Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > HAKIM YANG CERDIK

.

HAKIM YANG CERDIK

Pengarang : Cerita Kancil
Summary by : Dongeng
Kunjungan : 97  kata: 900   Diterbitkan di: Desember 23, 2007
Ditepi hutan yang subur
ada sapi betina, sapi jantan dan anak mereka seekor sapi yang baru
menanjak remaja.
Pemandangan tepi hutan
yang indah dan rumput yang hijau subur membuat mereka gembira.
Anak sapi berlarian ke
sana ke mari.
“Bu saya mau jalan ke
tepi sungai.”
“Boleh tapi jangan
jauh-jauh, ya!” kata bu sapi.
“iya bu….!”
Sapi muda itu berjalan ke
tepi sungai, ia melihat berbagai hewan kecil di sekitar sungai.
Hatinya merasa senang saat
melihat katak berloncatankian kemari.
tak terasa ia sudah sangat
jauh meninggalkan tempat kedua orang tuanya.
“Tolooooong…!”tiba
tina ia mendengar suara merintih.
Aih, di depan sana ada
seekor buaya sedang tertindih pohon yang patah.
“Tolong, tolonglah
aku…..”rintih buaya dengan suara memelas.
“Kau ini kenapa pak
Baya?”Tanya sapi sambil mendekat.
“Aduh sapi yang baik,
sudah dua hari aku tertindih kayu besar ini.”
“Siapa yang menindihmu
Pak Baya?”
“Gara-gara gempa bumi
dua hari yang lalu. Sekarang tolonglah aku sapi yang baik.”
“Ah, kurasa aku tak bisa
menolongmu.”kata sapi.
“Lho? Kenapa Kau pasti
kuat mendorong kayu yang menindihku ini.”
“Kuat sih kuat, tapi….”
“kenapa?”
Sapi teringat akan pesan
ibunya bahwa bangsa buaya tidak bisa dipercaya, mereka licik sekali.
Suka makan daging hewan lainya.
“Tidak, aku tidak akan
menolong.”kata sapi.”kalau kau kutolong jangan-jangan nanti kau
akan memangsaku.”
“Jangan kuatir, aku
tidak akan melukaimu.”
“Tidak! Aku tak bisa
mempercayaimu.”
“Oh, sapi yang baik,
apakah kau tidak kasihan padaku, sudah dua hari akau tersiksa begini,
tak bisa makan tak bisa minum, dada terasa sesak.
“Tapi kau binatang
jahat!”potong sapi.
“Oh, sapi yang baik, itu
kan dulu. Setelah tertindih kayu begini aku sadar bahwa aku
memerlukan hewan lain, maka sekarang aku bertobat, tidak akan memakan
hewan lain kecuali hewan itu telah mati sendiri. Aku tobat, tolonglah
aku, huk..huk..huk…”
Rayuan buaya sembari
mengeluarkan air mata.
Sapi mudah terpengaruh.
Lama-lama ia merasa kasihan juga.
“baiklah aku akan
menolongmu, tapi janji ya jangan mencelakakanku.”
“iya aku janji,
percayalah.”
Lalu sapi berusaha
mendorong kayu itu sekuat tenaganya, dan akhirnya plong! Buaya
terlepas dari tindihan kayu.
Tapi…astaga! Begitu
terlepas dari tindihan kayu buaya itu lansung meloncat kepunggung
sapid an menerkam punuk si sapi.
“Aduh…!”pekik sapi
kesakitan. “kanapa kau mengigit punukku?”
“Lho? Aku kansudah minta
tolong kepadamu, bahwa aku tertindih kayu selama dua hari, tidak
makan dan tidak minum. Sekarang kau harus menolongku bebas dari rasa
haus da lapar.”
“Dengan memakan
dagingku?”tukas sapi.
“Betul, sekaligus
menghirup darahmu.”
“Dasar buaya licik, tak
tahu balas budi!”
“Sudah sapi mudah yang
bodoh! Sergah buaya. “Terimalah nasibmu.”
“Tidak! Ini tidak adil!”
teriak sapi.
“Lho? Ini sudah hokum
rimba, siapa yang kuat dia yang menang.”
“Tidak aku tak bisa
terima.”
“kau bisa bertanya pada
mahluk yang lain, boleh benda apa saja, pasti mereka akan
membenarkanku.”sahut buaya.
“Ya, aku akan minta
keadilan pada yang lain.”kata sapi.
Kebetulan saat itu ada
tikar lapuk hanyut di sungai. Sapi menceritakan kejadianya yang
menimpanya dan meminta pendapat tikar lapuk. Apa jawabnya?
“Itu sudah benar,
terimalah nasibmu. Aku juga mengalaminya, ketika keadaanku masih baru
aku dipakai, jika kotor dibersihkan tapi setelah lapuk dan banyak
yang bolong aku dibuang kesungai begitu saja.”
“Nah, benar kan kataku.”
Sahut Buaya.
“Tidak, nah itu ada
keranjang hanyut. “ protes sapi. Tapi ketika keranjang itu Tanya
jawabnya persis seperti tikar.
“Ketika masih baru dan
utuh aku dipakai, kini setelah rusak aku dibuang kesungai begitu
saja.”
“Nah benarkan?” Sahut
buaya.
Tiba-tiba ada seekor bebek
betina tua berenang, sapi dan buaya meminta pendapat bebek.
“Kukira buaya benar,
sebab manusia juga kejam, ketika aku masih mudah dan bisa bertelur
aku dipelihara, sekarang ketika aku sudah tua,aku ini mau disembeli,
untungnya aku bisa melarikan diri, jadi tirulah perbuatanmanusia,
mereka mau enaknya sendiri.”
“hohoho… mau mengadu
ke mana lagi kau sapi.”
Saat itu kebetulan kancil
lewat di depan buaya dan sapi. Kali ini buaya yang meminta pendapat
kancil. Ia yakin kancil juga akan membenarkan pendiriannya.
“kalau aku diminta
menjdai hakim, aku harus tau dari awal kejadiannya.” Kata kancil.”
Apakah kalian keberatan jika mengulang awal kejadian yang kalian
alami?”
“tidak! Aku tidak
keberatan.” Sahut buaya. Maka dilakukanlah pengulangan itu. Buaya
kembali ke tempatnya semula sapi mengembalikan kayu besar ke punggung
buaya.
“benarkah kejadiannya
seperti ini?” Tanya kancil.
“benar!” jawab sapi
dan buaya bersamaan.
“lalu pak baya
memanggilku agar aku mau menolongnya.” Sahut sapi.
Kancil mendekati sapi lalu
berbisik lirih. “ayo kita tinggalkan buaya jahat ini.”
Sapi baru sadar inilah
kesempatan baginya lolos dari bahaya maut. Tanpa basa basi lagi sapi
mengikuti lari arah kancil yang sudah meloncat lebih dahulu.
“hei… tungguuu…!
Jangan pergi dulu…!” teriak buaya. Tapi sapid an kancil tak
menghiraukannya. Makanya jangan terlalu rakus dan tak tahu balas budi
akibatnya bisa celaka sendiri.

Ringkasan lain tentang HAKIM YANG CERDIK
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------