Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

BABI YANG SOMBONG

oleh: Dongeng     Pengarang : Cerita Kancil
ª
 
Ada seekor babi yang cukup gemuk badannya. Kakinya kuat. Pada mulutnya ada taring yang tajam dan panjang. Dialah yang menjadi raja di hutan disana. Babi ini sangat ditakuti oleh binatang-binatang lain. Tak seekor binatang pun di sana yang berani melaanya. Anjing hutan tidak berani menantanhnya. Bahkan singa yang sangat buas pun tak sanggup mengalahkannya. Tidaklah heran, karena kekuatanya yang besar dan belum ada yang pernah mengalahkan dirinya, dan dia dinobatkan menjadi Raja Babi. Ombongnya bukan main. Sewaktu Raja babi berjalan melintas kerumunan banyak binatang, dia berkata dengan lantangnya,”Ayo,siapa yang berani melawanku?” Mendengar tantangan Raja Babi yang demikian, semua binatang yang ada ditempat itu emuanya diam. Semua takut. Tidak ada yang berani bicara sepatahkata pun. Dengan gayanya yang congkah, Raja Babi meperlihatkan kekuatanya dengan emuanya dengan mendorong pohon mangga yang ada dihadapanya hingga tumbang, patah berantahkan. Demikian juga dengan dahan pohon jambu, disambarnya jatuh tumbang. Tanah diseruduknya, habi berterbangan. Raja Babi merasa tak ada lawan lagi yang sanggup menanndinginya. Pada saat seperti itu, datanglah kancil di tempat tersebut. Raja Babi berkata,”Hai binatang kecil,dari mana aja kamu?” “Dari jalan-jalan mencari udara segar!”jawab si kancil. “Mengapa kamu tidak mengajaku?”Tanya Raja Babi. “Berjalan-jalan endiri lebih enak, mengapa harus mengajak kamu!” jawab si kancil. Mendengar ucapan si kancil eperrti itu, Raja Babi agak tersinggung. Ia tidak menyangkah binatang sekecil itu berani berkata meremehkan dirinya. Padahal selama ini emua binatang dalam hutan itu selalu tunduk dan takut padanya. “Apa katamu?” ucapan Raja Babi dengan nada marah. “Apakah kamu belum tahu bahwa aku ini Raja hutan yang ditakuti oleh emua binatang disini, sehingga kamu berani berkata-kata tidak sopaneperti itu? Apakah kamu tidak takut kepadaku?” “Siapa takut!”tukas kancil. “Mengapa aku harus takut kepadamu? Bukankah kekuatanmu biasa-biasa saja, seperti binatang-binatang lainnya?” Ucapan si kancil yang demikian, semakin membuat telinga Raja babi menjadi panas. Kemarahanya sudah tidak bisa dibendung lagi. “Dasar binatang kecil dan bodoh! Sudah saatnya aku sekarang ingin merasakan dagingmu yang lezat!”kata Raja Babi dengan muka marah. “Baiklah bila kamu menginginkan dagingku ini. Tapi syaratnya kamu harus bisa mengalahkanku dalam pertandingan yang akan kita lakukan besok pagi ditempat ini juga,”kata si kancil menantang. “Besok kita bertanding menetuykan mana yang lebih kuat antara kamu dan aku. Bila kamu menjadi pemenang, silahkan saja kamu memakan dagingku. Akan tetapi bila aku yang menang, kamu harus tunduk kepadaku dan mengakui bahwa akulah yang paling kuat dihutan ini.” “Bagus sekali usulmu itu binatang kecil!” sahut Raja Babi menyetujui tantangan sang kancil. Semua binatang yang ada ditempat itu semuanya pulang kerumah masing-masing. Mereka akan kembali ketempat itu besok pagi untuk melihat pertandingan antara Raja babi dengan sikancil. Benarkah kancil akan bertindak sebodoh itu. Tidak, ia berani menantang Raja Babi karena sudah punya gagasan. Dua hari yang lalu sang kancil telah membuat top[eng yang menyerupai dirinya. Bukan topeng sembarangan, bahanya terbuat dari kayu yang sangat keras. Sehingga bila dipakai, Raja Babi akan sulit mengenalinya, apakah dia memakai topeng apa tidak. Malam itu kancil sengaja beristirajhat untuk mengupulkan kekuatanya dan memperhalus topengnya agar persis dengan wajahnya. Setelah fajar menyingsing, semua binatang sudah mulai berkumpul di tempat pertandingan. Mereka semua ingin menyaksikan pertandingan yang sangat langkah itu. Sorai-sorai pun segera mengema saat Raja Babi tiba ditempat itu lebih dahulu. Tak lama kemudia sikancil pun juga telah tiba. Sekali lagi sorai-soari dan tepuk tangan dari para penonton membuat suasana kian semarak. “Hidup Raja Babi,….! Hidup Sikancil…! Teriak penonton mengelu-elukan keduanya. Setelah diberikan aba-aba oleh sang gajah, mulailah pertandingan itu. Raja Babi langsung mengeram dan menyambar sikancil dengan moncongnya. Si kancil tidak berkelit, tapi dengan tenang menyambut sambaran Raja Babi. Mula-mula kancil terlempar beberapa depan oleh serudukan si Raja babi. Namun dia segera bangkit lagi dan menantang si raja Babi. Sementara si Raja Babi merasa kesakitan yang amat sangat dengan moncongnya tak disangkah kepala kancil sangat keras. Karena penasaran Raja Babi menyeruduk lagi. Kancil terlempar namun segera bangun dan menantang lagi. Lama-lama moncong si Raja Babi lecet dan rusak disana-sini, sementara si kancil tetap segar dan bangikit menantang. Raja babi merasa moncongnya menjadi sakit sekali, akhirnya dia tidak sanggup lagi meneruskan pertandingan. Sehingga si kancil dinobatkan sebagai pemenang dan Raja Babi harus mengakui bahwa kancil lebih kuat dari dirinya.
Diterbitkan di: 23 Desember, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.