Dahulu dicina, orang harus
tinggal di biara
jika ingin menjadi
pendeta. Hidup menyepi, menjahui dunia.
Terpencil dalam sebuah lembah
sunyi,dikelilingi
kebun yang rapi dan terawat,adalah sebuah kuil.
Pendeta-pendeta yang tinggal dalam kuil
itu hidupnya tenang. Dunia yang mereka ketahui, hanyalah dunia sekitar kuil.
Tahun-tahun berlalu dalam damai.
Lalu terjadilah perubahan.
Seoarng pemuda dikirim ayahnya kekuil itu. Dia
haruslah belajar menjadi pendeta. Tapi, pemuda itu tidak suka. Dia suka membual
tetntang rumahnya yang megah, bajunya yang
indah-indah, dan tentang
kawan-kawanya yang berdagang sampai kenegri yang jauh—jauh.
Mendengar ceritanya, kehidupan didalam kuil
serta kebun yang indah terasa membosankan.
Si pemuda selalu berusaha agar ia di izinkan
pulang oleh ayahnya. Kuil yang damai itu berubah sudah. Pendeta-pendeta yang
masih mudah mulai gelisa.
Akhirnya hanya tinggal lima pendeta yang betah
tinggal dikuil itu.Itupun karna mereka tak punya sanak-saudara. Mau pulang
kemana? Kuil adalah satu-satunya rumah yang mereka kenal.
Suatu hari ketika mereka duduk –duduk dalam
kebun, mereka melihat burung
emas terbang mendekat. Kebun kuil sekarang nampak
tak terawat.
Tiba-tiba jatulah lima helai benang emas dari
cakar burung itu. Masing-masing pendeta menangkap sehelai. He... mereka tak
dapat melepaskanya lagi!
Para pendeta harus mengikuti kemanapun burung
ajaib itu terbang.
Mereka dibawa mengelilingi dunia. Kaki-kaki
melangkah bagaikan terbang. Mereka melihat rumah-rumah yang indah, kehidupan
mewah, tapi juga melreka melihat perang, penderitaan, kelaparan. Bertahun-tahun
kemudian, siburung emas mebawa mereka kembali kekuilnya. Dengan lega mereka
memandang sekeliling kebun kuil. Lebih baik hidup tentram dan damai dalam kuil
terpencil ini,dari pada menetang bahaya didunia luas.
Ringkasan lain tentang Burung Emas