Demi ibadah saya, yang saya niatkan sendiri,
orang-orang lain
tak bisa pergi pijat karena selama sebulan semua panti
pijat harus ditutup—meskipun ini bukan tempat yang mesum sama
sekali—
dan sekian ratus pemijat tidak mendapatkan penghasilan.Kita sekarang tidak tahu yang mana yang menentukan.
Jika ada polisi
atau petugas kota praja—belum lagi kelompok orang galak
yang
dengan gampang menyerbu dan merusak—yang membuat penghormatan itu
berlaku, saya tak pernah yakin sejauh mana penghormatan (atau lebih
tepat ”apresiasi”) yang ikhlas yang sedang saya rasakan. ebab menghormati orang yang berpuasa dapat berangkat dari sebuah alasan yang bagus.
Ramadan sering dikatakan
sebagai bulan yang dekat dengan rohani. Tetapi
tak kurang dari itu Ramadan sebenarnya menekankan pentingnya
tubuh—justru dengan mengaktualisasikan tubuh yang tak penuh. Bulan ini adalah bulan yang berbicara tentang kondisi dasar
manusia yang paling kurang.
Puasa adalah penegasan diriku sebagai sesuatu yang lapar dan juga
retak: sebagai aku yang ingin dan tak mendapat, aku yang menolak untuk
rakus tapi juga merasa sakit.
Tapi saya, yang berpuasa ini, juga sering tak menyadari bahwa puasa
dapat memberi diri sesuatu yang sama sekali bertentangan: rasa
berkelebihan, bahkan supremasi. Aku seakan-akan dalam kesucian, sebagai yang ”berkorban” dan juga sebagai yang ”tak najis”. Salah satu problem besar dunia ialah bahwa kita sering
menemukan wajah yang bertentangan seperti saya sebut tadi dari orang
yang berpuasa—atau dari orang dalam ibadat yang mana pun.
Kontradiksi ini disembunyikan atau ditekan karena wacana yang ada
diberi sanksi oleh sebuah bayangan tentang Yang Maha Kuasa dan Maha
Sempurna yang menuntut keutuhan dan kekuatan, bukan sebuah bayangan
tentang Yang Maha Rahman dan Rahim yang mengampuni si daif dan si
retak-cacat.
Dalam wajah yang lapar, yang dekat dengan tubuh, dalam kekurangan dan
kefanaan, manusia hadir mau tak mau mengalami dirinya bukan sebagai
sebuah ide, bukan sebuah konsep yang abstrak. Perut yang meminta nasi dan tenggorokan yang sedikit bau basah tidak ada dalam Manusia dengan ”M”.
Seraya bersentuhan dalam sifatnya yang konkret, manusia mengalami dan
menyadari apa artinya perubahan, apa perlunya perbedaan dari waktu ke
waktu, perbedaan dari satu situasi ke situasi lain.
Tetapi bila puasa bukan menandaskan wajah yang lapar, melainkan
kesucian diri yang penuh, manusia merasa seakan-akan berada di atas
segala situasi, di luar waktu, tak tersentuh perubahan, dan perubahan
bahkan dapat berarti najis.
Sesuatu yang menghargai yang fana dan sebab itu berterima kasih atas setiap momen empati?
Atau sesuatu yang meminta dihormati, karena aku adalah sebuah prestasi,
sebuah posisi di atas sana, di mana yang kekal dan sempurna
mengangkatku?
Jika saya harus menjawab, saya akan mengatakan: saya takut dihormati.
Ringkasan lain tentang Puasa