• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>SDM PERTANIAN DAN INDUSTRIALISASI

.

SDM PERTANIAN DAN INDUSTRIALISASI

oleh : StefanSikone    

Pengarang : Drs. Stefan Sikone, MM
SUMBER
daya manusia Manusia (SDM) merupakan suatu "modal" penting
bagi pembangunan nasional Indonesia disamping
modal dasar yang lain.
Terutama dalam bidang pertanian perlu diakui bahwa di satu pihak
sumber daya kita di tanah air memang sangat besar potensinya. Fakta
bahwa negara kita dikenal sebagai negara agraris yang mana mayoritas
(hampir 80%) penduduknya adalah para petani. Sementara areal
pertanian kita juga cukup luas. Bila potensi seperti ini benar-benar
digunakan secara efisien, maka negara kita tidak mengalami krisis
ekonomi yang berkepanjangan sebagaimana yang kita alami sekarang ini.
Akan tetapi di lain kita tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa
kesiapan SDM kita masih sangat memrihatinkan. Dari segi pendidikan,
kebanyakan SDM kita belum memiliki dan wawasan yang cukup memadai.
Hal terkait dengan sistem pendidikan kita sekarang ini yang masih
berorientasi untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang siap pakai
memasuki dunia kerja berupah, bukannya untuk menghasilkan "pengusaha"
atau untuk menjadi "bos" bagi dirinya sendiri, dalam hal
ini menjadi petani yang profesional.
Berhubungan
dengan sumber daya manusia (SDM) kita yang memiliki banyak kelemahan
dalam bidang pertanian inilah maka para petani kita hingga saat ini
masih mengalami kesulitan yang sangat besar mengakses pasar, modal,
teknologi, manajemen pertanian yang profesional. Bila tidak dapat
dibenahi maka ke depan kita tidak dapat bersaing dengan para
"pengusaha" dari luar yang nota bene sudah berpengalaman
dan memiliki semangat kerja yang tinggi termasuk dalam mengelola
bidang pertanian ini. Maka sudah seharusnya menjadi tanggung jawab
masyarakat dan pemerintah untuk membentuk dan memaksimalkan semua
potensi SDM pertanian ini sehingga kita semua dapat berpartisipasi
dalam pembangunan nasional sekarang ini.
Pemberdayaan
pertanian
Pemberdayaan
SDM pertanian yang profesional bertujuan untuk membebaskan petani
dari belenggu keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan yang berada
di sektor pertanian agar dapat hidup sesuai dengan harkat dan
martabat kemanusiaan. Strategi pemberdayaan merupakan dasar yang kuat
bagi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development),
khususnya dalam mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang
(opportunity) pada abad globalisasi sekarang ini.
Optimalisasi
pengembangan potensi SDM pertanian harus dilakukan secara
berkesinambungan dan berkelanjutan seiring dengan dinamika
perkembangan zaman dengan berbagai penerapan teknologi pertanian
modern. Dalam suasana dinamis itu tentunya segala sesuatu harus lebih
baik dari apa yang telah dilakukan dari pertanian tradisional yang
bersifat subsisten menuju pertanian modern yang bersifat komersial.
Dan apa yang dilakukan harus lebih baik dari apa yang sedang
dilakukan saat ini, sehingga senantiasa ada peningkatan secara
berkelanjutan khususnya di sektor pertanian itu sendiri. Dalam hal
ini diperlukan inventarisasi atas apa yang telah dicapai, tantangan
apa yang harus di hadapi dan sasaran apa yang hendak di peroleh (Bdk
Harly Agung, 1977).
Upaya
pemberdayaan para masyarakat petani baik di tingkat nasional maupun
lokal dapat diaktualisasikan melalui tiga sisi yaitu: pertama,
menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan (kondusif) potensi
masyarakat berkembang. Kedua, memperkuat potensi atau daya saing yang
dimiliki masyarakat; dan ketiga, memberdayakan mengandung arti
melindungi kelompok yang kuat dan mencegah terjadinya persaingan yang
tidak seimbang atau tidak sehat, serta eksploitasi yang kuat atas
yang lemah (Bdk, Ginanjar Kartasasmita, 1997).
Dengan
demikian strategi pemberdayaan SDM pertanian bukan hanya berkaitan
denagan persoalan ekonomi semata, melainkan juga menyentuh sekaligus
dua aspek, yaitu aspek sosial dan aspek budaya. Pemberdayaan tidak
saja menumbuhkan dan mengembangkan nilai tambah sosial dan nilai
tambah budaya. Karena pendekatan yang digunakan haruslah pendekatan
partisipatif, yaitu dengan melibatkan dan mengikutsertakan para
petani kita secara langsung dalam proses pembangunan.
Strategi
pemberdayaan menempatkan patani bukan sebagai obyek tetapi sebagai
subyek pembangunan. Para petani yang merumuskan ide, menetapkan
sasaran, merancang dan menempatkan inisiatif dan prakarsa mereka
sendiri. Karena di satu pihak petani adalah pelaku pembangunan,
sementara di pihak lain, baik pemerintah atau lembaga yang ingin
turut membantu, hanyalah sebatas sebagai stabilisator dan dinamisator
saja.
Pemberdayaan
SDM pertanian bukan membuat petani makin bergantung pada
program-program pemberian melainkan bersifat kemitraan. Karena tujuan
akhirnya adalah memandirikan masyarakat petani dan pembangunan
kemampuan untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik
secra berkesinambungan. Melalui pemberdayaan para petani akan
memiliki keyakinan yang lebih besar akan kemampuan dirinya. Pemberian
SDM pertanian selain menyelesaikan masalah kemiskinan juga akan
membawa masyarakat ke dalam era baru memasuki kehidupan pertanian
modern. Para petani akan meninggalkan kebiasaan lama yang tradisional
(subsisten) yang tidak relevan dan menghambat kemajuan kehidupannya,
menanamkan nilai pertanian modern (komersial) seperti kerja keras,
hemat, disiplin, keterbukaan, kebertanggungjawaban dan kemampuan
menghadapi persaingan global adalah bagian pokok upaya memberdayakan
SDM pertanian tersebut. Pemberdayaan petani membuka pada proses
akulturasi yaitu perpaduan nilai-nilai baru dengan lama yang
menggambarkan, jati diri suatu masyarakat.
Diterbitkan di: Desember 22, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.