Istilah “Sastra Minangkabau Modern” muncul dalam SMS yang saya terima dari Dekan Fakultas
Sastra Universitas Andalas, Dra. Adriyetti Amir, SU, yang memberitahukan bahwa kiriman off-print artikel saya, “Vernacular Intelligence: Colonial Pedagogy and the Language Question in Minangkabau” (Indonesia and the Malay World 34:100, 2006: 315-44) telah beliau terima.
Di sini saya mencoba menyampaikan pemikiran saya tentang Sastra Minangkabau
Modern berdasarkan bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan
dan berdasarkan penelusuran kepustakaan yang sudah dan sedang saya lakukan. Sejauh yang saya ketahui belum
ada penelitian yang mendalam tentang fenomena dan perkembangan Sastra Minangkabau sepanjang seperempat terakhir abad ke-20 dan dekade pertama abad ke-21 yang sedang kita jalani ini, dalam artian bagaimana fenomena Sastra (dan Bahasa) Minangkabau itu dalam hubungannya dengan budaya cetak dan media pandang-dengar modern yang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari orang
Minang sekarang
Walhasil, agak sulit melihat hasil nyata produk Sastra Minang mutakhir yang muncul dalam bentuk tulisan.Bentuk-bentuk ekspresi dalam
Bahasa Minang ragam tulis hanya terbatas pada kolom-kolom kritik dan refleksi pendek yang terbit dalam edisi Minggu beberapa koran terbitan Sumatra Barat seperti Haluan, Singgalang, dan sekarang Padang Ekspres (Lihat dua kolom kritik dengan tokoh Jila dan Atang dan Sabai dan Mangkutak oleh Wisran Hadi yang cukup rutin muncul dan rubrik Ciloteh Minang oleh Viveri Yudy yang sayangnya sekarang sudah berhenti pula terbit). Selain Wisran Hadi yang dikenal sebagai sastrawan dan budayawan di tingkat nasional, penulis-penulis lain kolom-kolom seperti itu, seperti Papasi Candra (saya kira ini pseudonym: ayahnya Si Chandra), Cui Indra, dan Sawir Pribadi, lebih dikenal sebagai wartawan dan penulis lokal.
Majalah-majalah berbahasa daerah yang terbit rutin seperti Mangle untuk Budaya Sunda dan Jaka Lodang untuk Budaya Jawa, dimana para penulis lokal, kadang-kadang
juga penulis nasional yang berasal dari etnis bersangkutan, dapat mengekpresikan ide dan pikirannya dalam bahasa ibunya sendiri, tidak pernah muncul dari rahim kebudayaan Minangkabau.
Kaba-kaba tertulis itu tak menawarkan suatu konvensi penulisan yang baru, dan ceritanya tetap menggambarkan latar (setting) tradisional dengan tem-tema yang bersifat supernatural dan irasional. Dengan kata lain, munculnya sebuah buku dalam Bahasa Minang yang dapat digolongkan sebagai sastra, seperti Tigo Carito Randai-nya Musra Darizal Katik & Mangkuto itu, tidak otomatis berarti bahwa itu hasil gubahan Sastra Minang Modern (Saya sendiri belum membaca buku itu, baru mengetahuinya melalui www.ranah-minang.com dan informasi Sdr. Sudarmoko; tetapi sejauh yang saya ketahui cerita-cerita randai relatif statis dan konvensional. Beberapa kajian mengenai randai, misalnya oleh Mursal Esten <1980>, Margaret Kartomi <1981>, Mohd Anis Md Nor <1986>, Kharul Harun <1992>, dan Kirstin Pauka <1995>) menunjukkan bahwa kurang ada diversifikasi tema dalam cerita randai).
Watak tokoh-tokoh itu digambarkan juga dengan ciri kepribadian yang baru, yang lebih individualis, yang berbeda dengan watak tokoh kaba-kaba klasik. Unsur-unsur supernatural dan irasional juga sangat minim ditemukan dalam kaba-kaba tersebut. Frase “gaya baru” yang sering dipakai oleh Syamsuddin, seorang tukang rabab Pasisia yang terkenal asal Kambang, juga mengindikasikan adanya inovasi dalam gaya bahasa dan penyampaian (Menurut Nigel Phillips <1991> ini juga semacam trick untuk menarik khalayak dan pembeli kaset-kaset rekaman rabab Pasisia).
Ringkasan lain tentang Sastra Minangkabau Modern: Antara Ada dan Tiada