Ia kembali jadi noktah yang melintas tipis pada layar radar, seperti berjuta-juta titik lain yang diabaikan. Jakarta sibuk.
Tuan-tuan sibuk: tuan-tuan berbaris membesuk Suharto, sang patriakh
yang gering terbaring
di rumah sakit itu,
dan dengan tekun tuan-tuan
mengikuti naik-turun tekanan darahnya, menyimak jantung dan
paru-parunya, berkomat-kamit membaca doa untuknya, dan berseru, makin
lama makin keras, maafkan dia, maafkan dia …
Tentu, semua itu karena tuan-tuan orang yang beradab.
Tapi tak ada peradaban yang tak berdiri di atas pengakuan bahwa ada
mala yang besar, (meskipun tak disebut sebagai dosa), ketika di luar
pintu seseorang rubuh, tertindih, hilang harap — dan kita tak
menolongnya.
Ia, yang lahir di Ciamis dan mati di Pandeglang, ia
yang berkeluarga di rumah 7 x 7 meter persegi berdinding gedeg yang
terletak di dekat Pasar Badak, ditentukan nasibnya tak di sana,
melainkan di kejauhan: oleh para birokrat Departemen Pertanian dan
Perdagangan, oleh pasar dunia yang bergejolak, oleh ladang dan lumbung
di Amerika Serikat, oleh pusat-pusat makanan di Cina, oleh cuaca dan
panen di Brazil, oleh struktur agribisnis di Argentina.
Ia hidup di sebuah negeri dengan para birokrat yang seperti tak hendak tahu dan berbuat;
trend memburuk di pasar dunia itu bukanlah sesuatu yang mendadak.
Slamet adalah sebuah indikator keteledoran.
Ia juga gejala kegagalan. Di tahun 1974, Indonesia bisa memenuhi
kebutuhan kedelai dengan produksi sendiri, tapi sejak 1975 sudah mulai
jadi pengimpor.
Ketika di Jawa tanah-tanah pertanian yang subur dipergunakan untuk
kebutuhan lain, kedelai kian tak dapat ruang yang cukup untuk ditanam.Di sana, demokrasi yang menggantikan kediktaturan
militer membongkar juga kendali pemerintah atas pasar, dan di antara
2002-2003 (ketika di Indonesia tak ada lagi harapan untuk swa-sembada)
di negeri Amerika Selatan itu produksi kedelai naik hampir 300%
dibandingkan dengan 1987-1988.
ang pasti, demokrasi datang dan negeri ini hanya punya sederet pengambil keputusan yang kacau, atau tak cerdas, atau bingung.
Tampaknya
cerita kedelai ini juga cerita keledai-keledai.
Tuan-tuan pasti tak mau seperti itu. Tapi jangan takut. Cerita Slamet
bukanlah hanya cerita tentang tempe dan kekuasaan dan kebebalan.
Ia juga cerita sebuah keadaan, ketika seorang bisa begitu putus asa
dililit utang yang tinggal separuh dari Rp 5 juta, sementara tak jauh
dari tempat ia menggantung diri ada orang-orang yang menghabiskan
beratus juta untuk satu malam perhelatan. Slamet memang tak menggugat siapa-siapa, tapi ia tetap
sebuah kontras: ia kecemasan yang tak ditengok, ia bukan Suharto yang
terus menerus dijenguk. Tapi ia lebih siap mati. Menjelang ia menggantung diri, dibelinya dua helai kaus putih. Ia bicara dengan Oji, anaknya yang masih di kelas tiga SMK Pariwisata dan sudah setahun belum membayar uang sekolah.
Ringkasan lain tentang Slamet