Asumsi bahwa perkembangan dan pertumbuhan ekonomi
menciptakan suatu kehidupan kesenian
tradisi yang kian kuat, dan
mempunyai konsekuensi logis bahwa dengan hal itu maka posisi dan fungsi
keluarga pengemban tradisi semakin baik posisi sosial ekonominya,
nampaknya kini perlu disanggah, dan bahkan sangat perlu digugat.Geografi kultural yang oleh banyak orang dianggap
memiliki kaitan kuat dalam penciptaaan kaum saudagar, pedagang dan
memiliki pandangan kosmopolitan akibat pengaruh Islam dan kebudayaan
Melayu, dan posisi geografis pesisiran yang membuat daerah ini
mempunyai interaksi kebudayaan yang sangat intensif dan mejemuk.Melalui
pengaruh kebudayaan Melayu dan Islam itu, cara pandang yang terbuka
dan, progresif yang membuat wilayah ini memiliki interaksi politik yang
dinamis. Dengan kondisi dan latar belakang
sejarah sosial seperti itu, dan dengan berbagai khasanah yang demikian
kaya oleh berbagai kehidupan dan ekspresi senibudayanya, wilayah ini
dianggap sebagai salah satu wilayah yang telah memberikan kontribusi
yang kuat di dalam pembentukan kebudayaan nasional. eperti yang kita ketahui dan rasakan tekanan politik
ekonomi dan proses moderenisasi yang tanpa arah jelas itu mengakibatkan
pelunturan dan degradasi nilai-nilai yang dikandung didalam kehidupan
ritual dan spiritual. Namun hal itu sebenarnya bukan hanya diakibatkan oleh rejim Orba.
Jauh sebelumnya wilayah Sulsel mengalami guncangan akibat politik
kebudayaan yang diterapkan oleh kekuatan agama, Muhammadiyah, yang
menganggap bahwa kehidupan seni tradisi yang ada di Sulsel bersifat
bid’ah, khurafat dan syirik, dan hal itu mesti disingkirkan agar
kehidupan beragama menjadi murni, seperti yang diungkapkan oleh
peneliti dan pengamat senei pertunjukan DR. Halilintar Lathief
dalam bukunya “Cermin Perubahan Budaya Orang Makassar Dalam Pakarena”
(Pusat Data Budaya – Padat Daya -, Makassar, 2004).Pemberontakan daerah yang dapat diredam oleh
pemerintahan pusat, dan tidak lama setelah itu, kekuasaan pusat yang
berganti, Sukarno dijatuhkan oleh Suharto, dan proses moderenisasi
dengan ideologi pembangunan yang menekankan aspek ekonomi dengan cepat
berkembang, dan melahirkan para saudagar baru, kelas pedagang yang
mampu dan dapat meraih posisi sosial-ekonomi dan politik. saja berkaitan kuat dengan kehidupan dan penekanan kepada bagaimana aspek ekonomi bisa berkembang.
Hal itu sejalan dengan proses globalisasi yang dengan deras dimulai
pada akhir tahun 1960-an, dan Indonesia adalah salah satu wilayah yang
dilanda oleh globalisasi ekonomi, dan sekaligus juga globalisasi
kebudayaan yang didasarkan ideologi pembangunan dan dihantarkan dan
ddidukung oleh perkembangan tehnologi informasi-komunkasi dan sarana
transportasi yang berkembang dengan pesat.
Keluarga Andi Nurhani Sapada, Ida Yusuf Madjid, Andi
Ummu Tunru, Halilintar Lathief, untuk mengambil contoh, merupakan
keluarga yang terbentuk kesadaran ketradisiannya, kebudayaannya, bukan
hanya bersumber dari tradisi keluarga yang sejak lama sudah ada, tapi
juga berkembang ketika Sukarno memberikan ruang kehidupan, kepantasan
untuk hadir dan tumbuh dan melahirkan penafsiran-penafsiran terhadap
tradisi dengan cara yang intens dan kuat.Dan bahkan ada kecenderungan manipulasi yang kuat,
kembali masuk ke dalam lingkaran politik praktis yang secara dangkal
menjadikan kesenian tradisi sekedar embel-embel bagi dirinya yang
mendirikan berbagai yayasan, dan yang terpenting bagaimana bisa
menambah isi kocek dan deposito melalui proyek yang memang dikuasainya.
Sementara itu karaoke keluarga di wilayah bisnis
dengan biaya tinggi makin menjamur di hotel-hotel mewah, seperti juga
elekton tunggal dengan para penyanyi yang sensual dalam berbagai acara
diselingkungan kantor, ditambah dengan penyanyi dengan label “ibukota”
yang honornya bisa puluhan atau bahkan seratus kali lipat sebuah
kelompok kesenian tradisi yang jadi selingan acara resmi di rumah
kediaman pejabat lokal.