Di surga,
tak ada tahun baru. Waktu tak hadir, juga perbuatan
Dalam tiap adegan kahyangan pada pertunjukan wayang purwa, keabadian
digambarkan dengan kalimat ini: ‘Ana padhang dudu padhanging rina, ana
peteng dudu petenging wengi’. Yang ada adalah ‘terang yang
bukan terangnya siang’
dan ‘gelap yang bukan gelapnya malam’. Tak ada waktu, tak ada ruang, hanya keluasan yang tanpa tepi — mung alam tumlawung ngalangut datan patepi.
Yang menarik – seperti saya temukan dalam buku yang disusun Anom
Sukatno, Janturan lan Pocapan Ringgit Purwo — dalam janturan yang
dilantunkan ki dalang, kahyangan adalah keadaan tak ada subyek.Mungkin pengaruh Budhisme ikut membentuk imajinasi
para pencipta wayang purwa dalam adegan ‘Alang-Alang Kumitir’: surga
adalah sesuatu yang berada
Di luar wilayah pancaindera, seperti yang
dilambangkan dengan stupa di pucuk Borobudur itu — polos, ugahari,
tanpa ruang, tanpa celah.
Saya ingat Sanusi Pane. Dalam perjalanannya di India,
ia mengagumi Syiwa Nataraja, dewa yang menari dalam lingkaran api. m Madah Kelana:
Natésa berdiri
Di atas buta, kanan memegang gendang, kiri
Memegang api bernyala-nyala.
Sikap badan, tangan
Dan kaki, wajah muka amat permainya: angan-angan
Keindahan Patung Syiwa itu ‘dalam dirinya bergerak dan beredar, tidak
terperi’, dan di hadapan Natésa itulah Sanusi menemukan satu kearifan,
tatkala sesaat seakan-akan didengarnya sebuah suara halus-merdu yang
menyeru:
‘Tujuan sekalian ada dalam diri sendiri
Tidak ada asal tujuan, pangkal ujung, yang diberi
Dari luar…’ Maka tarian Syiwa-Nataraja bagi Sanusi Pane adalah ‘jalan
ringkas…mencapai kemerdekaan’. Seperti ketika, dalam sebuah sajaknya yang lain, ia
merasa di atas biduk dan merasa hening dan tenteram, dibawa gelombang
tanpa kehendak tanpa arah, menyimak getar keabadian di langit dan
melenyapkan diri ke dalam alam…
Di sini, tindakan berada di titik nol. ‘Diam, hatiku, jangan
bercita’, tulis Sanusi dalam Candi Mendut, ‘Jangan kau lagi mengandung
rasa/Mengharap bahagia dunia Maya’. Maka tindakan jadi ‘laku’: ada di
antara posisi yang bukan pasif dan juga bukan aktif.
Sajak Syiwa-Nataraja melukiskan dua gerakan untuk mencapai kemerdekaan:
yang satu dengan metafora ‘menari’, dan pada saat yang sama juga
‘tinggal samadi’.Dan di koloni orang-orang yang tertindas, seperti
Indonesia di tahun 1930-an ketika Sanusi Pane menuliskan sajak-sajak
yang terkumpul dalam Madah Kelana, tampaknya harus diakui bahwa
konflik-lah yang membentuk manusia. Mungkin sebab itu penyair
penganut theosofi ini tertumbuk pada ruang buntu.
baru beberapa tahun
kemudian ia menemukan sebuah jalan keluar.
Di tahun 1940 ia menulis lakon Manusia Baru, sebuah cerita tentang
perjuangan buruh di Madras,
India.Karena kata-katanya yang menggugah untuk membangun
sebuah India yang baru, yang tak lagi bersifat ‘tenang’ tapi ‘bergerak
dalam ketenangan’, Dash mengubah pandangan orang-orang itu..
Dalam keadaan tertindas, orang memang tak bisa menjalani laku sang
kelana yang hanyut dalam keheningan laut. Ia harus meletakkan diri
sebagai subyek. Ia bukan hanya ‘laku’. Ia ‘tindakan’.
Dalam proses itu pula, sang kelana tak lagi menggunakan bahasa
‘pemikiran meditatif’ dan tak pula memakai bahasa ‘pemikiran puitis’ –
bentuk-bentuk yang dipujikan Heidegger sebagai alternatif bagi
‘pemikiran kalkulatif.’ Telah ditinggalkannya bahasa yang selaras
dengan suara angin di daun-daun. Surendranath Dash tak menulis sajak..
Tapi hidup di tengah dunia yang belum berubah, ‘manusia baru’ hanyalah sekedar model.
Lakon Sanusi Pane tak melukiskan liku-liku psikologi yang pelik dan
pergulatan jasmani yang pasang surut dalam proses transformasi dari
yang ‘lama’ menjadi ‘baru’.
Ringkasan lain tentang Kahyangan