dalam rekaman
sejarah,
manusia berkali-kali menggagas sebuah masyarakat yang
sempurna,
tapi akhirnya ia
perlu sepotong khayal yang agak lucu. Ia perlu Raja Utopus.
Kini kita akan berpihak pada fantasi Thomas More itu.
Utopus berhasil membangun sebuah negeri yang tanpa sengketa, tanpa
ketimpangan, dan tanpa keserakahan—tapi untuk itu ia harus menggali
sebuah kanal dan menegakkan tembok tinggi. Negeri yang sehat walafiat itu mesti dipisahkan dari negeri lain agar tak kena pengaruh buruk.Utopia, negeri itu, akhirnya bukan sesuatu yang layak diidamkan—atau sebuah kesempurnaan yang mustahil.
Dalam kata ”Utopia” (yang bergerak antara uo-topos yang berarti ”tak
bertempat” dan eu-topos yang berarti ”tempat yang baik”) terkandung
ironi. Dalam hal ini, Utopia Thomas More, yang diterbitkan pada awal abad ke-16, telah mendahului suara akhir abad ke-20.
Derap langkah mereka yang marah, yang penuh keluh dan protes kepada keadaan, dengan cepat akan membabatnya. Di pihak lain, mereka yang meluap-luap memimpikan dunia baru yang bagai surga juga akan memberantasnya. Bagaimana membentuk kekuatan yang bisa menghapus dan mengatasi kedaulatan nasional yang terbangun selama ini?
Ironi bukan kenakalan. Ia menandai sebuah kearifan.
Sebenarnya kearifan itu bisa datang dari sejarah dunia muslim
sendiri—jika sejarah ditafsirkan sebagai jalan hidup manusia yang
banyak salah, proses di mana kesucian berhenti.
Tapi dengan sikap jiwa yang merasa terpuruk di jurang yang ruwet, para
ideolog ”Islamisme” hanya melihat masa lalu seperti langit jernih penuh
bintang. Seakan-akan di sana tak pernah ada prahara, bahkan hujan darah.
Seakan-akan tak pernah ada Murad III (1574-95) yang punya 103 anak dari
sederet istri—sebuah keadaan yang menyulitkan soal kekuasaan dalam
khilafah Usmani. urad IV (1623-40) melakukan hal yang sama, dan hanya membiarkan seorang adik hidup hanya karena si adik lemah mental.
Pendek kata, sejarah—yang selamanya penuh dengan ketidakpastian—tak
diantisipasi dengan sebuah sistem yang dapat mengelola ketidakpastian
secara teratur, tanpa kekerasan, tanpa darah. ”Islamisme” gagal belajar
dari kondisi itu.
Yang dijalankannya adalah ”politik kesempurnaan”: karena Islam dianggap
sebagai ”jawaban yang sempurna” untuk membangun sebuah masyarakat yang
”sempurna”, ada usaha menghapus wajah hidup yang tragis dan cela. Yang tragis, yang kurang, yang negatif, dianggap tak punya peran dalam politik.Setelah Nabi wafat, terbuka ”tempat yang kosong” yang
mau tak mau minta diisi—tapi untuk mengisinya tak seorang pun yang akan
setara Rasulullah. Tak seorang pun, tak satu golongan Islam pun, yang dapat mengartikulasikan ke-Islam-an secara sempurna. Si pengisi harus bersedia diganti, atau akan terpaksa diganti. ”Tempat kosong” itu tak akan kunjung penuh.
Hidup memang tak cocok buat ”politik kesempurnaan”. Hidup adalah tempat ”politik kedaifan”—politik yang lebih tawakal dan tak cepat marah. Manusia berubah tapi keterbatasan menyertainya. Ia makhluk yang dilahirkan kurang. Peradaban justru lahir dari keadaan kurang yang tragis itu. Tapi ia makhluk khayal yang tak dengan sendirinya menyenangkan bila malam tiba.
Di Utopia, bunyi trompet akan terdengar pada jam-jam tertentu, isyarat
bahwa 30 keluarga akan bersantap bersama-sama dalam sebuah komunitas.
Dunia privat praktis hilang. Keseragaman memerintah. Rumah dan kota
semua tampak mirip. ”Kalau kamu sudah melihat satu,
kamu sudah melihat semuanya,” kata tokoh dalam Utopia yang mengisahkan
negeri ajaib itu, Raphael Hythloday.
Dalam bahasa Yunani, konon hythloday berarti ”pembicara omong-kosong”. Kita geli. Tapi bukankah di awal dan di akhir, ironi tak bisa diabaikan, dan cemooh bagian dari jalan ke kebenaran?
Ringkasan lain tentang Formula