Saya pasti tak akan merasakan jalan-jalan tak lagi
macet, polusi udara berkurang karena bensin tak lagi dipakai, dan bulan
tak kusam ketika malam purnama, dan di Jakarta, di ibukota, sesuatu
yang lebih manusiawi hadir bahkan di rumah sakit umum, di penjara, di
kakilima, dan museum dan teater dikunjungi, bangunan baru terawat dan
bangunan lama selesai dipugar, dan stasiun kereta api gaya Art Deco di
wilayah Kota yang sudah lama tak terawat
itu mempersona kembali.Bagaimana jika yang terjadi adalah bentrokan berdarah
yang tak henti-hentinya, karena masyarakat jadi amat timpang antara
kaya dan miskin, dan sumber-sumber alam kikis, dan orang marah
kehilangan rasa keadilan?Tapi tak urung, ada kemungkinan yang menakjubkan akan
terjadi: “topan ajaib” yang “menggulingkan gundu, memutarkan
gasing…”Bahwa kita bisa merasakan yang ajaib itu sebetulnya
sebuah keajaiban tersendiri. Bahwa kita bisa menghayati, bahkan
menghasilkan, sesuatu yang tak disangka-sangka, itu menunjukkan betapa
hidup tak semuanya buah sebab dan akibat, tapi juga kejutan demi
kejutan.
Determinisme selamanya meleset.i situ kita tahu, hidup bergerak didorong oleh élan
vital yang kreatif, dan yang tak terduga-duga datang, memukau, bukan
oleh
satu titik yang kukuh di ujung sana dari sebuah garis lurus.
Tak ada garis lurus. Kita tak tahu dari
mana sajak Chairil, komposisi
Cornel Simanjuntak, dan kanvas Zaini mulai. Semuanya “kejadian”. Itu
sebabnya
dalam pemikiran Deleuze, “kejadian” sama saja maknanya dengan
“penciptaan.”
Maka tahun tak hanya ibarat cermin tempat kita berkaca melihat proses
keuzuran. Deleuze melukiskannya dengan membandingkan
musik Baroque dan neo-Baroque: sebuah peralihan dari penyelesaian atau
cakupan harmonis ke dalam sebuah susunan yang macam-macam nada,
termasuk yang sumbang, atau, dalam kata-kata komponis Boulez, “sebuah
polifoni dari pelbagai polifoni.”
Hidup adalah sebuah polifoni, bergerak, memencar, multi-lipatan yang
tak henti-henti. Kematian hanyalah salah satu momen di dalamnya. Haruskah saya sesali, jika itu terjadi?
Tiba-tiba saya temukan lagi satu kutipan yang ditulis Deleuze: “Yang
terbaik dari semua dunia yang mungkin bukanlah dunia yang mereproduksi
yang abadi, melainkan yang jadi tempat di mana ciptaan baru diproduksi”.
Ringkasan lain tentang Cermin