Beribu tahun yang lalu, hidup seekor naga
raksasa berwarna merah.
Dia sudah bosan hidup di bumi.
Dikumpulkannya binatang-
binatang lain,
dan berkata pada mereka.
“bumi ini
tak aman lagi,” katanya. “manusia akan memburu dan membunuh kita. Di
balik awan ada sebuah temapt yang aman dan indah. Manusia tak kan bisa pergi
ke sana. Naiklah ke punggungku. kuterbangkan kalian ke sana. “
Binatang- binatang berebut naik ke punggung
naga merah. Singa- raja hutan- tak ikut berdesakan pikirnya, sebagai raja tentulah
hina berdesakan begitu dengan rakyatnya.
Harimau tidak perduli akan usul naga merah.
Harimau suka pada hal- hal yang mendebarkan. Menurut dia, berkelahi dengan
manusia meskipun berbahaya tapi membuatnya puas.
Naga
merah segera sadar, tak mungkin dia
mengangkut semua binatang itu sekaligus.
“turunlah sebagian,” pintanya, “terlalu berat.
Aku tak kuat bangkit, apalagi terbang ke balik awan.”
Gajah melotot ke arah kuda nil. “hai kau harus
turun. Badanmu mirip karung jerami,” bentaknya.
Kuda nil marah “mau memang sendiri, ya,”
balasnya. “kayak yang badan nya seringan bulu saja.”
Jerapah tak mau kalah. “ kupikir badak yang
harus turun,” katanya. “ dia yang paling berat.”
“tapi aku yang paling dulu naik,” jawab badak
sengit. “ tidak adil kalau aku yang harus turun. Pokoknya... aku tak mau
turun.”
Buaya juga tidak mau mengalah. Dia melihat ke
sekelilingnya.
“serigala yang harus turun,” katanya. “ semua
binatang membencinya.”
Serigala balas membentak.
“ oh- kupikir kau yang paling tampan, ya?”
Hanya kupu- kupu yang tetap tenang.
“aku ikut rombongan kedua saja,” katanya
sambil terbang dari leher naga merah.
“bagus begitu dong dari tadi,” kata gajah
sambil memandang kupu- kupu mungil itu menjauh. “sudah ada yang turun. Ayo,
naga merah, kita berangkat!”
“Jangan menggerutu terus,” kata buaya. “Ya...
kau sendiri yang mengundang kami. Ayo cepat terbang!”
Naga merah menggeliat, mendengus, menggeram
dan akhirnya terbang. Sampai setinggi pohon, baru dia tahu, bebannya terlalu
berat. Dia sendiri akan jatuh terjerembab jika yang menunggangi punggungnya
tidak dijatuhkan.
Dia menggoyangkan punggungnya, dan
berjatuhanlah binatang-binatang itu. Untung jatuhnya ke rerumputan,
jadi tidak
terluka. Tapi, bagaimana mereka jatuh ke tanah waktu itu, telah membuat
perubahan bentuk tubuh yang besar. Yang sampai kini bisa kita lihat.
Buaya jatuh pada keempat kakinya. Kaki-kaki
itu mengkerut jadi pendek sekali. Gajah menarik nafas dalam-dalam, lalu
menghembuskannya kuat-kuat hingga hidungnya jadi panjang. Moncong kuda nil
terperosok ke dalam lumpur, jadi melebar. Segumpal lumpur menutupi matanya.
Matanya jadi sipit.
Leher jerapah terjepit dua batang pohon. Ular
melata dan kehilangan kaki-kakinya. Taring badak menembus hidungnya, berubah
menjadi cula.
Itulah sebabnya mengapa binatang-binatang jadi
seperti itu.
Bagaimana nasib si naga merah? Tak ada
seorangpun yang tahu persis.
Mungkin dia terbang jauh dan tak pernah
kembali lagi. Mungkin juga dia kembali ke bumi dan tinggal dalam gua di tengah
hutan yang belum terjamah. Suatu saat kelak, mungkin dia akan muncul lagi.
Pandanglah langit luas, kalau-kalau bisa melihat seekor naga merah
melayang-layang.
Ringkasan lain tentang Naga Merah