• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Mak Sawir Sang "Raja Bagurau"

.

Mak Sawir Sang "Raja Bagurau"

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Kenedi Nurhan
Setelah menuruni deretan anak tangga yang cukup banyak
(ada sekitar 100 anak tangga) dari Pasar Atas Bukittinggi, Jufri—juga

dari STSI Padang Panjang—yang tiba lebih dulu di Pasar Bawah dengan
mengendarai mobil, mengabarkan lewat telepon seluler bahwa Sawir memang
ada di rumah makan itu. "Mak Sawir tadi malam tidur di atas meja
makan ini," kata sang pemilik rumah makan ketika kami tiba di sana.
Sejak beberapa bulan terakhir, Mak Sawir—begitu ia biasa disapa—memang
jarang pulang ke rumahnya di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Malam-malam sehabis bagurau (begitulah masyarakat Minang menyebut jenis
pertunjukan Mak Sawir dengan lantunan dendang yang diiringi tiupan
saluang) memenuhi panggilan orang yang menggelar hajatan, menjelang
subuh ia mengetuk pintu rumah makan dan tidur di sana.Di samping berjualan buah-buahan dan pakaian di kaki
lima, selama di perantauan itu Sawir terus memperdalam kemampuan
berdendang, yang sudah ia pelajari di kampung.
Berkat kemampuannya berdendang dengan iringan saluang, juga lantaran
kebisaan dia bermain randai, Sawir kerap diundang mengisi acara pesta
perkawinan atau pertemuan orang Minang di perantauan.
"Balek ke nagari, kawin (Sawir dua kali menikah, tahun
1968 dan 1972) sekaligus mengembangkan seni budaya tradisi di kampung
halaman," ujarnya.
Kegiatan berdagang di rantau tak ia tinggalkan.
Bedanya, kalau selama di rantau Sawir mangkal di satu tempat, sejak
pulang ke kampung halaman di tepian Danau Maninjau ia harus bergerak
dari satu pekan (pasar di kampung-kampung yang dilangsungkan sekali
dalam seminggu) ke pekan lain.
Tak hanya dikenal luas di tanah Minang, tetapi juga di kalangan para perantau Minang di berbagai kota di Tanah Air. Sesekali ia diundang hadir di kota tertentu untuk memuaskan rindu para perantau pada kampung halaman. Setiap Senin malam Sawir mengisi acara khusus dendang saluang di RRI Bukittinggi.
Tahun 1999 bersama kelompok musik Talago Buni pimpinan Eddy Utama, Mak
Sawir disertakan berpentas di tujuh kota di Jerman pada Festival Musim
Panas.
Kayakah dia? Tidak! Seperti nasib kebanyakan seniman tradisi di Tanah Air, hidup Sawir jauh dari berkecukupan. Dari hasil rekaman suara, Sawir hanya mampu membangun rumah sederhana untuk anak-istri di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.Malah di saat rumah tangganya bermasalah, Sawir harus menumpang tidur dari satu tempat ke tempat lain.
Bagaimana mungkin bisa kaya kalau honor yang ia dapat hanya Rp 1 juta
sekali rekaman kaset dan Rp 3 juta untuk VCD karaoke. Dengan sistem
’kontrak putus’, tak ada royalti yang ia dapat, sekalipun bila kasetnya
laku keras. Adapun bila diundang bagurau paling-paling ia terima honor
Rp 300.000 sekali pentas.
Akan tetapi, kenyataan ini tidaklah terlalu merisaukan Mak Sawir. Ia
justru lebih resah melihat kenyataan akhir-akhir ini banyak lagu
dendang saluang yang dirusak oleh lirik-lirik berbau pornografi.
Pantun-pantun dendang yang tertib, penuh kiasan dan nasihat tentang
kehidupan, kini mulai digantikan lirik yang semata-mata lebih
mengedepankan unsur hiburan. Kearifan tentang filosofi hidup di balik
seni tradisi itu pun kian tergerus zaman....
Diterbitkan di: Januari 17, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.