Harapan menggerakkan kita dengan bahasa yang tak jelas. Seakan-akan di sekitarnya ada sebuah lubang verbal—bolong yang diterobos oleh
sesuatu yang tak terkatakan.
Seperti yang terjadi pagi
itu, 18 Desember 1989, di kota Timisoara di
Rumania sebelah timur, dekat perbatasan negeri itu dengan Yugoslavia.
Peristiwa
ini dimulai dengan keputusan pemerintahan Presiden Ceausescu
untuk mengusir seorang pendeta asal Hungaria yang telah bicara terus
terang tentang keburukan kediktatoran Rumania. Ia tampaknya seorang
rohaniwan yang dicintai jemaatnya, hingga
hari itu mereka berkumpul di
sekitar apartemennya, berjaga agar bapak pendeta tak digusur dengan
kekerasan.
Berangsur-angsur, banyak orang yang bergabung. Yang
mereka dengar ialah bahwa rezim komunis yang bertakhta di Bukares itu
sekali lagi bermaksud membatasi kemerdekaan beragama.Yang mereka dengar ialah bahwa rezim komunis yang bertakhta di Bukares itu sekali lagi bermaksud membatasi kemerdekaan beragama.
Satu kelompok besar manusia pun berhimpun—suatu hal yang tak pernah
terjadi sebelumnya di Rumania. Mereka berharap, meskipun tak jelas
berharap apa.
Dalam beberapa jam, polisi dan pasukan agen rahasia Securitate sudah
mengepung tempat itu. Tapi tahun 1989 adalah tahun perubahan besar di
Eropa Timur. Kurang sebulan sebelum protes di Timisoara itu, Tembok
Berlin runtuh, dan sejak 9 November satu demi satu kekuasaan Partai
Komunis guncang atau rontok.Syahdan, kini, di Museum Militer di Bukares, terpasang
selembar bendera yang dibawa 30 pemuda di hari bersejarah di Timisoara:
bendera yang bolong.
Tapi bolong itu bukanlah sesuatu yang hampa: ia justru melambangkan
harapan dan juga rasa tak puas yang begitu luas dan meluap-luap, hingga
apa yang simbolik tak menampungnya lagi.
Saya teringat yang dikatakan Slavoj Zizek dalam Tarrying with the
Negative tentang lambang pembangkangan rakyat Rumania itu: ”Antusiasme
yang menggerakkan mereka secara harfiah adalah antusiasme terhadap
lubang ini.” Sebab lubang itu belum diisi oleh agenda politik apa pun,
belum direbut maknanya oleh proyek ideologis yang mana pun. Memang pada suatu tahap, akan ada yang memegang
hegemoni, akan ada satu nama, satu identitas, yang punya kuasa dan
wibawa buat jadi pengisi bolong itu. Tapi sejarah menunjukkan, politik tak akan berakhir. Hanya sebuah ilusi besar untuk mengira bahwa lubang itu akan lenyap.
Kaum liberal atau kaum kiri, kaum sekuler atau kaum agama, mau tak mau
harus menghadapi kenyataan bahwa mereka akhirnya tak akan mampu
mewakili sepenuhnya harapan rakyat yang tak 100% terkatakan itu, yang
dilambangkan dengan bagus di lembar bendera di museum di Bukares itu:
ada identitas nasional yang diutarakan, tapi pada dirinya ada sebuah
lubang.
Saya teringat akan bendera Merah Putih yang dikibarkan di Hotel
”Oranje” di Surabaya pada bulan September 1945: bendera itu juga lahir
dari tindakan mencopot bagian yang tak dikehendaki dari tubuhnya. Tapi tak ada yang bolong yang menganga di sana. Yang terjadi hari itu adalah tindakan kreatif yang
berani—sebuah laku yang di
tengah ketakpastian mengubah kondisi yang
tersedia jadi sesuatu yang baru dan berarti. Seperti sepotong puisi.
Tapi kita tahu puisi tak henti-hentinya ditulis.
kata dan artikulasi yang siap kemarin tak lagi menampung getaran hati yang meluap hari ini.
Ringkasan lain tentang Bolong