Irwin, Si Kepala Kuda
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
96
kata:
900
Diterbitkan di: Desember 11, 2007
Seorang tua tanah yang kaya raya mempunyai
rumah yang megah didaerah Brittany. Meskipun kaya, dia merasa sedih bila dia
memikirkan nasib putra tunggalnya, Irwin. Irwin adalah pemuda yang sehat dan
cerdas, tapi sayang... dia dilahirkan dengan kepala berbentuk kepala kuda.
Namun demikian, Irwin dibesarkan dan dididik
seperti umumnya manusia biasa. Ketika sudah dewasa, ayahnya menyuruhnya
menikah. Si ayah lalu pergi mengunjungi seorang petani yang punyai 3 anak
gadis.
Gadis sulung setuju menikah dengan Irwin karna
Irwin putra seorang tua tanah yang kaya raya.
“Setelah resmi menikah, aku akan membunuhnya
dengan demikian aku akan menjadi janda kaya,”pikir gadis sulung itu.
Hari pernikahanpun tiba. Keesokan
harinya,bukan mayat Irwin yang ditemukan orang
tetapi mayat si gadis sulung.
Irwin mengatakan pada ayahnya bahwa memang
sudah nasib gadis itu yang demikian.
“Aku hanya membela diri,Ayah,”kata Irwin.
Gadis tengah mendengar kabar bahwa kakaknya
meninggal karena sakit.
“Bagus, sekarang kesempatanku untuk menjadi kaya,”pikirnya.
Maka gadis tengah itu menikah dengan Irwin,
tetapi nasibnya sama saja dengan nasib kakaknya.
Sekarng tinggal sigadis bungsu. Dia tidak
ingin menbunuh Irwin. Dia bahkan mulai mencintai suaminya. Setahun kemudian
lahirlahseorang bayi yang sehat dan normal. Pasangan muda itu sangat bahagia.
Irwin sangat bangga. Diciumnya istrinya penuh
sayang, sambil berkata,”Besok pagi,jika anak kita selesai dibaptis, aku akan
terbebas dari kutukan. Tapi kekuatan sihirnya takkan hilang sebelum gema
lonceng gereja tak terdengar lagi. Jangan katakan kepada siapapun mengenai hal
ini sebelum upacara pembatisan itu benar-benar selesai.”
Tentu saja istrinya sangat gembira
mendengarnya. Dia berjanji tidak akan membuka rahasia Irwin sebelum gema lonceng
gereja hilang dari pendengaran. Tetapi janji lebih mudah diucapkan daripada
ditepati.
Keesokan harinya ibu mertua Irwin datang
menengok sang cucu. Upacara pembatisanpun berlangsung khusyuk. Lonceng gereja
berdentang-dentang. Ibu si bayi sangat bahagia. Sebentarlagi lonceng berhenti
berdentang,pastitakan berbahaya jika dikatakanya saja rahasia suaminya itu pada
ibunya.
Dia tidak bisa lagi menahab diri. Sebentar
lagi suaminya akan berubah menjadi manusia biasa.
Begitu ia selesai bercerita,terdengar lonceng
berdentang untuk terakhir kalinya. Dia telah melangar janjinya. Dia telah melanggar janjinya sebelum gema suara
lonceng hilang dari pendengaran.
Irwin menerjang masuk kamar tempat istrinya
duduk mengobrol dengan ibunya. Dia sangat kesal, kecewa, dan putus asa.
“Apa maksudmu berbuat seperti
itu,Marian?”geramnya. Marian adalah nama istrinya,”sekarang aku terpaksa
bertapa ditempat sunyi dan tetrkurung didalam kepala kuda seumur hidup.
“oh,maafkan akau,”tangis marian sambil
memeluk suaminya. Dengan kasar Irwin
mencampakan istrinya. Itu membuat marian terluka. Tiga tetes darah menitik dari
hidungnya dan menodai kemeja irwin.
Terdengar sebuah suara berseru,’buang
istri manusia kepala kuda itu kegunung
kristal.”
Entah dari mana, tiba-tiba muncul rajawali raksasa.
Burung itu mencakarnya dan membawanya terbang tinggi-tinggi... melintas lembah
dan laut sampai dikakii gunung kristal.
Marian yang malang dengan putus asa memandangi
salju licin di sekelilingnya dan sebuah rumah terpencil dipuncak gunung. Seekor
rubah merasa iba kepadanya. “Pegangilah ekorku,”katanya. “Aku akan menuntunmu
sampai ke rumah itu. Ada seorang pria malang tinggal disana. Kepalanya persis
kepala kuda.”
Mariam kaget. Pria itu pastilah suaminya.
Dengan bantuan rubah yang baik hati itu,
Mariam samapai ke rumah yang dituju. Tiga orang prempuan sedang mencuci sehelai
baju. Ada tiga titik darah menodai baju tersebut.
“Sulit sekali menghapus noda darah ini,”keluh
mereka. “tuan pasti akan marah kepada kita.”
“Biarkan akau mencobanya,”Kata marian. Sekali
Usap, bersilah baju itu. Tiga prempuan itu merasa senang, mereka menerima Marian sebagai pelayan di
rumah itu. Malamnya, Mariam bersembunyi di bawah tempat tidur suaminya.
Ketika Irwin
masuk ke kamar, dia keluar dari tempat persembunyian dan berkata,”Akulah
gadis yang telah menghapus noda darah dibaju tuan, tapi tidakakah tuan masih
mengenaliku?”
Dengan bahagia Irwin memeluk Marian. Seketika
itu juga kepala kudanya hilang. Dia berubah menjadi seorang pria muda yang
tampan. Kutukan telah musnah.
Paginya Mariam dan Irwin meninggalkan rumah
tua yang sepi terpencil dipuncak gunung kembali ke Brittany. Sejak itu mereka
hidup bahagia bersama anak mereka.