Victor yang baik, Percik darah saya yang pertama Di
bumi ini tumpahnya
Rendra menulis Sajak-Sajak Sepatu Tua: jika ada hubungan yang intim
dan mendasar antara seseorang dan sepetak tanah—dan hubungan itu tumbuh
jadi puisi—kita menyaksikan
sesuatu yang
tak bisa dijelaskan oleh
kapitalisme.
Sepatu tua yang menemani kakiku bertahun-tahun, yang begitu kenal
dengan raut telapak dan jariku, yang merupakan bagian pengalaman
hidupku, oleh
kapitalisme akan dianggap sebagai sesuatu yang mendekati
habis. Kata ”tua” akan menjadi sama dengan ”bekas”: sepasang sepatu yang aus, perlu dibuang, dan harus diganti dengan yang baru.
Dalam arti tertentu, kapitalisme memisahkan hampir segala hal.
Dengan memberi harga, kekuatan modal dan pasar bisa membelah sepetak
tanah dan sepasang sepatu ke dalam nilai guna dan nilai tukar,
memisahkan apresiasi dari konsumsi, memisahkan yang kreatif dari yang
produktif, memisahkan penghayatan dari sukses—dan kemudian menindas
yang disebut pertama.Dipisahkan dari statusnya sebagai sesuatu yang unik,
yang singular, ia bisa dipertukarkan dengan sesuatu yang datang dari
yang tak tampak. Dalam agama, ia disebut ”rahmat Tuhan”; dalam
kapitalisme ia disebut ”harga” yang ditentukan oleh ”tangan yang tak
terlihat”.
Maka ada benarnya ketika Walter Benjamin, dalam salah satu karyanya
yang diterbitkan setelah ia meninggal, melihat kapitalisme sebagai
agama.
Yang dikatakan Agamben dalam Profanations (Zone Books, 2007) tentang
perkara ini membuat saya memikirkan kembali satu segi
agama dan
kapitalisme yang dapat membuat mereka bergandengan—gejala yang kini
tampak di mana-mana.
Agama, dalam arti yang dikenal di bahasa Barat, bukan berasal dari kata
religare, sesuatu yang mengikat dan menyatukan yang insani dengan yang
ilahi. Harus ada kekhusyukan yang waspada di depan bentuk dan
formula, yang harus ditaati ketika kita memisahkan mana yang sakral dan
mana yang profan. Religio bukan menyatukan manusia dan dewa,
melainkan meneguhkan bahwa masing-masing terpisah jelas.
Sebab itu, kata Agamben, yang menentang agama bukanlah sikap tak
beriman kepada yang ilahi, melainkan sikap abai, atau perilaku yang
bebas dan tak terpaku oleh pemisahan itu.
Melakukan sesuatu yang profan, kata Agamben, berarti membuka
kemungkinan untuk sikap yang acuh tak acuh, atau lalai terhadap
pemisahan antara yang sakral dan yang tidak.
Namun saya kira ada yang dilupakan Agamben: apa yang terjadi setelah pemisahan. Seperti saya sebut di atas tentang pemisahan yang terjadi oleh kapitalisme, ada penindasan yang satu oleh yang lain. Dengan kiasan Rendra, lewat sajak-sajak sepatu tua:
sesuatu yang tak kekal, tetapi lebih berarti ketimbang mati, sesuatu
yang tak berguna dan bisa dibuang, tetapi tak akan bisa dicampakkan.
Sesuatu yang bisa bertahan dari keangkeran agama yang merengkuh ke
mana-mana dan mampu mengelakkan desakan kekuatan yang disebut pasar
yang menjerat apa saja. Suatu sikap abai, tapi bisa mengembalikan apa yang bermakna.
Ringkasan lain tentang Sepatu Tua