Adalah seorang pemuda miskin bernama richard.
Dia hidup sebatang kara, luntang lantung di jalanan. Dia cerdik dan agak
kurang
jujur- tapi sinar matanya yang ramah dan senyumnya yang menawan membuat orang
mengabaikan tabiatnya yang buruk.
Raja mendengar tentang tingkah richard.
Diutusnya pengawal memanggilnya.
“kau seharusnya kupenjarakan karena telah
melanggar hukum,” kata baginda. “tapi jika kau bersedia melakukan apa yang
kuperintahkan, aku akan mengampunimu.”
“baiklah yang mulia,” sembah richard. “apa
perintah paduka?”
Raja berkata, bahwa ada seorang
tukang sulap
tinggal di perbukitan. Dia punya seekor kuda yang bisa terbang. Richard di
perintahkan untuk mencuri kuda itu.
“dalam dua hari, kuda itu sudah akan menjadi
milik paduka,” sembah richard yakin.
Dia segera berangkat ke rumah si tukang sulap
dan malamnya mengendap- endap masuk ke kandang kuda. Di daerah itu, kandang
terletak di kolong rumah panggung. Tukang sulap tidur di kamar, diatas kandang,
richard mencoba memasang pelana, tapi si kuda meringkik keras- keras.
“jangan berisik, kuda tolol!” teriak ahli
sulap.”aku mau tidur!”
“kau tentu tidak kerasan tinggal bersama orang
galak itu,” bisik richard pada si kuda. Kuda itupun mengikuti richard ke istana
raja. Raja gembira, tapi segera memberi perintah baru yang lebih sulit.
“ambilkan taplak meja milik istri tukang
sulap,” kata baginda.
Richard kembali ke rumah tukang sulap. Istri
tukang sulap sedang menyulam, duduk dekat meja bertaplak indah.
“kulihat suamimu di keroyok serigala di lembah
sana,” kata richard.
Tentu saja itu bohong. Tapi istri tukang sulap
kuatir, lalu cepat- cepat meninggalkan rumah untuk menolong suaminya. Richard
cepat- cepat menggulung taplak meja yang indah itu. Taplak meja yang sangat
berharga karena terbuat dari kain emas.
“bagus,” senyum raja. “sekarang tangkap tukang
sulap itu dan bawa kemari. Aku bisa menggunakan keahliannya.”
Richard menyamar dan sekali lagi pergi ke
rumahtukang sulap. Dia minta izin untuk numpang berdiang di depan perapian yang
hangat.
Sambil bercerita dia melihat sekeliling
ruangan, memikirkan akal untuk menjebak si tukang sulap. Dia melihat sebuah
peti besar. “untuk apa peti itu?” tanyanya.
“ada maling mencuri kudaku dan taplak meja
milik istriku,” kata tukang sulap. “jika tertangkap akan kumasukkan ke dalam
peti.”
Richard tertawa mengejek. “peti itu terlalu
kecil. Kau pun tak akan bisa masuk ke dalamnya.”
“bisa saja,” bantah tukang sulap. Dia masuk ke
dalam peti untuk membuktikan kata- katanya.
Cepat- cepat richard memaku tutup peti, lalu di
gotongnya peti itu ke istana. Raja puas sekarang. Dia mengampuni semua
kesalahan richard. Dia diberi hadiah beberapa kantung uang emas. Tukang
sulap-dengan keahliannya itu- mengabdi raja. Istrinya pun diajak hidup tinggal
di istana.
Semua puas. Semua berakhir dengan baik.