Dunia tersentuh: mereka ingin menemani
kota itu,
bersama ribuan kandil yang dinyalakan di sudut-sudut jalan, seakan-akan
mau ikut mencari
mereka yang tak pulang
dari puing.
Asap kebakaran masih membubung hitam beberapa hari setelah itu,
membentuk sebuah sosok di langit New York sebelah selatan, seakan-akan
mengisi rongga yang melompong di angkasa setelah dua gedung jangkung
The World Trade Center runtuh dan 3.000 orang yang tak bersalah mati.Kami kuat.”
Orang Amerika akan marah jika dikatakan bahwa tema nasionalisme itu tak
jauh berbeda dengan yang dulu terbit di Jerman, kini di Arab dan Israel.
Tapi itu justru indikasinya: orang Amerika akan marah karena
nasionalisme mereka—yang disebut ”patriotisme”—juga api yang sama yang
mampu membentuk ”kami” jadi sesuatu yang terang dan orang lain,
”mereka”, jadi fragmen kegelapan. Di lapangan yang rindang itu bermacam orang
berkumpul, menyatakan belasungkawa dan dukungannya kepada New York—ya,
kepada Amerika Serikat. Ada yang mengekspresikan perasaan dengan doa yang diam, ada yang menuliskan kalimat yang tulus.
Tapi yang tak akan saya lupakan ialah secarik kertas yang dirobek dari
sebuah buku tulis dan disematkan entah oleh siapa di sehelai pagar
kawat di bawah lengkung gerbang taman. Di sana tercantum satu paragraf tulisan tangan, serangkai kata-kata Nelson Mandela:
”Rasa takut kita yang terdalam tak disebabkan oleh karena kita tak memadai. Rasa takut kita yang terdalam disebabkan kekuatan kita yang tak tepermanai. Cahaya terang kita, dan bukan kegelapan kita, itulah yang paling mengerikan kita.”
Saya terkesima: kalimat itu muncul seperti dipanggil ke tengah suasana yang membutuhkannya.AS butuh sesuatu yang mengancam di luar sana, dan sebab itu bisa membuatnya bersatu padu.
Maka di New York hari itu, Al-Qaidah praktis memberi Cheney dan Bush
sebuah hadiah: alasan yang bagus untuk merasa memiliki ”cahaya terang”
dan menampilkan ”kekuatan yang tak tepermanai”.
Akhirnya, ”9/11” adalah dalih untuk sebuah proyek imperial, mula-mula dengan bendera ”perang melawan terorisme”: ”Kami dizalimi.
Mereka harus dibalas.”
Dalih itu begitu memikat hingga sejumlah intelektual terpandang Amerika
tak malu-malu berseru menghalalkan perang itu sebagai ”perang yang
adil”, seakan-akan keadilan dapat begitu saja diterima secara
universal, bukan hasil pergulatan yang tak mudah untuk jadi pasti.
Ketika Mandela memperingatkan kita akan ”cahaya terang” dan ”kekuatan
yang tak tepermanai”, ia sebenarnya hendak menunjukkan bahwa kedua hal
itu tak pernah menetap—dan tak pernah tinggal di satu sisi. Ketika perang melawan teror Al-Qaidah diperluas jadi
Perang Irak yang dikecam dunia—karena dilancarkan dengan dusta yang
malang-melintang—mereka bahkan ingin menunjukkan, ”kekuatan yang tak
tepermanai” justru penting untuk dirayakan. Kekuatan itu mereka
anggap bisa menentukan segala-galanya, juga untuk memonopoli ”cahaya
terang”.
Tapi kini terbukti, ”kekuatan yang tak tepermanai” itu hanya sebuah
waham besar. Juga gegabah. Hegemoni tak pernah pasti. Perang melawan
Al-Qaidah tak juga berhasil—sebuah kegagalan yang patut disesali di
mana-mana. Perang di Afghanistan makin sulit. Perang di Irak praktis
kehilangan tujuan. Amerika dibenci di pelbagai pelosok. Orang Amerika
takut datang ke pelbagai tempat.
Ah, Tuan Cheney, di manakah kini ”The New American Century”?
Ringkasan lain tentang 9/11