Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Joebaar Ajoeb Budayawan Teluk Dan Gunung

.

Joebaar Ajoeb Budayawan Teluk Dan Gunung

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 105  kata: 900   Diterbitkan di: Desember 15, 2007
Joebaar Ajoeb Budayawan Teluk Dan Gunung
 
 
Oleh: A.Kohar Ibrahim
 
 
SURAT Joebaar Ajoeb tersebut saya turunkan untuk edisi Majalah Sastra dan Seni KREASI N° 27, Desember 1996. Dalam rangka Hommage atau Mengenangnya. Dengan juga menurunkan karya tulisnya sendiri berjudul “Orde Baru, Krisis dan LSM”; tulisan Sobron Aidit dan catatan dari saya sendiri.
 
“Joebaar Ajoeb lahir pada tanggal 26 Februari 1926 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, telah meninggal dunia pada tanggal 13 Oktober 1996 di Bandung,” demikian baris pertama  catatan saya berjudul “Mengenang Pekerja Kebudayaan Terkemuka Joebaar Ajoeb”. Seorang pejuang dan pembina kebudayaan rakyat serta demokrasi ini telah mengalami penghinaan, penindasan dan penderitaan amat berat di bawah rezim Orde Baru, akhirnya tak berdaya menghadapi penyakit kangker levernya.
 
Dibandingkan dengan karya tulisnya yang tak banyak itu, pemikirannya dan aktivitas lainnya selaku cendekiawan dan pekerja kebudayaan Indonesia cukuplah besar. Maka jika diperhatikan jejak langkahnya sejak masa muda hingga usia tujuhpuluh tahun, tak bisa disangkal bahwa Joebaar Ajoeb adalah salah seorang pekerja kebudayaan rakyat Indonesia yang terkemuka.
 
Joebaar Ajoeb adalah penulis esai, penterjemah dan pengamat kebudayaan. ia salah seorang pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat, untuk selanjutnya sejak 1956 menjadi Sekretaris Umumnya. Tahun 1959, ia diangkat Presiden Sukarno menjadi anggota DPR-GR/MPRS RI, mewakili kalangan fungsional cendekiawan dan berada dalam Fraksi Golkar. Sebelumnya ia pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Pemuda Dep. P dan K RI, Anggota Dewan Penasihat Siaran Radio Dep. Penerangan RI, Anggota Dewan Film Dep. Penerangan RI. Ia pernah salah seorang Sekretariat Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) di samping Trisno Sumardjo dan Anas Makruf, yang kemudian bersama Asrul Sani, Henk Ngantung, Rivai Apin dan Sitor Situmorang, Boejoeng Saleh dan Mochtar Lubis mendirikan Masyarakat Seniman Jakarta Raya (MSDR).
 
Ia juga anggota Himpunan Pengarang Asia-Afrika di Indonesia yang diketuai Pramoedya Ananta Toer dan bersama Sitor Situmorang, memimpin Delegasi Pengarang Indonesia ke Sidang Komite Eksekutif Himpunan Pengarang Asia-Afrika di Tokio (1961) dan Bali (1962) bersama Utuy Tatang Sontani, Dodong Djiwapradja dan Rivai Apin. Kemudian giat di Biro Laporan Umum Konferensi Pengarang Asia-Afrika ke 2, 1963 di Kairo, di samping Wakil Ketua Delegasi Pengarang Indonesia di konferensi tersebut.
 
Ia juga menulis drama bersanjak seperti “Siti Jamilah” (sebuah cerita rakyat Minangkabau), menulis kritik sastra dan esai antara lain “Idrus dan Surabaya”, “Seni Untuk Rakyat” sebuah polemik dengan penyair Haryadi S. Hartowardoyo dan Putu Shanti di “Gelanggang” majalah Siasat, “Belenggu Armijn Pane”, “Realisme Kita Dewasa ini”, “Kritik Atas Kumpulan Sajak Nasi dan Melati” penerbitan LEKRA Surabaya dan lain sebaginya di samping pernah Wakil Pemimpin Redaksi HR Sport dan Film. Tahun 1990 ia menulis ebuah esai berjudul “Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia” dan pada tahun 1992 menulis “Gerhana Seni Rupa Indonesia” serta yang terakhir adalah “Orde Baru, Krisis dan LSM” (1996).
 
Sesudah tahun 1980-an ia giat menterjemah. Di antara terjemahan tasawufnya berwujud buku antara lain adalah “Annal Haq Mansur Al Hallaj” (dikerjakan bersama panyair HR Bandaharo), “Sufi Martir”, “Filsafat Parsi Moh. Iqbal”. Terjemahan lainnya, “Tentang Yerusalem” (sebuah tinjauan hukum internasional dan politik). Buku lain yang pernah ia terjemahkan diantaranya, “Industri dan Perdagangan di Indonesia”, “Aceh di Jaman Jepang”, “Harta Waris Orang Minangkabau” (sebuah penelitian antropologi hukum), dan perihal peradilan di Minangkabau “Kepingan Jenjang ke Mufakat”.
 
Joebaar Ajoeb telah meninggal dunia, tulis saya pada ujung alinea Catatan tersebut dengan petikan biodatanya dari “GerhanaSenirupa Indonesia”. Namun jejak langkahnya tergores dalam lembaran sejarah, jasa dan teladannya tak terlupakan oleh mereka yang cerah.
 
Betapa tidak? Meski dikucilkan dan dihinakan oleh kekuasaan OrBa sekalian budayawan dan seniman serta pengarang yang masuk dalam kantong sang penguasa, namun dia tetap mempunyai teman atau sahabat baik dari dalam maupun luarnegeri. Seperti yang  dijelas-tegaskan oleh Sobron Aidit dalam catatannya berjudul “Joebaar Ajoeb” yang saya turunkan untuk Kreasi nomor 27 itu.
 
“Mereka ada yang datang dari Jepang, Australia, Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan lain-lain – selaku pakar atau pekerja sosial budaya,” jelas Sobron. “Apakah yang dicari para tamu Ajoeb itu? Ada teman yang mengatakan bahwa Ajoeb adalah nara-sumber buat bertanya ini dan itu. Dianggapnya Ajoeb itu adalah musium hidup, banyak tahu dan selalu menjawab pertanyaan. Dan jawabannya itu bukan asal jawab, tapi sanggaup membantu mencarikan bukti dan penelitian obyektip. Aku menamakannya Ajoeb itu adalah Gunung dan Teluk. Adat Gunung timbunan awan, adat teluk timbunan kapal. Gunung itu tempat di mana awan berkumpul di sekitar; dan Teluk tempat kapal-kapal berlabuh, terhindar dari badai, tempat menambatkan kapal dan perahu, mencari hal hal yang diperlukan. Itulah Joebaar Ajoeb. Dan ini kulihat, kurasakan sekaligus juga sebagai pencari sesuatu di dekatnya, di sekitarnya dan darinya sendiri!”
 
Demikian antara lain kesaksian Sobron Aidit akan apa-siapa dan bagaimana sosok tokoh budayawan Indonesia yang selain salah seorang pendiri Lekra juga sebagai Sekretaris Umumnya. Hanya untuk mempertebal keyakinanku akan kebijaksanaannya selaku pimpinan gerakaan kebudayaan rakyat yang layak dihormat dan diteladani. Karena ke-integritas-annya. Karena satunya kata dengan perbuatan. *** (15.12.2007)
 
 

Ringkasan lain tentang Joebaar Ajoeb Budayawan Teluk Dan Gunung
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------