• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Hijau

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Goenawan Mohamad
Puisi Lorca mempesona karena loncatan-loncatannya –
warna hijau, bintang agung, bayang ikan, hari fajar — yang tak
pernah
bisa dipertalikan rapi dalam satu tafsir, tapi memperkaya kita dengan
imaji-imaji yang mengejutkan, baru, segar, tak terulangi, seperti dalam
mimpi.
Maka di dunia yang mulai lelah, puisi, atau imaji yang menari, segar,
meloncat-loncat, dan tak disangka-sangka — ya, juga warna hijau – jadi
alternatif (yang tak diakui) bagi sebuah kehidupan yang mengabaikan itu
semua.Tapi sebagaimana Lorca hanya mengutarakan hasratnya di
antara lanskap yang memukau tapi tragis di Andalusia, puisi — dan
pelbagai suara yang gundah menyaksikan “modernitas” dan “kemajuan” —
hanya bisa bicara secara terbatas.
Sesekali bahkan ia mengandung racun kecurigaan dan
kebencian: di tahun 1930-an, di Jerman, pemujaan akan Blut und Boden
(“darah dan tanah”) dikobarkan para penganjur Naziisme, yang ingin
menjaga kemurnian Jerman dengan tradisi dan alamnya yang perawan, agar
Volk, bangsa atau ras, tak tercemar oleh persentuhan dengan
“yang-asing” dan “yang- borjuis” di kota besar.Kini yang diserukan Barbara Ward dan René Dubos dalam
buku mereka yang terkenal, Only One Earth (dalam bahasa Indonesia,
Hanya Satu Bumi), yang ditulis buat Konferensi PBB di Stockholm di
tahun 1972, mendapatkan pendengar. Pelbagai
identitas yang berbeda-beda – yang ditandai nama negara, bangsa,
kelompok etnis, kelas sosial, gender — berada dalam posisi setara, di
bulatan bumi yang satu, di sebutir planet yang genting.
Walhasil, pesan yang universal kali ini datang bukan
dari si kuasa, tapi praktis dari siapa saja yang hidup di bawah lapisan
ozon yang berlubang, cemas kehilangan.
Kini aku bukan diriku
Rumahku bukan rumahku
Biarkan aku sebentar naik ke beranda tinggi
Biarkan aku pergi! Biarkan aku naik
Ke beranda hijau
Tempat air bergema pelan
Di balustrada bulan.Dan tiba-tiba, ada yang bergerak berubah dalam diri anda. Rasanya
seperti menarik nafas dalam-dalam dan berbisik, “Ah, ya, aku telah lupa
semua ini.”
Kata-kata itu tak istimewa, sebenarnya. Tapi mau tak mau, bersama
itulah hasrat Lorca, “kumau engkau hijau,” menemukan makna dan wibawa
lain. “Hijau” telah jadi hasrat untuk menggapai sesuatu yang terasa
begitu menggerakkan hati tapi tak hadir: bumi yang tak rusak oleh
polusi dan keserakahan.
Diterbitkan di: Januari 19, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.