Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Telaga Bidadari

.

Telaga Bidadari

Summary rating: 3 stars 4 Tinjauan
Pengarang : Cerita Rakyat
Summary by : Dongeng
Kunjungan : 248  kata: 600   Diterbitkan di: Desember 20, 2007
Dahulu
kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma.
Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun
melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah
pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun
dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi
penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma
berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang
jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang
dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga
hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata
hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.
Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup
serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela
tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga.
Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik
sedang bermain air. "Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang
Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang
diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan
untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang
tersebut terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik
untuk mendapatkan selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma. Mendengar
suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang
masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata
ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah
ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera
keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri, hamba akan
menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu
Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang
Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain
untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma. Datu
Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga
dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang
tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi
suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang
cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma
sangat bahagia. Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik
ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri
Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada
sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa
kira-kira isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri
Bungsu terkejut dan berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri
Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan
jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada
suaminya. Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk
kembali ke kahyangan. "Kini saatnya aku harus kembali!," katanya dalam
hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong
bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung
mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu
menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa
perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda, dinda mohon peliharalah
Kumalasari dengan baik," kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma."
Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak
kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke
dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan
seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri
Bungsu. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan
seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menap sedih dan
bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang
dia anggap membawa malapetaka. Pesan moral : Jika kita
menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita
tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena
suatu saat kita akan mendapatkan hukuman.

Ringkasan lain tentang Telaga Bidadari
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------