Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Gong Nabi Sulaiman

.

Gong Nabi Sulaiman

Summary rating: 3 stars 4 Tinjauan
Pengarang : Cerita Kancil
Summary by : Dongeng
Kunjungan : 147  kata: 900   Diterbitkan di: Desember 23, 2007
Di tengah hutan, terdapat sebuah pohon
rindang. Daunnya subur, cabang- cabang dan rantingnya sangat banyak.
Di pohon itu ada banyak sekali tawon hutan yang bergerombol membuat
rumah. Dari hari ke hari semakin bertambah banyak jumlah tawon
tersebut, sehingga ketika tawon- tawon itu bergerombol di sekitar
sarangnya, kelihatan seperti sebuah benda hitam yang sedang
bergantung di ranting pohon.
Ketika terik matahari begitu panas
menyengat, si kancil berlari- lari kecil menuju pohon rindang itu.
Rupanya ia ingin berteduh sambil melepaskan lelah. Sambil duduk
termenung bersandar di akar pohon, si kancil menatap suasana
sekitarnya. Ia merasakan sejuknya berada di bawah pohon tersebut.
Saat mendongak ke atas, tiba- tiba
matanya yang tajam melihat ada benda yang bergantung di ranting
pohon, tepat diatas kepalanya. Cukup lama ia diam sambil terus
mengawasi benda hitam tersebut, hingga akhirnya ketika ada beberapa
tawon yang berterbangan dan hinggap pada benda itu, ia baru
mengetahui bahwa benda yang bergantung itu tidak lain adalah tawon
yang sedang bergerombol.
Yakin benda itu adalah sarang tawon
yang cukup besar, dalam hatinya ia ingin sekali menikmati madu yang
ada di dalamnya, “tapi bagaimana cara mendapatkan madunya? Bila
diambil begitu saja, pasti tawon- tawon itu akan menyengatku.”
Cukup lama si kancil berpikir untuk
menemukan cara yang dianggapnya paling tepat untuk mengambil madu.
Pada saat yang sama tiba- tiba dating srigala. Air liur serigala
keluar dari sela- sela giginya yang tajam begitu melihat tubuh kancil
yang kecil dan mulus.
“hem, pastilah dagingmu sangat lezat
untuk makan siangku, kancil” gumam srigala.
Kancil gemetar ketakutan, namun hewan
cerdik ini menyembunyikan rasa takutnya.
“oh, kamu srigala!” sahut kancil
“agaknya kamu kelaparan siang ini.”
“benar cil! Dan relakan dirimu untuk
kumakan.”
“berarti kau akan membunuhku?”
“itu sudah jelas!”
“tapi tunggu dulu…. kau harus
dengar kata- kataku.”
“apalagi cil. Aku ini sudah sangat
lapar, dari kemarin belum makan sama sekali.”
“aku di sini sedang menjalankan
tugas!” kata kancil setelah sekian detik menemukan gagasan untuk
menyelamatkan diri.
“tugas apa itu, cil?” Tanya srigala
penasaran.
“ini…. Aku di suruh oleh Nabi
Sulaiman untuk menjaga gongnya.”
Srigala terkejut. “apa? Kamu di suruh
menjaga gongnya Nabi Sulaiman!? Di mana gong itu?”
“itu…!” jawab kancil sambil
menunjuk benda yang tergantung di ranting pohon.”gongnya itu milik
Nabi Sulaiman. Sedangkan beliau sekarang sedang pergi!”
“apakah kamu sudah pernah
mendengarkan bunyi gong itu, cil?” Tanya srigala.
“oh…., tentu kawan!” jawab
kancil.”bunyinya sangat merdu sekali.”
“coba kamu pukul cil! Aku ingin
mendengarnya,” pinta srigala.
“oh…,jangan…jangan…! Sekali-
sekali jangan di pukul, nanti aku mendapatkan marah dari baginda Nabi
Sulaiman. Aku tidak mau di hukum karena melanggar perintah…”
“Cuma sekali saja cil, masak kamu
tidak mau!?” desak srigala.
“tidak… saya tidak mau!” jawab
kancil menolak.
“kalau begitu biarkan aku sendiri
yang memukulnya,” pinta srigala.
“kamu juga tidak boleh tanpa ijin
Nabi Sulaiman.”
“lho? Kamu jangan macam- macam, cil.
Kalau kamu tak membiarkan aku memukul gong itu maka sekarang juga kau
kuterkam.”
“jangan dong!”
“jadi biarkan aku memukulnya.”
“wah gawat!”
“gawat gimana? Apa maksudmu?”
Kancil berkata lirih,” sebenarnya
gong ini bukan hanya bersuara merdu, tapi siapa yang memukulnya dan
mendengar suaranya akan di takuti semua binatang lain. Artinya ia
akan menjadi raja di hutan ini.”
Mendengar keterangan itu srigala makin
penasaran. Ia mendengus dan siap menerkam kancil.
Kancil ketakutan agaknya srigala tidak
main- main. “baiklah kalau kamu tetap memaksa kawan! Tapi tunggu
dulu! Karena aku tidak ingin kena hukum Nabi Sulaiman, maka aku harus
pergi dulu. Baru setelah aku pergi jauh kamu boleh memukul gong itu.”
“aku setuju cil!” jawab srigala.
“kalau begitu cepatlah kamu meninggalkan tempat ini.”
“selamat tinggal kawan! Semoga kamu
bisa menikmati merdunya suara gong itu,” kata si kancil.
Si kancilpun kemudian bergegas pergi
meninggalkan tempat itu. Namun tanpa sepengetahuan srigala. Ia hanya
bersembunyi di balik semak- semak. Ia menunggu apa yang akan di
lakukan oleh srigala.
Setelah mengira si kancil pergi cukup
jauh. Srigalapun kemudian mengambil ranting kayu kering yang
bergeletak di tanah, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia segera
mendekati benda hitam itu tanpa mengamat- amati terlebih dahulu dan
langsung mengayunkan ranting tersebut. “buk..! buk..!” dua kali
srigala memukulnya dengan keras. Saat itulah gong yang tak lain
adalah tawon yang bergerombol itu langsung mendengung marah.
Srigala terkejut bukan main. Dia baru
menyadari bahwa yang dipukulnya bukan gong, tetapi rumah tawon.
Tawon- tawon itu dengan ganasnya menyerbu srigala.
“kancil keparat kau menipuku!”
teriak srigala kesakitan karena disengat puluhan tawon.
Ia langsung lari meninggalkan tempat
itu. Ia tak ingin di sengat lebih banyak lagi oleh tawon- tawon hutan
yang sangat ganas tersebut.
Si kancil yang bersembunyi di balik
semak- semak hanya tertawa kecil melihat apa yang dialami oleh
srigala. Dia sangat senang karena keinginannya untuk mendapatkan madu
tawon, sebentar lagi akan terwujudkan. Sebab setelah rumah tawon
tersebut dipukul oleh srigala, banyak sekali madunya yang berceceran
di tanah. Sesaat setelah tawon- tawon itu tenang kembali, mulailah si
kancil mendekati tempat itu dan menyantap madunya yang sangat lezat.
Sedang asyik- asyiknya menyantap madu.
Tanpa di sadari oleh si kancil, ada seekor tawon yang hinggap di
hidungnya dan menyengatnya. “aduh…!” teriak si kancil sambil
melompat- lompat kesakitan.
Si kancil merasakan kesakitan yang luar
biasa. Sambil menahan sakit, ia pun bergegas pergi meninggalkan
tempat itu.

Ringkasan lain tentang Gong Nabi Sulaiman
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------